Bentengi Generasi dari Radikalisme, SMA An-Nur Malang Gelar Dauroh Ke-NU-an dan Kebangsaan

SMA An-Nur Bululawang, Malang menyelenggarakan kegiatan Dauroh Penguatan Ke-NU-an dan Kebangsaan bagi siswa kelas XII, Sabtu-Minggu (6–7 Mei 2026).

Mei 18, 2026 - 10:30
Bentengi Generasi dari Radikalisme, SMA An-Nur Malang Gelar Dauroh Ke-NU-an dan Kebangsaan

MALANG - SMA An-Nur Bululawang, Malang menyelenggarakan kegiatan Dauroh Penguatan Ke-NU-an dan Kebangsaan bagi siswa kelas XII, Sabtu-Minggu (6–7 Mei 2026). Kegiatan ini bertujuan memperkuat pemahaman siswa terhadap nilai-nilai Ahlussunnah wal Jamaah (Aswaja) sekaligus menanamkan semangat nasionalisme di tengah tantangan era modern.

Kegiatan yang berlangsung khidmat tersebut menghadirkan dua narasumber, yakni Gus Moh. Masrullah, Lc., M.A., dan Gus Teguh Rahmanto, S.T. Keduanya memberikan pembekalan mendalam terkait keislaman, kebangsaan, serta pentingnya menjaga tradisi Aswaja An-Nahdliyah.

Kepala SMA An-Nur, Moh. Hasyim, S.Pd.I., M.Pd.I., dalam sambutannya menegaskan pentingnya kegiatan tersebut sebagai benteng untuk menangkal paham radikal yang berkembang di masyarakat.

“Banyak aliran radikalisme yang bertebaran di luar pesantren. Oleh karena itu, kegiatan ini menjadi modal penting bagi siswa untuk membendung paham yang tidak sesuai dengan Aswaja,” tegasnya.

Pada hari pertama, materi disampaikan oleh Gus Teguh Rahmanto, S.T. Ia mengingatkan para siswa tentang tantangan di era digital, ketika informasi dapat diakses dengan mudah namun rentan disalahgunakan.

“Generasi muda harus cerdas menyaring informasi dan memilih referensi yang benar-benar berpegang pada Aswaja,” ujarnya.

SMA An Nur Malang - 1

Dalam pemaparannya, Gus Teguh juga menjelaskan berbagai firqah atau aliran dalam Islam, seperti Sunni, Syiah, dan Khawarij. Ia mengajak siswa untuk tetap teguh berpegang pada ajaran Ahlussunnah wal Jamaah sebagai pedoman hidup.

Sesi berikutnya diisi oleh Gus Moh. Masrullah, Lc., M.A., yang menekankan pentingnya sanad keilmuan dalam tradisi Nahdlatul Ulama.

“Dengan ber-NU, kita menjadi bagian dari awamul muslimin yang mengikuti guru-guru bersanad hingga Rasulullah SAW,” jelasnya.

Selain itu, beliau juga memaparkan tiga karakter utama Aswaja, yakni tawassuth (moderat), tawazzun (seimbang), dan tasamuh (toleran). Suasana semakin semarak ketika para peserta bersama-sama menyanyikan lagu “Yalal Wathan” dan menyerukan yel-yel “NKRI Harga Mati!” sebagai bentuk penguatan semangat kebangsaan.

Pada hari kedua, kegiatan ditutup dengan prosesi Baiat NU yang diikuti seluruh siswa kelas XII SMA An-Nur Bululawang Malang. Dalam prosesi tersebut, para siswa mengikrarkan kesetiaan kepada Nahdlatul Ulama serta komitmen menjaga nilai-nilai Islam Ahlussunnah wal Jamaah.

Melalui kegiatan ini, SMA An-Nur Malang berharap para siswa memiliki bekal pemahaman keagamaan yang kuat, semangat cinta tanah air, serta mampu menjadi generasi yang berakhlak mulia dan berkontribusi positif bagi bangsa dan negara. (*)

Apa Reaksi Anda?

like

dislike

love

funny

angry

sad

wow