Tiada Satu Pun Sekutu AS Bersedia Kirim Kapal Perang ke Selat Hormuz
Tidak satupun dari tujuh negara-negara yang diminta Presiden AS, Donald Trump bersedia mengirimkan kapal perangnya untuk ikut terlibat membuka Selat Hormuz.
JAKARTA Tidak satupun dari tujuh negara-negara yang diminta Presiden AS, Donald Trump bersedia mengirimkan kapal perangnya untuk ikut terlibat membuka Selat Hormuz.
Melalui unggahan media sosialnya akhir pekan lalu, Donald Trump meminta partisipasi Jepang, China, Prancis, Korea Selatan, Inggris dan negara-negara sekutunya yang lain untuk terlibat mengamankan Selat Hormuz.
Trump juga mengancam negara-negara NATO, jika tidak membantu mengamankan selat tersebut, maka akan menghadapi masa depan yang sangat buruk.
Kepada China pun, Donald Trump juga telah mengancam akan menunda kunjungannya, jika Beijing tidak memberikan bantuan mengamankan Selat Hormuz.
Hari Minggu kemarin, bahkan dengan entengnya Presiden Trump menyatakan bahwa negara-negara yang sangat bergantung pada minyak dari wilayah Teluk harus bertanggung jawab untuk melindungi Selat Hormuz.
Pada 2 Maret lalu Iran mengumumkan, bahwa Selat Hormuz ditutup dan akan menyerang kapal manapun yang mencoba melintasi jalur air strategis ini, yang dilalui sekitar 20 juta barel minyak setiap hari.
Senin ini, secara resmi Jepang dan Australia mengatakan tidak berniat mengirim kapal perangnya untuk membuka kembali Selat Hormuz setelah ada seruan Trump kepada sekutu Washington dan China untuk membantu mengamankan jalur air vital untuk perdagangan minyak global.
Perdana Menteri Jepang Sanae Takaichi mengatakan negaranya tidak berencana mengirim kapal perang ke Selat Hormuz, karena operasi keamanan maritim apa pun akan "sangat sulit dari sudut pandang hukum".
"Mengingat situasi terkini di Iran , kami tidak berniat melancarkan operasi keamanan maritim," kata Menteri Pertahanan Jepang, Shinjiro Koizumi dalam pidatonya di hadapan parlemen Jepang.
Pengiriman pasukan Jepang ke luar negeri merupakan isu yang sensitif secara politik di Jepang yang secara resmi menganut paham pasifisme, di mana banyak pemilih mendukung konstitusi pasifis yang diberlakukan AS pada tahun 1947.
Dari Australia, Menteri Transportasi Australia, Catherine King mengatakan, negaranya juga tidak akan mengirim kapal perang ke Selat Hormuz untuk membantu melindungi lalu lintas kapal tanker minyak melalui jalur air vital ini.
Catherine King mengatakan kepada Australian Broadcasting Corporation (ABC), menyadari betapa pentingnya mengirim kapal perang ke Selat Hormuz, tetapi kali ini bukanlah sesuatu kami lakukan dan ini bukanlah sesuatu yang kami bantu.
Menteri Australia itu menambahkan, bahwa pihaknya telah menjelaskan dengan sangat jelas bahwa kontribusi Australia adalah sebagai tanggapan atas permintaan, yang sejauh ini terbatas bagi Uni Emirat Arab, dengan menyediakan pesawat untuk membantu pertahanan, mengingat banyaknya warga Australia di wilayah tersebut.
Dari Eropa tidak ada posisi resmi yang mendukung atau menolak permintaan Trump untuk mengamankan Selat Hormuz itu.
Para diplomat dan pejabat mengatakan bahwa menteri luar negeri dan energi Uni Eropa, Senin ini memang sedang membahas penguatan misi angkatan laut Eropa yang kecil di Timur Tengah, tetapi diperkirakan tidak akan memutuskan untuk memperluas perannya hingga Selat Hormuz.
Memecah Belah Negara Muslim
Sementara itu Presiden Iran, Masoud Pezeshkian saat berbicara melalui telepon dengan Presiden Mesir, Abdel Fattah el-Sisi memperingatkan, bahwa AS dan Israel sedang menjalankan kebijakan yang bertujuan untuk melemahkan bahkan memecah belah negara-negara Islam utama.
Pezeshkian dan Abdel Fattah el-Sisi sedang melakukan percakapan telepon untuk membahas perkembangan regional dan internasional menyusul agresi AS-Israel terhadap Iran.
Selama percakapan telepon tersebut, presiden Iran mendesak negara-negara Islam untuk tetap waspada terhadap upaya-upaya untuk menabur perpecahan di dalam dunia Muslim.
Ia menekankan, bahwa negara-negara di kawasan itu tidak boleh membiarkan kekuatan eksternal merusak persatuan dan stabilitas.
Pezeshkian juga mengatakan, Iran sedang menjalan upaya diplomatik ketika tib-tiba diserang secara besar-besaran oleh AS-Israel. Pezeshkian berpendapat, bahwa ini menunjukkan Amerika Serikat tidak mencari solusi yang tulus.
Ia menegaskan bahwa Iran tidak memiliki perselisihan dengan negara-negara Islam, menyebut mereka saudara, sambil menegaskan bahwa tindakan Iran didasarkan pada haknya untuk membela diri.
Ia juga menyambut baik setiap inisiatif dari negara-negara regional untuk memperkuat kerja sama, memulihkan stabilitas, dan mempromosikan perdamaian, seraya mencatat bahwa jutaan warga Iran berpartisipasi dalam demonstrasi Hari Quds Internasional meskipun ada ancaman keamanan.
Empat Pangkalan AS Hancur
Dalam pernyataan yang ke-40 sejak peluncuran Operasi Balas Dendam Janji Sejati 4, Korps Garda Revolusi Islam Iran, mengumumkan Minggu kemarin bahwa Angkatan Laut IRGC telah melakukan serangan tepat dan dahsyat terhadap empat pangkalan udara pasukan AS secara bersamaan.
Selama operasi besar-besaran dan terkoordinasi tersebut, unit rudal dan drone Angkatan Laut IRGC menyerang pusat komando dan kendali, menara kontrol penerbangan, depot pertahanan udara, gudang logistik, dan depot peralatan di pangkalan udara Al Dhafra, pangkalan udara helikopter Al-Udairi, pangkalan Ali al-Salem, dan pangkalan udara Sheikh Issa.
Korps Garda Revolusi Islam (IRGC) menyatakan bahwa berbagai rudal balistik dan rudal jelajah dengan kemampuan serang presisi yang dilengkapi hulu ledak baru, serta drone penghancur, digunakan untuk menyerang target tersebut. (*)
Apa Reaksi Anda?