Bapanas Gandeng Produsen DOC dan Pakan untuk Stabilkan Harga Ayam Pasca-Lebaran 2026
Badan Pangan Nasional (Bapanas) melakukan intervensi multipihak untuk menjaga stabilitas harga ayam hidup yang mulai melemah pasca-Idul Fitri 1447 H. Pemerintah menyiapkan anggaran Rp678 miliar untuk
JAKARTA - Badan Pangan Nasional (Bapanas) memastikan langkah stabilitas harga ayam hidup melalui intervensi multipihak. Upaya ini dilakukan dengan menggandeng pelaku usaha bibit ayam (day old chick/DOC) dan produsen pakan guna menahan pelemahan harga pasca-Ramadan dan Idulfitri 1447 Hijriah.
Deputi Ketersediaan dan Stabilisasi Pangan Bapanas, I Gusti Ketut Astawa, menyatakan bahwa sinergi dengan pelaku usaha di sektor hulu sangat krusial untuk melindungi peternak dari dampak penurunan harga yang signifikan.
"Untuk mengatasi kondisi harga ayam hidup yang mulai memperlihatkan pelemahan usai Ramadan dan Idul Fitri, pemerintah akan bersinergi dengan segenap pelaku usaha yang bergerak di bibit ayam dan juga pakan," ujar Ketut di Jakarta, Jumat (10/4/2026).
Ketut mengungkapkan telah menerima arahan langsung dari Kepala Bapanas sekaligus Menteri Pertanian, Andi Amran Sulaiman, untuk segera memanggil pelaku usaha sektor DOC dan pakan, termasuk pemain skala besar.
"Jangan sampai peternak kita yang kecil terganggu oleh harga ayam yang turun. Tentu kita akan terus bergerak karena memang ini fasenya pasti akan ada penurunan setelah habis Lebaran," imbuhnya.
Berdasarkan pantauan Bapanas, rata-rata harga ayam hidup di tingkat produsen secara nasional berada di kisaran Rp24.076 per kilogram (kg), atau sekitar 3,7 persen di bawah Harga Acuan Pembelian (HAP) yang ditetapkan pemerintah sebesar Rp25.000 per kg.
Di Sumatera Selatan, harga terpantau jatuh hingga Rp21.938 per kg (12,25 persen di bawah HAP). Sebaliknya, di Sulawesi Selatan harga masih bertahan cukup tinggi di angka Rp27.409 per kg atau 9,64 persen di atas HAP.
Sejalan dengan data Badan Pusat Statistik (BPS), daging ayam ras menjadi komoditas dengan andil inflasi tertinggi pada Maret lalu. Meskipun Indeks Perkembangan Harga (IPH) sempat melonjak di 237 kabupaten/kota, tren tersebut mulai mereda pada awal April seiring bertambahnya daerah yang mengalami penurunan harga.
Ketut menekankan pentingnya menjaga keseimbangan harga dari hulu hingga hilir agar tercipta keadilan di setiap rantai pasok.
"Tapi harus berimbang. Tatkala di hulunya menurun, tentu kita harapkan di hilir ini juga harus turun. Jangan sampai di hulunya turun, kemudian hilirnya masih harga tinggi. Nah ini kasihan yang peternaknya," kata Ketut.
Sebagai solusi tambahan, pemerintah telah menyiapkan program Stabilisasi Pasokan dan Harga Pangan (SPHP) jagung pakan tahun 2026 dengan total anggaran Rp678 miliar. Alokasi sebanyak 242 ribu ton jagung disiapkan untuk menekan biaya produksi para peternak unggas.
Secara terpisah, Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman menegaskan bahwa pemerintah tengah menyiapkan solusi permanen untuk mengatasi fluktuasi harga ini di masa depan.
“Solusi permanen adalah membangun pabrik-pabrik pakan dan DOC, itu milik pemerintah. Jangka pendek kami akan panggil tolong pabrik pakan. Jangan naikkan harga,” tegas Amran. (*)
Apa Reaksi Anda?