BGN Dalami Dugaan Keracunan MBG di Tegalombo Pacitan
Dugaan keracunan makanan dalam program MBG di Pacitan diusut. Sejumlah siswa SD mengalami mual dan muntah, penyebab masih menunggu hasil investigasi.
PACITAN - Dugaan keracunan makanan dalam program Makanan Bergizi Gratis (MBG) di Kecamatan Tegalombo, Kabupaten Pacitan, mulai diusut.
Insiden yang menyebabkan sejumlah siswa sekolah dasar (SD) mengalami mual dan muntah itu kini dalam pendalaman lintas instansi.
Badan Gizi Nasional (BGN) melalui Koordinator Wilayah SPPG, Listiana Asworo, menyatakan pihaknya bergerak cepat setelah menerima laporan kejadian pada Jumat pagi, 10 April 2026.
Listiana menyebut kasus tersebut langsung ditindaklanjuti dengan pengecekan ke dapur SPPG Kebondalem.
“Kami menerima informasi adanya kejadian di wilayah Tegalombo. Pagi itu juga kami langsung melakukan kroscek ke SPPG terkait,” ujar Listiana, Sabtu (11/4/2026).
Menurut dia, koordinasi juga telah dilakukan dengan Dinas Kesehatan Kabupaten Pacitan serta dilaporkan ke Satuan Tugas MBG di tingkat pusat.
Namun hingga kini, penyebab pasti insiden tersebut masih menunggu hasil investigasi resmi dari otoritas kesehatan.
“Kami sudah berkoordinasi dengan Dinkes dan melaporkan ke Satgas MBG. Saat ini kami menunggu hasil investigasi lebih lanjut,” katanya.
Listiana mengakui adanya laporan siswa yang mengalami mual dan muntah. Meski demikian, ia menegaskan pihaknya belum dapat menyimpulkan sumber penyebab sebelum hasil uji laboratorium keluar.
“Ada laporan siswa mengalami mual dan muntah. Itu yang sedang kami dalami bersama Dinkes,” ujarnya.
Di tengah proses investigasi, pihaknya menyampaikan permohonan maaf kepada masyarakat atas insiden tersebut.
Listiana menambahkan, evaluasi internal juga tengah dilakukan sembari melaporkan perkembangan kasus secara berjenjang kepada pimpinan.
“Kami mohon maaf atas kurangnya pelayanan. Ini menjadi bahan evaluasi kami ke depan,” ucapnya.
Kasus ini kembali menyoroti aspek pengawasan dalam distribusi makanan massal pemerintah. Program yang ditujukan untuk meningkatkan gizi anak tersebut justru memicu kekhawatiran publik setelah muncul dugaan gangguan kesehatan pada penerimanya.(*)
Apa Reaksi Anda?