Wukuf Arafah 1447 H, Menteri Haji Tegaskan Negara Hadir Lebih Dekat Layani Jemaah Indonesia

Menteri Haji Mochamad Irfan Yusuf, menegaskan penyelenggaraan ibadah haji 2026 menjadi momentum pembuktian bahwa negara hadir lebih dekat melayani jemaah.

Mei 26, 2026 - 19:31
Wukuf Arafah 1447 H, Menteri Haji Tegaskan Negara Hadir Lebih Dekat Layani Jemaah Indonesia

ARAB SAUDI - Menteri Haji dan Umrah Republik Indonesia Mochamad Irfan Yusuf, menegaskan penyelenggaraan ibadah haji 1447 Hijriah menjadi momentum pembuktian bahwa negara hadir lebih dekat, lebih fokus, dan lebih terarah dalam melayani jemaah Indonesia. 

Penegasan itu disampaikan saat kegiatan wukuf di Arafah, Selasa (26/5/2026), di tengah kesiapan puncak haji yang kini memasuki fase Armuzna.

Dalam sambutannya di Padang Arafah, Menteri Haji dan Umrah menyebut tahun ini menjadi tonggak penting penyelenggaraan ibadah haji Indonesia. Sebab, untuk pertama kalinya pelaksanaan haji berlangsung dalam kerangka kelembagaan baru di bawah Kementerian Haji dan Umrah Republik Indonesia.

“Pelayanan haji tahun ini harus menjadi bukti bahwa negara hadir lebih fokus, lebih terarah, dan lebih dekat kepada jemaah,” tegas Menteri Haji dan Umrah di hadapan jemaah haji Indonesia.

Momentum wukuf di Arafah, kata dia, bukan sekadar puncak ibadah haji, tetapi juga ruang refleksi spiritual bagi jutaan umat Islam dari berbagai negara yang datang dengan tujuan sama: mendekatkan diri kepada Allah SWT.

“Hari ini kita berada di Arafah. Di tempat yang mulia ini, jutaan manusia datang dengan pakaian yang sama, doa yang sama, dan harapan yang sama. Semua menundukkan diri di hadapan Allah SWT,” ujarnya.

Pemerintah mencatat seluruh fase keberangkatan jemaah haji Indonesia dari Tanah Air telah rampung. Berdasarkan data operasional Kementerian Haji dan Umrah, sebanyak 527 kelompok terbang (kloter) dengan total 202.551 jemaah haji reguler serta 2.098 petugas telah tiba di Makkah. Selain itu, terdapat 16.596 jemaah haji khusus yang juga sudah berada di Arab Saudi.

Saat ini, fokus pelayanan diarahkan pada kesiapan fase Arafah, Muzdalifah, dan Mina (Armuzna). Berbagai aspek layanan diperkuat, mulai dari kesiapan tenda, distribusi konsumsi, transportasi, kesehatan, pelindungan jemaah, hingga penempatan petugas di titik-titik strategis.

Menteri menekankan penyelenggaraan haji tahun ini mengusung arah besar Tri Sukses Haji. Pertama, sukses ritual yang memastikan ibadah jemaah berjalan sah, tertib, dan khusyuk. Kedua, sukses ekosistem ekonomi haji yang diharapkan memberi manfaat lebih luas bagi bangsa melalui tata kelola layanan yang akuntabel. Ketiga, sukses keadaban dan peradaban, yakni melahirkan pribadi-pribadi yang lebih disiplin, sabar, dan membawa dampak positif setelah kembali ke Tanah Air.

Di tengah tingginya mobilitas jemaah pada fase puncak haji, pemerintah juga menyiapkan skema murur bagi jemaah lanjut usia, risiko tinggi, serta penyandang komorbid berikut pendampingnya. Skema tersebut memungkinkan jemaah bergerak dari Arafah menuju Mina tanpa turun dan bermalam di Muzdalifah.

Kebijakan itu disebut sebagai upaya menjaga keseimbangan antara keselamatan jiwa (hifz an-nafs) dan keabsahan ibadah (hifz ad-din).

“Skema ini mengurangi kepadatan, menekan kelelahan, dan tetap menjaga rangkaian manasik sesuai bimbingan petugas,” terang Menteri.

Selain itu, pemerintah menegaskan komitmen menghadirkan layanan Haji Ramah Lansia, Disabilitas, dan Perempuan. Seluruh petugas diminta hadir dengan pendekatan yang lebih empatik dan memahami kebutuhan khusus jemaah selama fase Armuzna.

Untuk mendukung kelancaran ibadah, pemerintah menyiapkan 15 porsi makanan siap santap bercita rasa Nusantara selama fase puncak haji. Distribusi konsumsi telah dimulai sejak 6 Dzulhijjah agar jemaah dapat lebih fokus menjalankan ibadah.

Pengawasan layanan juga diperkuat melalui sistem digitalisasi, termasuk Command Center dan aplikasi Kawal Haji guna mempercepat respons petugas berbasis data lapangan.

Dalam tata kelola dam, Kementerian Haji dan Umrah mencatat sekitar 145.341 jemaah telah melakukan pembayaran. Sebanyak 102.364 pembayaran dilakukan melalui Adahi di Arab Saudi, sedangkan 38.992 lainnya menggunakan mekanisme di Indonesia. Sebagian besar distribusi daging dam jemaah Indonesia diarahkan untuk membantu masyarakat Palestina melalui koordinasi dengan otoritas Arab Saudi.

Menutup sambutannya, Menteri mengingatkan jemaah agar memanfaatkan waktu wukuf dengan memperbanyak doa, zikir, dan istigfar, serta tetap disiplin mengikuti arahan petugas.

“Arafah adalah ruang muhasabah. Karena itu, sisa waktu wukuf harus diisi dengan doa, istighfar, zikir, dan kepatuhan kepada arahan petugas,” pesannya.

Jemaah juga diimbau menjaga kesehatan dengan cukup beristirahat, membawa obat pribadi, dokumen identitas, masker, botol minum, serta perlengkapan ibadah selama menjalani rangkaian puncak haji. (*/MCH 2026)

Apa Reaksi Anda?

like

dislike

love

funny

angry

sad

wow