Di Kota Batu, Kelompok Rentan Punya Posyandu Inklusi

Di sebuah sudut Omah Berkah Rangkul, tawa anak-anak terdengar bersahutan. Sebagian menggenggam mainan, sebagian lain duduk tenang di samping orang tua mereka.

April 21, 2026 - 20:02
Di Kota Batu, Kelompok Rentan Punya Posyandu Inklusi

BATU - Di sebuah sudut Omah Berkah Rangkul, tawa anak-anak terdengar bersahutan. Sebagian menggenggam mainan, sebagian lain duduk tenang di samping orang tua mereka.

Hari ini, Pemerintah Kota Batu memperkenalkan ruang baru bagi mereka yang selama ini kerap berada di pinggir perhatian layanan publik yaitu anak-anak berkebutuhan khusus (ABK). Namanya Posyandu Inklusi. 

Sebuah layanan kesehatan terpadu yang dirancang khusus untuk anak berkebutuhan khusus (ABK), hasil kolaborasi Pemkot Batu bersama Rumah Inklusi Kota Batu. Peluncurannya bertepatan dengan peringatan Hari Autisme Sedunia.

Bagi sebagian orang, posyandu mungkin identik dengan penimbangan balita atau imunisasi rutin. Namun di Kota Batu, maknanya diperluas. Posyandu kini menjadi tempat di mana kelompok rentan mendapatkan hak yang sama untuk tumbuh sehat, didampingi, dan diperhatikan.

Wali Kota Batu Nurochman menegaskan, pembangunan tidak bisa hanya diukur dari jalan mulus, gedung baru, atau taman kota yang indah. Menurut dia, ukuran sesungguhnya adalah seberapa jauh pemerintah hadir bagi warga yang paling membutuhkan dukungan.

"Pemerintah harus hadir untuk semuanya. Anak-anak hebat ini memiliki potensi besar yang harus kita dukung bersama. Karena itu layanan kesehatan, pendidikan hingga ruang pengembangan diri harus terus kita perluas," ujarnya, Selasa (21/4/2026).

Melalui Posyandu Inklusi, anak-anak akan memperoleh layanan pemantauan tumbuh kembang, konsultasi kesehatan, hingga pendampingan sesuai kebutuhan masing-masing. Hal yang bagi banyak keluarga sering kali sulit diperoleh secara mudah dan terjangkau.

Tak berhenti di sana, Pemkot Batu juga menyiapkan jalur pendidikan yang lebih terbuka bagi generasi inklusi. Pemerintah merancang program beasiswa 1.000 sarjana, termasuk bagi mahasiswa berprestasi dari kalangan disabilitas dan kelompok inklusi.

"Melalui program tersebut, mahasiswa berprestasi dari kalangan inklusi akan mendapatkan bantuan pembiayaan uang kuliah tunggal hingga menyelesaikan pendidikan di perguruan tinggi," kata dia.

Di sisi lain, para pendamping dan relawan yang selama ini bekerja dalam senyap juga mulai mendapat perhatian. Pemerintah mendorong skema Rekognisi Pembelajaran Lampau (RPL), agar pengalaman mereka mendampingi anak-anak berkebutuhan khusus bisa diakui sebagai kredit akademik.

"Kami ingin langkah kecil Pemkot Batu yang tak sebanding dengan perjungan para relawan menyimpan pesan besar bahwa kepedulian sosial juga layak dihargai sebagai pengetahuan," terangnya.

Wakil Wali Kota Batu, Heli Suyanto menambahkan jika ia ingin supaya inklusi bukan sekadar slogan dalam spanduk acara. Ia harus hadir dalam kebijakan, anggaran, layanan kesehatan, hingga ruang kelas kampus.

"Dengan hadirnya Posyandu Inklusi, kami berharap tidak ada lagi anak yang tertinggal dalam mendapatkan layanan kesehatan dan pendampingan tumbuh kembang secara optimal," tutur Heli. (*)

Apa Reaksi Anda?

like

dislike

love

funny

angry

sad

wow