Jelang Muktamar ke-35 NU, Pengasuh Ponpes Darul Ulum Jombang Harap Kepemimpinan Kembali ke Pesantren
Jelang Muktamar NU ke-35, Pengasuh Ponpes Darul Ulum Jombang berharap kepemimpinan PBNU kembali ke kalangan pesantren.
JOMBANG - Dinamika menjelang Muktamar ke-35 Nahdlatul Ulama (NU) kian menghangat. Sejumlah tokoh mulai menyatakan siap maju sebagai calon Ketua Umum (Caketum) Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU).
Menanggapi hal tersebut, KH Zainul Ibad As’ad, Pengasuh Pondok Pesantren Darul Ulum Rejoso, Kecamatan Peterongan, Kabupaten Jombang, berharap kepemimpinan PBNU ke depan kembali dipegang oleh kalangan pesantren.
Menurutnya, pesantren sebagai basis utama NU turut merasakan dampak ketika terjadi dinamika konflik di tingkat pusat, seperti yang terjadi pada periode kepemimpinan sebelumnya. Kiai yang akrab disapa Gus Ulib itu juga berpesan kepada PCNU dan PWNU sebagai pemilik hak suara untuk memilih pemimpin yang ideal.
“Kami ini tidak punya hak suara, yang memiliki hak suara itu PCNU dan PWNU se-Indonesia. Namun, kami sebagai pengasuh pesantren sangat terdampak ketika terjadi konflik seperti sebelumnya. Pesan saya kepada PCNU dan PWNU, jangan memilih pihak yang terlibat konflik tersebut,” ujarnya saat ditemui di kediamannya di kompleks Ponpes Darul Ulum Jombang, Sabtu (25/4/2026).
Sementara itu, dua tokoh dzuriyah pendiri NU asal Jombang dikabarkan siap maju sebagai calon Ketua Umum PBNU. Keduanya adalah KH Abdul Hakim Mahfudz (Gus Kikin), Pengasuh Pondok Pesantren Tebuireng, serta KH Abdus Salam Shohib (Gus Salam), Pengasuh Pondok Pesantren Mambaul Ma’arif Denanyar.
Gus Ulib menilai langkah keduanya sah secara organisasi dan tidak perlu dipersoalkan.
“Secara kemampuan dan kapasitas, beliau berdua tidak diragukan. Keduanya juga merupakan dzuriyah pendiri NU,” katanya.
Ia menambahkan, kepemimpinan NU ke depan diharapkan dipegang figur yang mampu menjaga marwah organisasi serta tidak memiliki konflik dengan kepengurusan sebelumnya.
“Selama yang memimpin bukan dari kelompok yang berkonflik dengan kepengurusan sebelumnya, bagi saya tidak ada masalah,” ujarnya.
Namun demikian, ia juga menyampaikan keprihatinan jika kedua tokoh tersebut benar-benar maju. Pasalnya, peran mereka dinilai sangat sentral dalam pengelolaan pesantren masing-masing.
“Jika benar maju, tentu disayangkan. Karena beliau berdua sangat sentral di pondoknya masing-masing. Akan menjadi pengorbanan besar jika harus meninggalkan fokus di pesantren,” ungkapnya.
Menurut Gus Ulib, kepemimpinan pesantren memiliki peran strategis dalam menjaga tradisi keilmuan dan kaderisasi ulama di lingkungan NU. Oleh karena itu, keputusan untuk maju dalam struktur PBNU perlu dipertimbangkan secara matang.
Muktamar NU ke-35 diperkirakan menjadi momentum penting dalam menentukan arah organisasi. Sejumlah nama mulai bermunculan sebagai kandidat Ketua Umum PBNU, baik dari kalangan struktural maupun kultural.
“Jika mengarah ke Jombang, ada beberapa tokoh yang dinilai memiliki kapasitas, seperti Gus Irfan dari Tebuireng yang saat ini menjabat Menteri Haji RI, Gus Ufik dari Darul Ulum yang menjabat di Lembaga PBNU, serta Romahurmuziy yang merupakan mantan Ketua Umum PPP,” ujarnya.(*)
Apa Reaksi Anda?