UNIPMA–UKSW Gelar Kuliah Umum, Bahas Inovasi Pembelajaran Biologi Berbasis Kecerdasan Artifisial
Unipma Madiun (Universitas PGRI Madiun) bersama Universitas Kristen Satya Wacana (UKSW) Salatiga meyelenggarakan kuliah umum daring
MADIUN - Unipma Madiun (Universitas PGRI Madiun) bersama Universitas Kristen Satya Wacana (UKSW) Salatiga meyelenggarakan kuliah umum daring bertema “Penyusunan Bahan Ajar dan Media Pembelajaran Biologi Berbasis Kecerdasan Artifisial” pada Jumat (12/06/2026). Kegiatan ini menjadi bagian dari implementasi kerja sama antarlembaga dalam penguatan inovasi pendidikan tinggi, khususnya pada bidang pendidikan biologi yang adaptif terhadap perkembangan teknologi digital.
Kuliah umum ini diikuti oleh mahasiswa program studi Pendidikan Biologi dari UKSW dan Unipma Madiun, serta dihadiri oleh para dosen dan ketua program studi dari kedua institusi. Narasumber pada acara ini adalah Dr. Wachidatul Linda Yuhanna, M.Si. (dosen Unipma Madiun dan pegiat literasi).
Acara dibuka oleh Dekan Fakultas Biologi UKSW Drs. Rully Adi Nugroho, M.Sc., Ph.D. dan disambut oleh Kaprodi Pendidikan Biologi UNIPMA, Nurul Kusuma Dewi, M.Sc.
“Transformasi digital dalam dunia pendidikan bukan lagi pilihan, melainkan kebutuhan mendesak yang harus direspons oleh institusi pendidikan tinggi, sebagai bentuk adaptasi perkembangan zaman” ungkap Rully.
Dia menyoroti bahwa pemanfaatan teknologi seperti kecerdasan artifisial dapat meningkatkan efektivitas pembelajaran, khususnya dalam bidang sains yang membutuhkan visualisasi dan simulasi kompleks.
Antusiasme peserta terlihat sejak awal kegiatan, terutama pada sesi pemaparan materi dan diskusi yang membahas integrasi kecerdasan artifisial dalam pengembangan perangkat pembelajaran berbasis kurikulum modern. Narasumber memaparkan secara komprehensif mengenai strategi penyusunan bahan ajar serta media pembelajaran biologi berbasis kecerdasan artifisial.
“Kecerdasan artifisial memiliki peran strategis dalam mendukung proses pembelajaran yang lebih personal, adaptif, dan berbasis data dalam konteks pembelajaran biologi” ungkap Dr. Linda Yuhanna.
AI dapat dimanfaatkan untuk mengembangkan media visual interaktif, simulasi sistem biologis, hingga generative content yang membantu mahasiswa memahami konsep abstrak seperti genetika, ekologi, dan fisiologi secara lebih konkret. Selain itu, AI juga dapat digunakan untuk menganalisis kebutuhan belajar mahasiswa sehingga dosen dapat menyesuaikan strategi pembelajaran secara lebih tepat.
Lebih lanjut, Dr. Linda menjelaskan bahwa pengembangan bahan ajar berbasis AI tidak hanya berkaitan dengan teknologi, tetapi juga menyangkut aspek pedagogi dan etika. Dosen, guru dan mahasiswa calon guru tetap memiliki peran sentral sebagai perancang pembelajaran, sementara AI berfungsi sebagai alat bantu yang memperkuat efektivitas proses pendidikan. Oleh karena itu, pemahaman terhadap batasan penggunaan AI menjadi hal penting yang perlu diperhatikan oleh pendidik.
Selama sesi diskusi berlangsung, peserta aktif dengan berbagai pertanyaan dari mahasiswa dan dosen. Beberapa topik yang mengemuka antara lain validitas sumber informasi yang dihasilkan AI, tantangan implementasi di lingkungan pendidikan Indonesia, serta potensi ketergantungan mahasiswa terhadap teknologi.
Diskusi ini menunjukkan adanya kesadaran kritis peserta terhadap perkembangan teknologi pendidikan yang sangat cepat. Selain itu, peserta juga menyoroti pentingnya literasi digital dalam penggunaan AI di dunia akademik. “Pembahasan kuliah umum ini snagat menarik, banyak sekali informasi dan strategi dalam menggunakan AI untuk membantu pengembangan bahan ajar dan media pembelajaran biologi” ungkap Tharriq salah seorang mahasiswa Prodi Pendidikan Biologi UNIPMA Madiun.
Sebagai bagian akhir kegiatan, UKSW dan Unipma Madiun berkomitmen untuk memperluas kerjasama dalam bidang pengembangan bahan ajar digital, pelatihan dosen, serta penelitian kolaboratif di bidang pendidikan biologi berbasis kecerdasan artifisial. Kolaborasi ini diharapkan mampu mempercepat transformasi pendidikan tinggi menuju ekosistem pembelajaran yang lebih inovatif, adaptif, dan relevan dengan kebutuhan era digital. (*)
Apa Reaksi Anda?