Beda Pendapat dengan Dinkes, DKPP Pacitan Klaim Tikus Sawah Tak Sebarkan Leptospirosis

DKPP dan Dinkes Pacitan berbeda pendapat soal penyebab leptospirosis. DKPP menyebut tikus sawah tak menularkan penyakit, sementara kasus di Pacitan terus meningkat.

Mei 7, 2026 - 09:31
Beda Pendapat dengan Dinkes, DKPP Pacitan Klaim Tikus Sawah Tak Sebarkan Leptospirosis

PACITAN - Dinas Ketahanan Pangan dan Pertanian (DKPP) Pacitan berbeda pendapat dengan Dinas Kesehatan (Dinkes) terkait penyebab leptospirosis. 

Di tengah lonjakan kasus leptospirosis, DKPP justru mengklaim tikus sawah tidak menyebarkan penyakit tersebut.

Kepala DKPP Pacitan, Sugeng Santoso, mengatakan tikus sawah berbeda dengan tikus rumahan yang selama ini disebut sebagai pembawa bakteri leptospira.

“Kalau leptospirosis itu disebabkan karena tikus di rumah, sedangkan kita DKPP beda, tikus yang kita tangani itu ada di sawah, makanannya pun beda, tikus sawah tidak menyebarkan leptospirosis,” ujarnya, Kamis (7/5/2026).

Menurut Sugeng, informasi tersebut diperoleh dari petugas teknis PUPT. Ia menyebut habitat dan bentuk fisik tikus sawah juga berbeda dengan tikus got maupun tikus rumah.

DKPP menilai tikus sawah lebih banyak hidup di area terbuka seperti persawahan, pematang, dan lahan basah. Sementara sumber penularan leptospirosis sementara ini lebih mengarah pada tikus got dan tikus kebun yang hidup di sekitar permukiman.

“Kalau data yang kami peroleh sementara informasinya berasal dari tikus got dan tikus kebun. Tidak menyebutkan tikus sawah,” katanya.

Meski begitu, DKPP tetap meminta petani menggunakan alat pelindung diri (APD) saat beraktivitas di sawah.

Sebab, populasi tikus di wilayah timur Pacitan mulai meningkat. Saat ini, kemunculan hama tikus mulai terdeteksi di Kecamatan Ngadirojo dan diperkirakan meningkat pada Juni mendatang.

Sebagai langkah antisipasi, gerakan pengendalian hama telah dilakukan di Desa Wiyoro, Hadiwarno, Ngadirojo, dan Sidomulyo.

“Kalau pada saat tertentu tikus yang rumahnya di pinggir sawah beranak banyak, maka perlu diantisipasi dengan gerakan pengendalian bersama di satu sawah,” tandas Sugeng.

Sementara itu, Dinas Kesehatan Pacitan mencatat kasus leptospirosis terus meningkat. Hingga awal Mei 2026, jumlah penderita mencapai 139 orang.

Kepala Bidang Pencegahan dan Pengendalian Penyakit (P2P) Dinkes Pacitan, dr. Nur Farida, mengatakan sebagian besar kasus dipicu rendahnya penggunaan alat pelindung diri saat beraktivitas di area berisiko seperti sawah.

“Sebagian besar kasus dipicu kurangnya penggunaan APD, terutama saat beraktivitas di sawah atau membersihkan saluran air di lingkungan rumah,” ujarnya.

Farida mengingatkan masyarakat, khususnya kelompok rentan, agar selalu memakai APD dan menjaga kebersihan lingkungan.

Selain itu, warga diminta segera memeriksakan diri ke fasilitas kesehatan jika mengalami gejala leptospirosis.

“Jangan menunggu sampai parah. Jika muncul gejala, segera periksa,” katanya.

Menurut Farida, meningkatnya populasi tikus juga menjadi salah satu faktor penyebaran bakteri leptospira. Karena itu, pola hidup bersih dan sehat dinilai penting untuk menekan penularan penyakit tersebut. (*)

Apa Reaksi Anda?

like

dislike

love

funny

angry

sad

wow