Dunia Musti Bersiap, Fenomena El Nino Akan Datang Kembali
Fenomena El Nino terbaru merupakan salah satu dari lima fenomena terkuat yang pernah tercatat dan berkontribusi pada tahun 2024 yang sangat panas dan memecahkan rekor suhu global.
JAKARTA - PBB memperingatkan kepada dunia untuk bersiap menghadapi El Nino, fenomena yang memperkuat cuaca ekstrem dan memiliki peluang 80 persen untuk terbentuk sebelum bulan September mendatang.
"Pola cuaca alami yang kuat ini, yang meningkatkan suhu global dan memperburuk curah hujan di beberapa wilayah, memiliki peluang 80 persen untuk terbentuk sebelum bulan September dan peluang 90 persen sebelum bulan November," kata Organisasi Meteorologi Dunia (WMO), Selasa (2/6/2926).
Hasil penelitian menunjukkan bahwa sebagian besar model memproyeksikan kembalinya fenomena siklus di lautan dan atmosfer akan memiliki kekuatan 'setidaknya moderat' dan mungkin kuat.
Dilansir The Guardian, para ilmuwan sebelumnya telah memperingatkan bahwa ini bisa menjadi yang terkuat abad ini.
Namun, WMO tidak mendukung proyeksi tersebut dan mengatakan bahwa para peramal masih berada dalam periode ketidakpastian.
"Sebarannya luas," kata Sekjen WMO, Celeste Saulo. "Ada model yang tidak memberikan indikasi El Nino yang kuat, sementara model lain menunjukkan hal itu," tambahnya.
Sekjen PBB, Antonio Guterres mengatakan, bahwa dunia 'harus memperlakukannya sebagai peringatan iklim mendesak sebagaimana mestinya'.
“Kondisi El Nino akan memperparah pemanasan global," katanya. "Dampaknya akan terasa lebih berat, menjangkau lebih jauh, dan melintasi perbatasan dengan kecepatan yang menghancurkan," ujarnya.
Fenomena El Nino terbaru, pada 2023-2024, merupakan salah satu dari lima fenomena terkuat yang pernah tercatat dan berkontribusi pada 2024 yang sangat panas dan memecahkan rekor suhu global.
WMO mengatakan suhu yang luar biasa tinggi diperkirakan terjadi di hampir seluruh bagian planet ini selama tiga bulan ke depan, dan memperingatkan kemungkinan yang lebih besar akan terjadinya hujan ekstrem dan kekeringan.
Meskipun setiap peristiwa El Nino unik, para ilmuwan biasanya mengaitkannya dengan curah hujan yang lebih deras di beberapa bagian Amerika Selatan, Amerika Serikat bagian selatan, Tanduk Afrika, dan Asia Tengah.
Kondisi yang lebih kering biasanya melanda Amerika Tengah, Amerika Selatan bagian utara, Karibia, Australia, Indonesia, dan beberapa bagian Asia Selatan.
Perairan hangat dapat memicu terbentuknya badai di Samudra Pasifik bagian tengah dan timur, tetapi menghambat pembentukannya di cekungan Atlantik.
Temuan ini muncul ketika Eropa Barat mulai pulih dari bulan Mei yang luar biasa panas, dimana rekor suhu untuk bulan tersebut dipecahkan di Inggris dan Irlandia.
Pekan lalu, WMO dan Kantor Meteorologi Inggris memperingatkan bahwa tahun terpanas yang memecahkan rekor untuk dunia hampir pasti akan terjadi sebelum akhir dekade ini, dengan kembalinya El Nino yang diperkirakan akan membuat hal itu terjadi paling cepat pada tahun 2027.
Gareth Redmond-King dari Energy & Climate Intelligence Unit, sebuah lembaga think tank Inggris mengatakan, temuan tersebut merupakan kabar buruk bagi pasokan pangan karena pasokan sudah tertekan akibat kerusakan iklim dan pembatasan aliran pupuk dari perang Iran.
"Kekacauan yang akan ditimbulkan El Nino, yang kemungkinan akan menghadirkan tahun terpanas lainnya pada tahun 2027, akan menghancurkan banyak petani, dan menjadi masalah hidup dan mati bagi terlalu banyak orang," katanya.
Fenomena El Nino terjadi setiap beberapa tahun sekali dan berlangsung sekitar sembilan hingga 12 bulan.
Selama tahun-tahun tersebut, angin yang mendorong air hangat ke arah barat melemah atau berubah arah, sehingga memungkinkan air permukaan di bagian Pasifik tersebut menghangat.
WMO menyatakan bahwa suhu permukaan laut di beberapa bagian Pasifik yang digunakan para ilmuwan sebagai acuan mendekati ambang batas El Nino pada akhir April hingga pertengahan Mei, yang dipicu oleh kondisi bawah permukaan yang luar biasa hangat.
WMO juga mengatakan bahwa komponen atmosfer El Nino juga konsisten dengan perkembangannya.
Mereka menolak istilah “super El Nino”, yang telah digunakan beberapa ilmuwan dalam beberapa bulan terakhir sebagai antisipasi terhadap peristiwa yang sangat kuat, karena istilah tersebut berada di luar sistem klasifikasi resmi.
Sistem peringatan dini yang mengingatkan orang akan bahaya dan memungkinkan evakuasi sebelum bencana telah menyelamatkan nyawa bahkan ketika polusi bahan bakar fosil telah membuat cuaca ekstrem menjadi lebih ganas.
Namun dalam setahun terakhir, beberapa donor asing utama yang telah membantu membiayai sistem tersebut, termasuk Inggris dan AS, telah memangkas anggaran bantuan mereka.
Saulo mengatakan, pendanaan iklim belum mencapai puncaknya. "Tetapi sistem peringatan dini telah dan masih menjadi prioritas. Tentu saja, kita masih membutuhkan lebih banyak mobilisasi sumber daya, dalam hal pendanaan negara-negara yang membutuhkan dukungan."
"Saya akan mengatakan kita perlu meningkatkan hal itu, tetapi itu bukan satu-satunya batasan dalam hal ini. Implementasinya juga merupakan tantangan bagi dunia," katanya menambahkan.
Guterres mengatakan, satu-satunya respons yang efektif adalah aksi iklim yang setara dengan krisis , mengakhiri ketergantungan pada bahan bakar fosil, mempercepat peralihan ke energi terbarukan, melindungi yang paling rentan, dan menyediakan sistem peringatan dini untuk semua.
El Nino adalah osilasi tidak teratur pada arus tropis Pasifik, dengan konsekuensi yang luas.
Konsekuensi tersebut bisa meliputi peningkatan curah hujan sangat besar di Amerika Selatan, kekeringan di Australia dan kebakaran di seluruh Asia Tenggara, matinya terumbu karang di India, badai musim dingin parah di California, gelombang panas di Kanada, dan badai dahsyat yang mengamuk di sepanjang Samudra Pasifik.
Fenomena ini tampaknya terjadi setiap tiga hingga tujuh tahun sekali. El Nino penuh terakhir terjadi pada tahun 1997-98 dan diperkirakan telah menyebabkan kerugian properti global lebih dari €30.000 juta.
El Nino dimulai ketika massa air hangat dari Pasifik barat bergerak ke timur, akhirnya menggantikan air yang lebih dingin dan kaya nutrisi di sekitar pantai Amerika Selatan.
Air hangat ini menambah kelembapan ekstra ke atmosfer, meningkatkan curah hujan, dan mengganggu sirkulasi atmosfer di seluruh dunia. (*)
Apa Reaksi Anda?