HUT Ke-184 Desa Ngabab, Pemkab Malang Siapkan Kebangkitan Kopi dan Kakao dari Lereng Pujon
Perayaan Hari Ulang Tahun (HUT) ke-184 Desa Ngabab, Kecamatan Pujon, tidak hanya menjadi ajang pelestarian budaya lokal. Pemerintah Kabupaten Malang juga menjadikan momentum tersebut untuk mendorong k
MALANG - Perayaan Hari Ulang Tahun (HUT) ke-184 Desa Ngabab, Kecamatan Pujon, tidak hanya menjadi ajang pelestarian budaya lokal. Pemerintah Kabupaten Malang juga menjadikan momentum tersebut untuk mendorong kebangkitan sektor perkebunan kopi dan kakao yang pernah menjadi potensi unggulan wilayah setempat.
Hal itu disampaikan Wakil Bupati Malang, Dra. Hj. Lathifah Shohib, saat membuka upacara adat Pecah Cikal dan Pawai Budaya di Balai Desa Ngabab, Senin (1/6/2026). Kegiatan tersebut sekaligus menjadi rangkaian peringatan hari jadi desa yang memasuki usia 184 tahun.
Dalam kesempatan itu, Lathifah mengungkapkan bahwa Desa Ngabab memiliki potensi besar untuk menjadi salah satu sentra pengembangan kopi arabika dan kakao di Kabupaten Malang.
"Desa Ngabab bisa dijadikan salah satu pilot project untuk menghidupkan kembali kopi dan kakao di Kabupaten Malang," ujar Lathifah.
Menurutnya, pengembangan komoditas perkebunan tersebut dapat menjadi penggerak ekonomi baru bagi masyarakat sekaligus memperkuat sektor pertanian yang selama ini menjadi penopang utama kehidupan warga desa.
Rencana tersebut muncul setelah Pemerintah Kabupaten Malang melakukan diskusi dengan panitia penyelenggara HUT Desa Ngabab dan sejumlah tokoh masyarakat setempat. Selain dikenal sebagai wilayah pertanian dan peternakan, kawasan lereng Pujon dinilai memiliki kondisi geografis yang mendukung pengembangan komoditas kopi maupun kakao.
Di sisi lain, peringatan HUT Desa Ngabab tahun ini juga menjadi ajang memperkuat identitas budaya masyarakat melalui tradisi Pecah Cikal, sebuah ritual adat yang telah diwariskan secara turun-temurun.
Wakil Bupati Malang menilai tradisi tersebut bukan sekadar seremoni tahunan, melainkan memiliki nilai filosofis yang kuat tentang rasa syukur, keselamatan, dan kebersamaan masyarakat.
"Saya sangat mengapresiasi atas usia desa yang telah mencapai 184 tahun, yang dipandang sebagai bukti perjalanan panjang masyarakat dalam membangun desa yang harmonis dan berbudaya. Saya menekankan bahwa tradisi Pecah Cikal bukan sekadar seremonial, melainkan warisan luhur yang mengandung nilai filosofis tentang syukur, doa, dan keselamatan bagi masyarakat," katanya.
Perayaan hari jadi Desa Ngabab tahun ini mengusung tema "Harmoni Nyawiji Hanggayuh Kapti", yang bermakna keselarasan untuk bersatu dan hidup rukun demi mencapai kesejahteraan bersama.
Menariknya, kegiatan tersebut berlangsung bertepatan dengan peringatan Hari Lahir Pancasila pada 1 Juni. Karena itu, Wakil Bupati menilai momentum tersebut menjadi pengingat pentingnya menjaga persatuan dan semangat gotong royong di tengah masyarakat.
Ia juga menekankan bahwa kekuatan pembangunan desa tidak hanya bergantung pada pemerintah, tetapi juga pada kekompakan masyarakat, tokoh agama, dan seluruh elemen yang ada di desa.
"Kebesaran agama Islam itu karena berjamaah, karena guyub, dan kekuatannya ada pada seorang pemimpin," tegasnya.
Seluruh rangkaian peringatan HUT ke-184 Desa Ngabab dijadwalkan berlangsung selama sepekan, mulai 1 hingga 8 Juni 2026. Pemerintah Kabupaten Malang berharap kegiatan budaya tersebut dapat menjadi daya tarik wisata sekaligus mendorong pertumbuhan ekonomi masyarakat melalui penguatan potensi lokal yang dimiliki desa. (*)
Apa Reaksi Anda?