Hardiknas 2026: Akademisi UMBY Tekankan Inovasi dan SDM Menuju Indonesia Emas 2045
Peringatan Hari Pendidikan Nasional (Hardiknas) setiap 2 Mei menjadi momentum penting untuk merefleksikan arah dan kualitas pendidikan di Indonesia.
YOGYAKARTA - Peringatan Hari Pendidikan Nasional (Hardiknas) setiap 2 Mei menjadi momentum penting untuk merefleksikan arah dan kualitas pendidikan di Indonesia. Di tengah era digital, pendidikan tidak lagi sekadar rutinitas di ruang kelas, tetapi harus mampu membentuk karakter, daya pikir, serta inovasi yang relevan dengan perkembangan zaman.
Dekan Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP) Universitas Mercu Buana Yogyakarta (UMBY), Dr. Nuryadi, S.Pd., M.Pd., menegaskan bahwa pendidikan modern perlu mengintegrasikan nilai-nilai 4C, yakni critical thinking, communication, collaboration, dan creativity.
“Empat kompetensi tersebut menjadi fondasi lahirnya generasi unggul menuju Indonesia Emas 2045. Pendidikan tidak semata-mata berlangsung di sekolah, tetapi juga dalam kehidupan sehari-hari,” ujar Nuryadi, Sabtu (2/5/2026)
Menurutnya, peningkatan kualitas sumber daya manusia (SDM) menjadi kunci utama dalam mewujudkan pendidikan yang merata dan bermutu. Hal ini mencakup seluruh elemen, mulai dari pelajar, mahasiswa, hingga tenaga pendidik.
Di lingkungan perguruan tinggi, penguatan SDM dapat dilakukan melalui berbagai program, seperti kreativitas mahasiswa, pengembangan technopreneur, hingga kegiatan organisasi kemahasiswaan yang mendorong inovasi berbasis kebutuhan masyarakat.
“SDM yang unggul harus didorong untuk mampu menciptakan teknologi dan solusi inovatif yang relevan dengan perkembangan zaman,” jelasnya.
Selain itu, Nuryadi menekankan bahwa riset memegang peran strategis sebagai dasar inovasi. Penelitian dinilai mampu menjadi langkah mitigasi sekaligus terobosan dalam menjawab tantangan masa depan.
Senada dengan hal tersebut, Tenaga Kependidikan Fakultas Ekonomi UMBY, Ahmad Farid Firsalam, M.M., menilai bahwa paradigma pendidikan saat ini telah mengalami pergeseran signifikan. Pendidikan tidak lagi berfokus pada hafalan, tetapi menjadi proses menyeluruh dalam membentuk manusia yang adaptif terhadap perubahan.
“Saya berharap pendidikan di Indonesia ke depan tidak hanya lebih baik, tetapi benar-benar relevan, merata, dan memberikan dampak nyata bagi masyarakat,” ungkap Ahmad Farid.
Sementara itu, mahasiswa Program Studi Bimbingan dan Konseling, Edi Caswanto, memandang pendidikan sebagai ruang untuk mengenali potensi diri dan membangun karakter. Ia menilai sistem pendidikan seharusnya tidak hanya menitikberatkan pada nilai akademik.
“Pendidikan membantu saya memahami diri sendiri, berpikir terbuka, dan berinteraksi dengan orang lain. Harapannya, pendidikan di Indonesia lebih fokus pada pengembangan karakter dan keterampilan hidup,” kata Edi.
Lebih lanjut, ia berharap akses pendidikan semakin merata sehingga setiap individu memiliki kesempatan yang sama untuk berkembang dan mencapai potensi terbaiknya.
Hardiknas juga menjadi pengingat bahwa pendidikan dapat diperoleh di mana saja dan kapan saja. Dengan pendidikan yang berkualitas, setiap individu memiliki peluang untuk membangun masa depan yang lebih baik, berpikir kritis, serta mampu menghadapi berbagai tantangan kehidupan.
Momentum ini sekaligus menegaskan bahwa pendidikan adalah hak seluruh warga negara. Melalui pendidikan yang inklusif dan bermutu, diharapkan lahir generasi berkarakter yang mampu membawa Indonesia menuju masa depan yang lebih maju dan berdaya saing. (*)
Apa Reaksi Anda?