Bukan Sekadar Studi Tiru, MTs Almaarif 01 Singosari Bongkar Kunci Madrasah Unggul
27 kepala sekolah dan madrasah dari Bawean, Kabupaten Gresik, datang bersama jajaran LP Ma'arif NU Bawean untuk melakukan studi inspirasi di MTs Almaarif 01 Singosari Malang
MALANG - 27 kepala sekolah dan madrasah dari Bawean, Kabupaten Gresik, datang bersama jajaran LP Ma'arif NU Bawean untuk melakukan studi inspirasi di MTs Almaarif 01 Singosari Malang, Selasa (19/5/2026).
Bukan sekadar kunjungan seremonial, rombongan itu membawa satu tujuan penting: belajar membangun budaya sekolah yang kuat, disiplin, dan berdaya saing. Rombongan disambut langsung Ketua Yayasan Pendidikan Almaarif, KH Anas Noor Salim, SH, MH beserta jajaran pengurus yayasan.
Suasana hangat dan penuh kekeluargaan terasa sejak awal kegiatan. Dalam sambutannya, KH Anas menyampaikan apresiasi atas kepercayaan yang diberikan kepada MTs Almaarif 01 Singosari sebagai lokasi studi inspirasi.
Menurutnya, tradisi saling belajar antarlembaga pendidikan menjadi modal penting untuk memperkuat kualitas pendidikan di lingkungan Nahdlatul Ulama. “Lembaga pendidikan tidak bisa berjalan sendiri.
"Harus ada ruang untuk saling belajar, saling menguatkan, dan saling membuka diri terhadap praktik-praktik baik,” ujarnya.
Momentum itu sekaligus ditandai dengan penandatanganan nota kesepahaman atau sister school. Kerja sama tersebut mencakup penguatan pola manajemen sekolah, berbagi sistem pengelolaan pendidikan, hingga program pertukaran guru, tenaga kependidikan, dan siswa dalam periode tertentu.
Ketua LP Ma’arif NU Bawean, Gus Ali Subhan, SH, M.AP mengungkapkan bahwa salah satu alasan utama memilih MTs Almaarif 01 Singosari sebagai tujuan studi inspirasi adalah keberhasilan madrasah tersebut membangun budaya disiplin positif. Ia menilai suasana belajar di madrasah berjalan tertib tanpa kehilangan nuansa humanis. “Kami ingin belajar bagaimana budaya disiplin itu dibangun. Sebab disiplin bukan lahir dari ketakutan, tetapi dari kesadaran bersama,” katanya.
Dalam forum tersebut, Dewan Pembina Prof Dr Masykuri Bakri, M.Si turut memberikan penguatan kepada seluruh peserta. Dengan gaya penyampaian yang tenang namun mengena, ia menegaskan bahwa kekuatan lembaga pendidikan sejatinya terletak pada nilai-nilai yang dihidupi setiap hari. Ia menyebut lima fondasi utama yang harus dijaga dalam mengelola lembaga pendidikan: keikhlasan, kejujuran, kerukunan, kesabaran, dan kedisiplinan.
Menurutnya, program unggulan tidak akan memiliki makna jika tidak ditopang budaya yang sehat. “Sekolah yang hebat bukan hanya sekolah yang punya banyak program. Tetapi sekolah yang mampu menjaga ruh dan nilai dalam setiap proses pendidikannya,” tegasnya.
Sementara itu, Kepala MTs Almaarif 01 Singosari, Dwi Retno Palupi, M.Pd memaparkan sejumlah program unggulan yang menjadi identitas madrasah. Mulai program madrasah riset, madrasah multilingual, madrasah adiwiyata, hingga madrasah ramah anak dengan pendekatan disiplin positif.
Tidak hanya itu, madrasah juga mengembangkan kelas-kelas berbasis potensi minat dan bakat siswa sebagai bagian dari strategi menciptakan madrasah unggul berstandar internasional. Diskusi berlangsung cair dan interaktif. Para peserta terlihat aktif menggali pengalaman, sistem pengelolaan, hingga strategi membangun kultur sekolah yang adaptif terhadap perubahan zaman.
Bagi rombongan dari Bawean, kunjungan ini bukan sekadar perjalanan studi tiru. Lebih dari itu, mereka membawa pulang harapan baru: bahwa pendidikan yang maju dapat dibangun dari semangat kolaborasi, budaya disiplin, dan keteladanan yang tumbuh bersama di lingkungan madrasah. (*)
Apa Reaksi Anda?