Gencatan Senjata AS-Iran Terancam Batal Karena Perilaku Israel
Gencatan senjata antara Amerika Serikat dengan Iran yang dimediasi Pakistan yang mulai berlaku kemarin hingga dua minggu ke depan terancam batal karena perilaku terorisme Israel terhadap Lebanon.
JAKARTA - Gencatan senjata antara Amerika Serikat dengan Iran yang dimediasi Pakistan yang mulai berlaku kemarin hingga dua minggu ke depan terancam batal karena perilaku terorisme Israel terhadap Lebanon.
Laporan pada hari Rabu menyebutkan hanya beberapa jam setelah gencatan senjata yang dimediasi Pakistan diumumkan, yang juga mencakup penghentian permusuhan di Lebanon, serangan udara teroris zionis Israel di Beirut terus berlanjut secara besar-besaran dan
membunuh sedikitnya 254 warga sipil tak berdosa terutama anak-anak dan melukai 1.165 lainnya.
Perdana Menteri Pakistan, Mian Muhammad Shahbaz Sharif telah membenarkan bahwa ketentuan gencatan senjata baru-baru ini antara Iran dan Amerika Serikat telah dilanggar, dimana rezim Israel terus menyerang Lebanon.
Serangan-serangan teroris Israel itu digambarkan sebagai pembombardiran terberat di Lebanon sejak rezim tersebut memulai agresi terhadap negara Arab itu pada awal Maret, bersamaan dengan agresi gabungannya dengan Amerika Serikat terhadap Iran.
Sharif, yang negaranya menjadi mediator dalam gencatan senjata selama dua minggu yang diumumkan pada hari Selasa mengatakan pada hari Rabu, bahwa pelanggaran yang dilaporkan di beberapa tempat di seluruh zona konflik yang meliputi agresi AS-Israel terhadap Iran dan sekutu regionalnya telah merusak semangat proses perdamaian.
"Saya dengan sungguh-sungguh dan tulus mendesak semua pihak untuk menahan diri dan menghormati gencatan senjata selama dua minggu, sebagaimana telah disepakati, agar diplomasi dapat memainkan peran utama menuju penyelesaian konflik secara damai," tulisnya di X.
Kesepakatan gencatan sejata antara Amerika Serikat dengan Iran terdiri dari 10 poin, yakni:
1. Komitmen terhadap non-agresi
2. Kontrol Iran atas Selat Hormuz
3. Penerimaan pengayaan uranium Iran
4. Pencabutan semua sanksi utama
5. Pencabutan semua sanksi sekunder
6. Pengakhiran semua resolusi Dewan Keamanan PBB
7. Pembatalan semua resolusi Dewan Gubernur
8. Membayar kompensasi kepada Iran
9. Penarikan pasukan tempur AS dari wilayah tersebut
10. Penghentian perang di semua front, termasuk di Lebanon
"Iran bisa bangkit kembali "dari duduknya" dan melakukan pertahanan skala penuh kapan saja karena rezim Israel melanggar gencatan senjata yang rapuh dan sementara," demikian peringatan seorang pejabat keamanan senior.
Dalam sebuah wawancara eksklusif dengan Press TV Iran pada hari Rabu, pejabat tersebut mengatakan bahwa seluruh dunia saat ini menyaksikan rezim tersebut (Israel)menggoyahkan gencatan senjata yang sudah rapuh yang dicapai sebelumnya pada hari itu.
Menurut pejabat tersebut, rezim tersebut meningkatkan biaya kesepakatan bagi Amerika Serikat dengan melanggar gencatan senjata sekaligus melakukan agresi terhadap Lebanon dan menyerang Iran.
Pejabat tinggi tersebut menyerukan negara-negara mediator untuk segera turun tangan, menyatakan bahwa sudah saatnya untuk "menempatkan rezim agresor ini pada tempatnya."
Ia selanjutnya memperingatkan bahwa jika gencatan senjata gagal, rezim Zionis akan sepenuhnya bertanggung jawab, dan bersumpah bahwa Iran "akan menghukum agresor."
Pejabat itu juga memperingatkan bahwa periode pelonggaran saat ini, yang menyusul pembukaan kembali Selat Hormuz secara terkendali, akan segera berakhir jika pelanggaran terus berlanjut.
Nyerang Hizbullah Sama Dengan Nyerang Iran
Korps Garda Revolusi Islam mengumumkan bahwa Iran sedang mempersiapkan "pembalasan yang disesalkan" atas serangan Israel di Lebanon itu, dan memperingatkan bahwa setiap serangan terhadap Hizbullah adalah serangan terhadap Iran.
Kepala Pasukan Dirgantara IRGC, Brigadir Jenderal Majid Mousavi menulis di media sosial, bahwa pihaknya sudah mempersiapkan respons yang besar. "Serangan terhadap Hizbullah yang penuh kebanggaan adalah serangan terhadap Iran," tegas Mousavi.
"Lapangan sedang mempersiapkan respons yang berat terhadap kejahatan brutal rezim Israel. Saudara-saudariku yang terkasih, bahan bakar sebenarnya dari rudal-rudal itu adalah kehadiran kalian yang bersatu di jalanan," tambahnya
IRGC mengultimatum AS dan Israel
Dalam pernyataan terpisah, IRGC langsung mengultimatum Amerika Serikat dan Israel.
"Bahkan belum beberapa jam berlalu sejak perjanjian gencatan senjata, dan rezim teroris Zionis yang seperti serigala, yang sifat predatornya dan membunuh orang-orang tak berdosa, anak-anak dan perempuan merupakan bagian tak terpisahkan dari identitasnya, telah memulai pembantaian brutal di Beirut," kata IRGC.
"Kami dengan tegas memperingatkan Amerika Serikat yang khianat dan sekutunya. Jika agresi terhadap Lebanon tercinta tidak segera dihentikan, kami akan memenuhi kewajiban kami dan memberikan tanggapan yang penuh penyesalan kepada para agresor jahat di kawasan ini,"tegas IRGC.
Pilih Gencatan Senjata Atau Terus Perang
Menteri Luar Negeri Iran, Abbas Araghchi juga langsung menegaskan bahwa Amerika Serikat harus memutuskan apakah mereka menginginkan gencatan senjata atau perang berkelanjutan melalui Israel, seraya memperingatkan bahwa Amerika Serikat telah melanggar gencatan senjata selama dua minggu dengan membiarkan rezim teroris Zionis israel membantai ratusan warga sipil di Lebanon.
"Syarat gencatan senjata Iran-AS jelas dan eksplisit. AS harus memilih, gencatan senjata atau perang berkelanjutan melalui Israel," tegas Abbas Araghchi dalam sebuah unggahan di media sosial. "AS tidak bisa mendapatkan keduanya," ujarnya.
Presiden Iran Masoud Pezeshkian mengutuk pelanggaran gencatan senjata yang dicapai antara Iran dan Amerika Serikat, dan ia bersumpah bahwa Republik Islam akan menanggapi "dengan tegas" setiap serangan.
Dalam percakapan telepon dengan Perdana Menteri Pakistan Shahbaz Sharif, Pezeshkian mengutuk serangan yang dilakukan di pulau Lavan dan Siri pada Rabu pagi. "Republik Islam Iran akan menanggapi setiap agresi dengan tegas," tegasnya.
Serangan-serangan itu ters dilakukan rezim teroris zionis Israel meskipun ada pengumuman gencatan senjata yang dimediasi Pakistan pada Rabu pagi setelah 41 hari pertempuran sengit antara Iran dan koalisi AS-Israel.
Pada hari Rabu, Amerika Serikat dan Iran sepakat untuk gencatan senjata selama dua minggu setelah Washington menerima proposal 10 poin dari Teheran. Namun kesepakatan itu terancam batal karena perilaku rezim teroris zionis Israel yang terus menerus membombardir Lebanon dan membunuh 254 warga sipil tak berdosa terutama anak-anak dan melukai 1.165 lainnya.
Apa Reaksi Anda?