Ekspedisi Kebun Raya Banua Temukan 56 Flora Langka Kalimantan yang Nyaris Hilang

Kebun Raya Banua Kalsel menemukan 56 spesies tumbuhan langka di kawasan Gua Liang Bangkai demi menyelamatkan flora khas Kalimantan dari kepunahan.

Mei 15, 2026 - 00:01
Ekspedisi Kebun Raya Banua Temukan 56 Flora Langka Kalimantan yang Nyaris Hilang

BANJARBARU - UPTD Kebun Raya Banua Kalimantan Selatan kembali menemukan puluhan tumbuhan langka khas daerah dalam ekspedisi konservasi di Desa Dukuh Rejo, Kecamatan Mantewe, Kabupaten Tanah Bumbu. Sebanyak 56 spesies flora berhasil diidentifikasi dari kawasan yang dikenal memiliki kekayaan hayati tinggi tersebut.

Penemuan itu menjadi langkah penting penyelamatan flora endemik Kalimantan Selatan yang kini mulai sulit dijumpai di habitat aslinya akibat perubahan lingkungan dan tekanan terhadap ekosistem alami.

Kepala Seksi Penelitian dan Konservasi Tumbuhan Exsitu UPTD Kebun Raya Banua Kalsel, Muhammad Ferza Listyannoor, mengatakan eksplorasi dilakukan di sekitar kawasan Gua Liang Bangkai yang selama ini dikenal sebagai salah satu kantong keanekaragaman hayati di Kalimantan Selatan.

“Pelaksanaan eksplorasi ini merupakan bagian dari fungsi Kebun Raya sebagai lembaga konservasi. Kami berupaya mencari dan menyelamatkan tanaman-tanaman khas Kalimantan Selatan yang mulai langka agar tetap dapat dikenal oleh generasi mendatang," ujar Ferza di Banjarbaru, Kamis.

Ia menjelaskan selama kegiatan berlangsung tim berhasil menemukan sebanyak 56 spesies tumbuhan yang didominasi jenis anggrek, begonia, tanaman hias, serta kelompok kladi-kladian yang memiliki nilai konservasi dan potensi pengembangan koleksi tumbuhan khas Kalimantan.

“Seluruh tumbuhan hasil eksplorasi tersebut dibawa ke Kebun Raya Banua untuk dibudidayakan dan dirawat secara intensif melalui sistem konservasi exsitu agar mampu beradaptasi dan tumbuh baik sebelum dimanfaatkan untuk kepentingan edukasi maupun pelestarian,” katanya.

Ia menuturkan proses adaptasi menjadi tahapan penting karena tidak seluruh tanaman yang diambil dari habitat alami dapat langsung hidup di kawasan konservasi sehingga memerlukan perlakuan khusus, mulai dari pengaturan kelembapan hingga media tanam yang sesuai dengan karakter masing-masing spesies.

Jika berhasil tumbuh, kata dia, nantinya tanaman tersebut bisa menjadi koleksi konservasi sekaligus dibagikan untuk kepentingan edukasi maupun pelestarian.

Ia menambahkan eksplorasi tahun ini tidak hanya berfokus mengambil tumbuhan dari alam, tetapi juga mengedepankan konsep timbal balik konservasi melalui pengembalian bibit tanaman langka yang sebelumnya telah berhasil dikembangbiakkan di Kebun Raya Banua ke habitat asalnya.

Dia mencontohkan jenis meranti-merantian yang beberapa tahun lalu diselamatkan melalui kegiatan eksplorasi, kini telah tumbuh dan berkembang di Kebun Raya Banua, kemudian dibawa kembali ke wilayah Tanah Bumbu untuk mendukung pelestarian tumbuhan di kawasan asal.

“Sekarang tanaman meranti sudah semakin jarang ditemukan. Jadi ada timbal balik dalam kegiatan ini, bukan hanya Kebun Raya yang mendapatkan manfaat, tetapi masyarakat dan lingkungan di daerah juga merasakan dampaknya,” ujar Ferza.

UPTD Kebun Raya Banua berharap kegiatan eksplorasi tumbuhan tersebut dapat menjadi langkah nyata menjaga keberlangsungan flora khas Kalimantan Selatan sekaligus memperkuat kesadaran masyarakat terhadap pentingnya pelestarian keanekaragaman hayati sebagai bagian dari kekayaan sumber daya alam daerah. (*)

Apa Reaksi Anda?

like

dislike

love

funny

angry

sad

wow