Alarm Bahaya Peternak Kota Batu, Ayam Tetap Makan, Pemiliknya Justru Kehabisan Modal

Peternak ayam petelur di Kota Batu kembali menghadapi masa sulit. Kenaikan harga pakan yang terus berulang tidak diikuti dengan membaiknya harga jual telur.

Juli 27, 2026 - 17:01
Alarm Bahaya Peternak Kota Batu, Ayam Tetap Makan, Pemiliknya Justru Kehabisan Modal

BATU - Peternak ayam petelur di Kota Batu kembali menghadapi masa sulit. Kenaikan harga pakan yang terus berulang tidak diikuti dengan membaiknya harga jual telur.

Akibatnya, banyak peternak harus menanggung kerugian setiap hari demi mempertahankan usaha yang telah mereka bangun selama bertahun-tahun.

Penasihat Kelompok Peternak Ayam Petelur Kota Batu, Ludi Tanarto, mengatakan kondisi saat ini menjadi salah satu periode terberat yang pernah dialami peternak. Harga telur di tingkat peternak masih berkisar Rp21 ribu per kilogram, padahal harga impas atau break even point (BEP) berada di angka Rp23 ribu per kilogram.

"Artinya setiap kilogram telur yang kami jual masih rugi sekitar Rp2 ribu. Kondisi ini membuat banyak peternak benar-benar berdarah-darah," katanya, Senin (27/7/2026).

Di sisi lain, biaya produksi justru terus meningkat. Menurutnya, sejak 20 Juli 2026 harga pakan kembali naik sekitar Rp300 per kilogram. Kenaikan tersebut menjadi yang keempat dalam waktu berdekatan sehingga semakin menekan usaha peternakan.

"Pakan tidak bisa dikurangi karena kebutuhan konsumsi ayam sudah ada standarnya. Kalau dikurangi, produksi telur ikut turun. Jadi peternak tidak punya ruang untuk menekan biaya," ujarnya.

Ludi menilai lesunya pasar tidak lepas dari kondisi ekonomi nasional. Melemahnya daya beli masyarakat membuat konsumsi telur ikut turun, sementara sebagian besar bahan baku pakan masih bergantung pada komponen impor yang sensitif terhadap pergerakan nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat.

"Kalau ekonomi masyarakat sedang lesu, pola konsumsi ikut berubah. Dulu orang makan mi masih ditambah telur, sekarang banyak yang tidak. Begitu juga saat hajatan, dulu menunya bisa sepuluh macam, sekarang tinggal tujuh atau delapan. Dampaknya langsung terasa pada permintaan telur," jelas Wakil Ketua II DPRD Kota Batu ini.

Ia menambahkan, kondisi tersebut bukan hanya dialami peternak ayam petelur. Berbagai komoditas pertanian juga menghadapi tekanan akibat lemahnya harga jual di tengah biaya produksi yang terus meningkat.

Program makan bergizi gratis (MBG), menurut Ludi, belum memberikan dampak signifikan terhadap peningkatan penyerapan telur produksi peternak lokal. Pasalnya, volume kebutuhan dari program tersebut belum menjadi pasar utama dibandingkan pasar bebas.

"Serapan dari MBG belum terlalu besar. Kami tetap mengandalkan pasar bebas, sementara pasar saat ini sedang lesu," katanya.

Tekanan berkepanjangan membuat sebagian peternak mulai kehabisan cadangan modal. Tidak sedikit dari para peternak akhirnya menggadaikan surat-surat berharga demi menjaga operasional kandang tetap berjalan.

"Banyak yang terpaksa menggadaikan aset karena ayam tetap harus diberi makan. Usaha ini tidak bisa dihentikan begitu saja," ungkapnya.

Ludi mengaku memilih bertahan meski terus merugi karena menghentikan usaha bukanlah pilihan yang mudah. Begitu juga para rekan peternak ayam petelur lainnya.

"Kalau berhenti, lalu para peternak mau kerja apa? Mau tidak mau harus terus berjuang. Pilihannya hanya bertahan atau mengibarkan bendera putih," tegasnya.

Selama sekitar sepuluh tahun menekuni usaha peternakan ayam petelur, Ludi mengaku beberapa kali menghadapi krisis besar, yakni pada saat pandemi Covid-19, dan kondisi yang terjadi sekarang.

"Ini seperti seleksi alam. Peternak yang memiliki modal kuat akan bertahan, sedangkan yang tidak punya cadangan modal terancam gulung tikar," ungkapnya.

Karena itu, ia berharap pemerintah dapat memperkuat dukungan bagi peternak melalui berbagai kebijakan, seperti peningkatan subsidi jagung, penyediaan bahan baku pakan yang lebih terjangkau, hingga pengembangan alternatif pakan agar biaya produksi dapat ditekan.

"Yang dibutuhkan peternak sekarang adalah kebijakan yang benar-benar bisa menurunkan biaya produksi. Kalau kondisi ini terus berlangsung, semakin banyak peternak yang tidak sanggup bertahan. Meski begitu kami para peternak optimis keadaan akan membaik, entah dalam waktu dekat atau kapan. Semoga saja cepat," pungkasnya.(*)

Apa Reaksi Anda?

like

dislike

love

funny

angry

sad

wow