Atasi Kekurangan 26.000 Fisioterapis, IFI Dorong Sinergi Perguruan Tinggi Penuhi Kebutuhan Nasional

Fisioterapi memegang peran yang sangat esensial dalam memulihkan dan mengoptimalkan fungsi gerak tubuh manusia,

Juni 25, 2026 - 16:30
Atasi Kekurangan 26.000 Fisioterapis, IFI Dorong Sinergi Perguruan Tinggi Penuhi Kebutuhan Nasional

JAKARTA - Fisioterapi memegang peran yang sangat esensial dalam memulihkan dan mengoptimalkan fungsi gerak tubuh manusia, mulai dari tahap rehabilitasi pasca-cedera hingga penanganan kondisi degeneratif.

Seiring dengan pergeseran gaya hidup dan meningkatnya kesadaran akan pentingnya kualitas kesehatan secara menyeluruh, kebutuhan terhadap layanan pemulihan gerak yang berbasis sains (evidence-based) menjadi semakin krusial.

Demi memastikan layanan ini menyentuh seluruh lapisan masyarakat, regulasi kesehatan terbaru bahkan telah mewajibkan penempatan tenaga fisioterapis di setiap Pusat Kesehatan Masyarakat (Puskesmas). Namun, pemenuhan layanan dasar ini tengah menghadapi tantangan berat di lapangan.

Ketua Ikatan Fisioterapi Indonesia (IFI), Parmono Dwi Putro, Ftr., M.M,  menyatakan bahwa sektor kesehatan nasional saat ini tengah mengalami krisis ketersediaan tenaga fisioterapis hingga mencapai 26.000 orang.

Serta, keberadaan fisioterapis di Puskesmas sangat krusial karena layanan kesehatan saat ini tidak hanya berfokus pada pengobatan, tetapi juga pencegahan, pemulihan fungsi, dan peningkatan kualitas hidup masyarakat. Sehingga, Fisioterapis berperan penting dalam menangani gangguan gerak sejak tingkat layanan kesehatan primer. 

Persoalan krusial tersebut menjadi salah satu fokus utama yang dibahas dalam perhelatan Kongres Nasional (KONAS) IFI 2026 dan Temu Ilmiah Tahunan Fisioterapi Indonesia (TITAFI) XXXVIII yang tengah berlangsung pada 11-13 Juni 2026 di Harris Hotel, Malang, Jawa Timur.

Parmono Dwi Putro - 1

Event Director TITAFI XXXVIII dan KONAS IFI 2026, Yohanes Deo, S.Ft., Physio., S.H., M.HKes., M.Kes, memaparkan bahwa angka kekurangan tersebut merujuk pada data regulasi pembiayaan yang dipaparkan oleh pihak BPJS Kesehatan.

Lonjakan kebutuhan ini terjadi seiring adanya aturan ketat yang mewajibkan penempatan minimal satu tenaga fisioterapis pada setiap pusat kesehatan masyarakat (Puskesmas) di seluruh Indonesia.

"Sebenarnya secara regulasi saat ini sudah ada aturan ya berkaitan dengan penerimaan fisioterapi di Puskesmas, itu kan diwajibkan ya. Sedangkan Puskesmas ada 12.000 something di Indonesia, sehingga itu harus terpenuhi.

Maka saat ini organisasi mendorong kampus untuk setidaknya melahirkan fisioterapis-fisioterapis yang paling baru sesuai dengan kompetensi yang dibutuhkan," ujar Yohanes saat diwawancarai di lokasi acara, Jumat 12 Juni 2026.

Yohanes menyebutkan bahwa pemenuhan kesenjangan puluhan ribu tenaga kesehatan sistem gerak tersebut diperkirakan membutuhkan waktu transisi sekitar 10 hingga 15 tahun ke depan.

Oleh karena itu, IFI terus mendorong perguruan tinggi untuk menghasilkan lulusan fisioterapis yang kompeten dan siap menjawab kebutuhan pelayanan kesehatan masyarakat.

Di samping mengejar kuantitas, forum ilmiah tahunan ini sengaja didesain untuk merevolusi paradigma pelayanan klinis dari metode konvensional menuju pendekatan modern berbasis sains (evidence-based).

Melalui peningkatan kemampuan akademik dan klinis ini, para praktisi diharapkan mampu mengintegrasikan teknologi medis terbaru dalam penanganan pasien.

"Jadi goal dari TITAFI ini kan yang pertama adalah bridging evidence ya. Jadi kemampuan akademik dan klinis dari para peserta itu akan meningkat begitu. Karena saat ini pendekatan-pendekatan penanganan kepada pasien itu tidak, tidak boleh lagi konvensional," tegasnya.

"Jadi pendekatan bisa dengan teknologi, bisa dengan teknik-teknik kebaruan, dan di event-event seperti ini merupakan event yang nantinya akan merealisasikan dari goal tersebut," imbuh Yohanes.

Pihak panitia mengonfirmasi bahwa konferensi berskala nasional ini berhasil menyerap kehadiran hingga 1.000 peserta dari berbagai wilayah, termasuk dari Banda Aceh, Sulawesi, hingga Papua.

Kota Malang sengaja dipilih sebagai tuan rumah karena dinilai memiliki lokasi yang strategis dan representatif bagi para peserta yang berada di dalam maupun luar Pulau Jawa.

"Karena memang Malang merupakan satu tempat yang representatif ya karena peserta dari seluruh Jawa bisa mengakses di sini dan bahkan dari Banda Aceh, dari Papua, dari Sulawesi yang jauh-jauh, berani ongkos sih sebenarnya, tapi mau meringankan langkah untuk menghadiri kegiatan pada saat ini," tutur Yohanes.

Dalam rencana jangka panjang, IFI berkomitmen untuk terus meningkatkan grade materi serta kualitas pemateri dalam setiap perhelatan ilmiah tahunan yang diselenggarakan organisasi.

Langkah tersebut diambil sebagai bagian dari strategi profesi untuk memperluas skala standardisasi kompetensi menuju tingkat ASEAN, Asia, hingga internasional.

Demi menyinkronkan kerangka regulasi pelayanan, panitia juga berkomitmen untuk memperkuat kemitraan strategis dengan jajaran kementerian terkait serta manajemen BPJS Kesehatan pada masa mendatang.

Sinergi lintas sektoral ini dinilai sangat krusial agar masyarakat dapat mengakses layanan fisioterapi secara merata, baik di fasilitas kesehatan tingkat dasar maupun tingkat lanjut.

"Memang TITAFI ini merupakan agenda rutin dari organisasi setiap tahunnya. Cuman akan setiap tahun itu akan berbeda karena kita naikkan grade-nya, mulai dari materi maupun pemateri yang akan memberikan informasi berkaitan dengan evidence, kebaruan, berkaitan dengan keilmuan fisioterapi begitu ya," pungkas Yohanes. (*)

Apa Reaksi Anda?

like

dislike

love

funny

angry

sad

wow