Developer Perumahan di Banyuwangi Siapkan Strategi Hindari Kenaikan Harga Rumah Imbas Dolar Meroket
Pengembang perumahan di Banyuwangi mulai menerapkan berbagai strategi efisiensi untuk menekan dampak lonjakan dolar Amerika Serikat yang memicu kenaikan harga material bangunan.
BANYUWANGI - BANYUWANGI – Pengembang perumahan di Banyuwangi mulai menerapkan berbagai strategi efisiensi untuk menekan dampak lonjakan dolar Amerika Serikat yang memicu kenaikan harga material bangunan.
Langkah tersebut, dilakukan agar harga rumah, khususnya rumah subsidi, tetap terjangkau tanpa mengorbankan kualitas bangunan.
Ketua Real Estate Indonesia (REI) Komisariat Banyuwangi, H. Rindar Suhardiansyah, S.E., mengatakan bahwa strategi yang dilakukan pengembang bukan dengan menurunkan mutu bangunan, melainkan membenahi sistem kerja dan manajemen proyek.
“Pengembang yang sehat tidak boleh mengorbankan kualitas struktur dan kelayakan bangunan. Strateginya adalah efisiensi, bukan degradasi,” kata Rindar, Selasa (26/5/2026).
Menurut Rindar, sejumlah langkah kini dilakukan developer untuk menekan biaya pembangunan. Mulai dari perencanaan pembelian material yang lebih matang, negosiasi volume dengan supplier, penggunaan material lokal yang memenuhi standar, hingga memperbaiki manajemen stok dan mempercepat siklus pembangunan.
Selain itu, pengembang juga berupaya memangkas biaya nonteknis seperti pemborosan waktu, distribusi material, hingga proses perizinan.
“Yang mampu diotak-atik itu desain, metode kerja, rantai pasok, dan manajemen proyek,” ujarnya.
Kakak kandung anggota Komisi III DPRD Banyuwangi, Arvy Rizaldy, S.E., itu menjelaskan bahwa penguatan dolar memang memberi dampak terhadap sejumlah material bangunan yang memiliki komponen impor atau mengikuti harga global.
Material seperti besi, baja, aluminium, sanitary, keramik tertentu, cat, bahan kimia konstruksi, hingga sparepart alat berat disebut menjadi yang paling sensitif terhadap fluktuasi dolar.
Sementara untuk material domestik seperti pasir dan batu, dampaknya dinilai tdaik terlalu besar karena basis biayanya masih berada di dalam negeri.
Rindar menilai kondisi tersebut berpotensi memicu kenaikan harga properti, terutama pada sektor perumahan komersial yang harga jualnya lebih fleksibel mengikuti biaya produksi.
Namun tantangan terbesar justru dirasakan sektor rumah subsidi. Pasalnya, harga jual rumah subsidi masih dibatasi pemerintah, sementara biaya pembangunan terus mengalami kenaikan.
Menurutnya, apabila pelemahan rupiah berlangsung lama, harga material naik secara konsisten, dan bunga kredit tetap tinggi, maka bukan hanya harga rumah yang terdampak, tetapi juga pasokan rumah subsidi yang berpotensi melambat.
Rindar berharap pemerintah dapat menjaga stabilitas ekonomi makro, mempercepat sistem perizinan satu pintu, serta menekan biaya-biaya daerah yang dinilai tidak produktif agar sektor properti tetap tumbuh.
CEO Luminor Hotel Banyuwangi dan pentolan Mahayasa Group ini juga berharap perbankan dapat menjaga suku bunga Kredit Pemilikan Rumah (KPR) tetap kompetitif dan mempercepat proses kredit bagi masyarakat berpenghasilan menengah ke bawah.
“Kalau daya beli dijaga, pasar properti tetap bergerak, tukang tetap bekerja, toko bangunan hidup, dan ekonomi daerah ikut berputar,” tutupnya. (*)
Apa Reaksi Anda?