Elang, Siswa SRT 7 Probolinggo dan Rumah Kedua yang Mengubah Hidupnya
Ada yang berbeda dari keseharian Elang Khoirul Ramadhan saat ini. Jika dulu sepulang sekolah ia lebih sering menghabiskan waktu bermain, kini hari-harinya terisi dengan jadwal yang rapi.
PROBOLINGGO - Ada yang berbeda dari keseharian Elang Khoirul Ramadhan saat ini. Jika dulu sepulang sekolah ia lebih sering menghabiskan waktu bermain, kini hari-harinya terisi dengan jadwal yang rapi. Istirahat, mandi sore, Shalat Ashar berjamaah, mengaji, hingga apel malam. Semua berjalan tertib di Sekolah Rakyat Terintegrasi (SRT) 7 Kota Probolinggo.
Elang bukan siapa-siapa. Ia anak ketiga dari empat bersaudara yang tinggal bersama neneknya di Kecamatan Mayangan, Kota Probolinggo.
Ibunya meninggal saat Elang masih duduk di bangku kelas 1 SD. Sang ayah memilih kembali ke kampung halamannya di Solo, Jawa Tengah.
"Kalau kangen ayah, ya pasti kangen, tapi karena keadaannya seperti ini, ya harus dijalani," ujar Elang
Kehidupan tidak mudah bagi keluarga ini. Neneknya, Sri Aminah Ningsih, menjadi tulang punggung. Berjualan gorengan dan kopi di rumah adalah satu-satunya sumber penghasilan.
Pendapatannya tidak menentu, sekitar Rp100 ribu per hari. Uang sebanyak itu harus cukup untuk makan, bayar listrik, sekaligus membiayai sekolah keempat cucunya.
Keterbatasan itulah yang kemudian mempertemukan Elang dengan program Sekolah Rakyat. Informasi tentang program ini ia dapat dari pendamping Program Keluarga Harapan (PKH).
Tanpa pikir panjang, Elang memutuskan masuk kesekolah yang digagas Presiden Prabowo tersebut.
Namun, keputusan itu tidak serta-merta membuatnya nyaman. "Awal pertama masuk, saya merasa tidak betah sebenarnya," kata Elang jujur.
Butuh waktu dan peran wali asuh yang sabar membimbing hingga akhirnya ia merasa kerasan. Perlahan, lingkungan asrama yang disiplin mulai membentuk keseharian baru baginya.
Perubahan paling nyata terjadi di bidang akademik. Elang mulai menunjukkan ketertarikan pada sains IPA dan robotik.
Ia tidak hanya belajar dari guru, tetapi juga secara mandiri melalui sumber daring menggunakan laptop. Hasilnya, ia berhasil meraih juara pertama dalam lomba Olimpiade IPA tingkat Kota Probolinggo.
"Alhamdulillah juara satu," katanya singkat namun bahagia.
Perjalanan meraih juara itu tidak semulus yang dibayangkan. Elang mengaku sempat pusing saat mengerjakan soal karena materi yang ia pelajari berbeda dengan soal lomba. Setelah ujian selesai, ia bahkan menangis karena mengira nilainya rendah.
"Ternyata bisa juara," ujarnya tersenyum.
Nenek Sri Aminah Ningsih tidak menyangka cucunya bisa sehebat itu. "Saya tidak menyangka kalau cucu saya bisa sehebat ini," kata nenek itu dengan suara terharu.
Prestasi Elang tidak berhenti di situ. Di luar akademik, ia aktif bermain basket dan renang. Dalam waktu dekat, ia tengah mempersiapkan diri untuk mengikuti lomba renang.
Ia juga dipercaya menjadi Ketua OSIS SRMP, sebuah tanggung jawab yang menunjukkan kemampuan kepemimpinannya terus berkembang.
Cita-citanya melambung tinggi. Elang ingin menjadi prajurit TNI Angkatan Darat. Inspirasi itu ia dapat dari pelatihan kedisiplinan yang ia terima di SRT 7 Probolinggo.
"Saya ingin jadi tentara, ingin membela negara dan mengangkat derajat keluarga," ujar Elang mantap.
Bagi neneknya, kehadiran program Sekolah Rakyat menjadi angin segar. Sebelumnya, ia kesulitan membiayai pendidikan keempat cucunya.
"Kalau tidak ada program ini, saya bingung. Biaya sekolah itu berat sekali," katanya.
Kini, Sri Aminah hanya bisa berdoa. "Semoga Elang sukses, kakak, adiknya juga sukses. Biar ibunya di sana (surga) bangga," ucapnya lirih.
Bagi Elang, SRT 7 Probolinggo bukan sekadar tempat belajar. Lebih dari itu, sekolah ini menjadi ruang untuk membangun harapan baru.
Program yang dirancang untuk anak-anak dari keluarga miskin dan miskin ekstrem ini telah membuktikan bahwa dukungan lingkungan pendidikan yang tepat mampu mengubah keterbatasan menjadi pencapaian.
Elang masih berusia 13 tahun. Masih panjang jalan yang harus ia tempuh. Namun dengan disiplin yang mulai tertanam dan mimpi yang terus ia genggam erat, bocah ini sedang membuktikan bahwa masa depan tidak selalu ditentukan dari mana ia berasal. (*)
Apa Reaksi Anda?