Uni Eropa Siapkan Pertemuan Diplomatik Tanpa Donald Trump
Uni Eropa yang geram juga berencana untuk mengecilkan Trump dari misi pasca-perang di Selat Hormuz.
JAKARTA - Uni Eropa geram. Presiden AS Donald Trump tidak akan diajak pada acara pertemuan diplomatik di Paris yang akan dimotori Inggris dan Prancis, Jumat (17/4/2026) besok
Presiden Prancis, Emmanuele Macron mengecam Trump atas sikapnya yang 'agresif' terhadap Iran, sementara Eropa yang geram juga berencana untuk mengucilkannya dari misi pasca-perang di Selat Hormuz.
Emmanuel Macron mengumumkan, acara diplomatik yang dimotori Inggris dan Prancis itu akan membahas krisis di Selat Hormuz, dan secara khusus mengecualikan Presiden Donald Trump dari acara tersebut.
Dalam sebuah unggahan di X, Macron mendesak agar selat tersebut dibuka 'sesegera mungkin'. Pengumuman itu menyusul percakapan dengan Presiden Iran Masoud Pezeshkian.
Pertemuan itu akan melibatkan 'negara-negara non-agresif yang siap berkontribusi, bersama kami, pada misi multilateral dan murni defensif yang bertujuan untuk memulihkan kebebasan navigasi di selat tersebut ketika kondisi keamanan memungkinkan,' tulis Macron.
Negara-negara 'agresif' yang disebut Macron kemungkinan termasuk Israel, Amerika Serikat. Langkah ini diambil ketika beberapa negara Eropa mulai mengecualikan Trump dari perencanaan Timur Tengah pasca-perang.
Koalisi yang sedang berkembang ini bermaksud untuk mengerahkan sumber daya militer dan membantu operasi pembersihan ranjau untuk melindungi kapal-kapal komersial yang melewati jalur perairan vital tersebut.
Dalam sebuah wawancara yang ditayangkan Rabu pagi, Trump menyatakan Selat Hormuz ' terbuka secara permanen ' setelah berbicara secara rahasia dengan Presiden China, Xi Jinping , dan mengklaim bahwa pemimpin China itu setuju untuk berhenti mempersenjatai Iran.
Namun Gedung Putih kemudian mengatakan kepada Daily Mail bahwa pernyataan tersebut membantah klaim Presiden, dan mengatakan blokade masih berlanjut.
"Amerika Serikat tidak membutuhkan bantuan dari negara lain mana pun. Blokade tersebut berjalan dengan sempurna, dilaksanakan oleh Angkatan Laut terhebat di dunia, sementara angkatan laut Iran berada di dasar laut," jawab juru bicara Gedung Putih, Olivia Wales.
Sementara Presiden Prancis Emmanuel Macron, Selasa kemarin mengumumkan, bahwa Prancis dan Inggris akan menggelar acara diplomatik di Paris Jumat besok untuk membahas krisis di Selat Hormuz, dengan secara khusus mengecualikan Presiden Trump dari acara tersebut.
Sumber yang mengetahui masalah tersebut mengatakan kepada Wall Street Journal, para diplomat Prancis meyakini bila Trump berpartisipasi dalam rencana strategi mereka untuk Selat Hormuz itu akan membuat proposal mereka kurang menarik bagi Iran dan membahayakan kemajuan diplomatik.
Namun, para pejabat Inggris dilaporkan telah menyatakan kekhawatiran bahwa dengan mengesampingkan pemimpin AS, maka akan membuat Trump semakin marah dan menciptakan hambatan diplomatik lebih lanjut.
Perdana Menteri Inggris Keir Starmer telah mengindikasikan bahwa ia ingin tetap menjaga jarak dari gesekan yang sedang berlangsung antara Amerika Serikat dan Iran.
"Kami tidak mendukung blokade," kata Starmer kepada BBC. "Keputusan saya sangat jelas bahwa apa pun tekanannya, dan memang ada tekanan yang cukup besar, kami tidak akan terseret ke dalam perang," tegasnya.
Tujuan utama koalisi ini adalah untuk memastikan perusahaan pelayaran merasa yakin akan keselamatan pelayaran melalui Selat Hormuz setelah permusuhan aktif berakhir.
Strategi ini termasul rencana untuk menyelamatkan kapal yang terdampar, melaksanakan operasi pembersihan ranjau untuk menghilangkan ranjau Iran, dan membentuk program untuk personel militer.
Menteri Luar Negeri Prancis, Jean-Noel Barrot menyatakan pada hari Selasa bahwa misi tersebut bergantung pada stabilitas regional.
"Misi yang kami maksud hanya dapat dikerahkan setelah keadaan tenang kembali dan permusuhan telah berakhir," kata Barrot.
Menurut Journal, Jerman kemungkinan juga akan bergabung dalam operasi tersebut dan bisa secara resmi berkomitmen pada rencana tersebut paling cepat minggu ini.
Gedung Putih tidak segera menanggapi permintaan komentar.
Donald Trump sendiri sudah sering mengecam dan mencari sekutu NATO karena 'tidak melakukan apa pun' untuk membantunya memerangi Iran dan memblokade Selat Hormuz, bahkan mengancam akan menarik AS keluar dari NATO. (*)
Apa Reaksi Anda?