Akademisi dan Aktivis Lingkungan Ingatkan Nasib Mata Air Kota Batu

Nasib mata air di Kota Batu, Jawa Timur, menjadi sorotan dari kalangan akademisi dan aktivis lingkungan.

Juni 27, 2026 - 14:46
Akademisi dan Aktivis Lingkungan Ingatkan Nasib Mata Air Kota Batu

BATU - Nasib mata air di Kota Batu menjadi sorotan dalam Diskusi Sosio-Ekologi Hulu-Hilir yang berlangsung di Gedung Simon Stock, Songgoriti, Kelurahan Songgokerto, Kecamatan Batu, beberapa waktu lalu.

Forum yang menjadi bagian dari rangkaian Greenation 2026 itu menghadirkan akademisi, komunitas, dan masyarakat untuk membahas tantangan pelestarian lingkungan di kawasan hulu.

Dosen Sosiologi Universitas Brawijaya, Anton Novianto, mengatakan persoalan lingkungan tidak hanya dipengaruhi faktor alam, tetapi juga berkaitan erat dengan aktivitas sosial dan ekonomi masyarakat. Menurutnya, keseimbangan antara pembangunan dan kelestarian lingkungan harus menjadi perhatian bersama.

"Dari Songgoriti, kita diajak melihat bagaimana lanskap alam dan lanskap sosial saling memengaruhi serta membentuk masa depan suatu wilayah," ujarnya.

Perhatian forum kemudian mengerucut pada kondisi mata air di Kota Batu yang dinilai menghadapi tantangan serius. Pembangunan tentu mengancam keberlangsungan mata air.

"Sebagai kawasan hulu, keberadaan sumber air tersebut memiliki peran penting dalam menopang kebutuhan masyarakat di Kota Batu maupun daerah hilir," ungkapnya.

Melalui diskusi tersebut, para peserta sepakat bahwa menjaga mata air tidak dapat dilakukan oleh satu pihak saja. 

"Sinergi antara akademisi, komunitas, pemerintah, dan masyarakat dinilai menjadi kunci untuk mempertahankan fungsi kawasan hulu sekaligus menjamin ketersediaan sumber air bagi generasi mendatang," urainya.

Perwakilan Komunitas Saber Pungli Sungai, Herman Aga, mengatakan perlindungan mata air harus menjadi tanggung jawab bersama. Menurutnya, diperlukan kajian yang komprehensif agar upaya pelestarian dilakukan secara tepat dan berkelanjutan.

“Kondisi mata air perlu menjadi perhatian bersama. Ini bukan hanya persoalan lingkungan, tetapi juga menyangkut masa depan masyarakat. Karena itu diperlukan kajian yang lebih mendalam dan kolaborasi lintas sektor agar langkah yang diambil benar-benar tepat dan berkelanjutan," tegasnya.

Perlu diketahui, dalam diskusi diawali dengan pemutaran film dokumenter berjudul Songgoriti yang menampilkan perubahan bentang alam dan sosial akibat pesatnya pembangunan serta berkembangnya sektor pariwisata. Film tersebut menjadi pengantar bagi peserta untuk melihat kondisi lingkungan Kota Batu dari berbagai sudut pandang. (*)

Apa Reaksi Anda?

like

dislike

love

funny

angry

sad

wow