Harga Plastik Melonjak, Pemprov Jatim Dorong Cari Alternatif Penyuplai Bahan Baku

Harga plastik di Jawa Timur melonjak 50 persen imbas konflik Selat Hormuz. Pemprov Jatim siapkan strategi bahan baku alternatif dan pendataan dampak UMKM.

April 7, 2026 - 06:57
Harga Plastik Melonjak, Pemprov Jatim Dorong Cari Alternatif Penyuplai Bahan Baku

SURABAYA Harga plastik mengalami lonjakan fantastis hingga mencapai 50 persen akibat penutupan Selat Hormuz sebagai jalur perdagangan minyak dunia. Plastik sendiri diketahui merupakan salah satu produk turunan minyak bumi.

Di Jawa Timur, sejumlah pedagang retail kemasan mulai mengeluhkan kondisi tersebut. Selain perlu menambah modal belanja, banyak konsumen terutama pedagang kecil sektor makanan minuman mengakuĀ  kalang kabut menghadapi perubahan harga.

Sementara itu, jumlah pabrik plastik di Jatim tercatat cukup signifikan dengan konsentrasi utama di wilayah Gerbangkertosusila (Gresik, Bangkalan, Mojokerto, Surabaya, Sidoarjo, dan Lamongan). Seperti pabrik kemasan, botol plastik, dan flexible packaging.

Secara nasional, industri kemasan plastik didukung oleh 892 perusahaan kecil dan menengah, di mana Jatim memegang peran vital sebagai salah satu basis manufaktur terbesar wilayah Indonesia Timur.

Kepala Dinas Perdagangan dan Perindustrian Provinsi Jawa Timur (Disperindag Jatim) Iwan mengungkapkan, bahwa kenaikan harga plastik terjadi di seluruh dunia. Pemprov Jatim memastikan terus melakukan koordinasi langkah strategis dengan industri terkait.

"Mungkin dalam waktu dekat kami akan keluarkan datanya dan strategi-strategi sudah kami sampaikan," kata Iwan, Senin (6/4/2026).

Iwan menambahkan, langkah konkret Pemprov Jatim antara lain akan membantu pabrikan mencari bahan baku di negara alternatif yang tidak terlibat konflik.

"Kita dengan teman-teman di luar negeri sedang bergerak," ucapnya.

Sementara itu, Wakil Gubernur Jawa Timur Emil Elestianto Dardak telah menghubungi Kepala Dinas Koperasi dan UKM serta Dinas Perindustrian dan Perdagangan untuk menganalisa dampak dari fenomena kenaikan harga plastik.

EmilWagub Emil didampingi Kepala Disperindag Jatim Iwan, Senin (6/4/2026). (Foto: Lely Yuana/TIMES Indonesia)

Meskipun di Kota Surabaya sendiri telah menerapkan kebijakan stop penggunaan kantong plastik sejak lama, tetapi pedagang makanan minuman tetap membutuhkan plastik sebagai pembungkus.

"Misal yang jual es cekek kan harus ada plastiknya, nah kita mau pastikan dulu, kita data betul mana UMKM yang bisa menyesuaikan dan mana yang nggak bisa," kata Emil.

Namun demikian, ia berharap masyarakat dapat adaptif di tengah tantangan geopolitik global saat ini, seperti mengurangi penggunaan tas plastik dan membiasakan memakai tas kain guna ulang. Pemprov Jatim melalui dinas terkait akan melakukan pendataan bagi pedagang untuk menemukan solusi terbaik.

"Kita utamakan di sektor ekonomi yang paling mendasar, di pasar tradisional," katanya. (*)

Apa Reaksi Anda?

like

dislike

love

funny

angry

sad

wow