UMBY dan UMK Malaysia Cetak Sociopreneur Muda, Bangun Mental Tangguh Gen Z

Di tengah tantangan ekonomi global dan pesatnya perubahan dunia kerja, generasi muda dituntut tidak hanya memiliki kemampuan akademik, tetapi juga mental tangguh, adaptif, serta keberanian menciptakan

Juli 3, 2026 - 13:00
UMBY dan UMK Malaysia Cetak Sociopreneur Muda, Bangun Mental Tangguh Gen Z

YOGYAKARTA - Di tengah tantangan ekonomi global dan pesatnya perubahan dunia kerja, generasi muda dituntut tidak hanya memiliki kemampuan akademik, tetapi juga mental tangguh, adaptif, serta keberanian menciptakan peluang usaha yang berdampak bagi masyarakat.

Menjawab tantangan tersebut, Program Studi Psikologi Universitas Mercu Buana Yogyakarta (UMBY) berkolaborasi dengan Universiti Malaysia Kelantan (UMK) menggelar International Cross-Country Webinar bertajuk 'From Fragile to Fearless: Empowering Gen Z for Successful Kickstart of Social Venture'.

Kegiatan yang berlangsung secara daring melalui Zoom Meeting dan disiarkan langsung melalui YouTube pada Rabu (24/6/2026) ini mendapat sambutan luar biasa.

Sebanyak 186 peserta dari Indonesia dan Malaysia mengikuti webinar yang menjadi bagian dari Program Pengabdian kepada Masyarakat (PkM) tersebut.

Webinar internasional ini tidak sekadar membahas teori kewirausahaan. Peserta diajak memahami bagaimana membangun karakter, memperkuat daya juang, hingga mengembangkan keberanian untuk memulai usaha berbasis sosial atau sociopreneurship yang mampu memberikan manfaat nyata bagi masyarakat.

Kolaborasi Internasional Perkuat Jejaring Akademik

Rektor UMBY, Dr. Ir. Agus Slamet, S.TP., M.P., MCE., mengatakan kolaborasi lintas negara tersebut menjadi bentuk nyata komitmen universitas dalam memperluas kerja sama internasional sekaligus meningkatkan kualitas pendidikan, penelitian, dan pengabdian kepada masyarakat.

Menurutnya, sinergi antara UMBY dan UMK tidak hanya menjadi ruang bertukar wawasan, tetapi juga membuka peluang lahirnya berbagai program akademik bersama.

"Selain bertukar ilmu pengetahuan, kerja sama ini diharapkan mampu memicu lahirnya riset bersama (joint research) dan publikasi internasional bereputasi antara dosen UMBY dan UMK," ujar Agus Slamet dalam siaran pers, Jumat (3/7/2026).

Ia berharap kerja sama serupa dapat terus dikembangkan sebagai upaya meningkatkan daya saing perguruan tinggi di tingkat global.

 Gen Z Harus Berani Keluar dari Zona Nyaman

Webinar dipimpin oleh Rani Rengganis, M.Si., Ph.D. selaku ketua kegiatan bersama tim yang terdiri dari Prof. Dr. Alimatus Sahrah, M.Si., M.M., Psikolog, Dr. Purnaning Dhyah Guritno, M.Sc., dan Dr. Mohamad Hazeem bin Mohmad Sidik dari Universiti Malaysia Kelantan.

Dalam pemaparannya, Prof. Alimatus Sahrah menyoroti masih banyak generasi muda yang memiliki ide kreatif namun gagal berkembang karena terlalu lama menunggu kondisi yang dianggap sempurna.

Menurutnya, keberhasilan dalam dunia usaha justru dimulai dari keberanian mengambil langkah pertama.

Ia menegaskan bahwa tindakan nyata jauh lebih berharga dibandingkan sekadar memiliki rencana besar tanpa eksekusi.

"Jangan menunggu semuanya sempurna. Langkah kecil yang dilakukan hari ini jauh lebih berarti daripada ide besar yang hanya disimpan," pesannya kepada peserta.

 

umby
-

Bangun Mental Tangguh dengan Konsep HERO

Sementara itu, Dr. Purnaning Dhyah Guritno mengajak peserta membangun ketahanan mental melalui konsep psikologi positif HERO, yang terdiri atas Hope, Efficacy, Resilience dan Optimism.

Menurutnya, kemampuan seseorang menghadapi tantangan tidak hanya ditentukan oleh keterampilan teknis, tetapi juga oleh cara berpikir yang sehat.

Ia memperkenalkan metode cognitive reframing, yakni mengubah sudut pandang negatif menjadi lebih positif sehingga individu mampu fokus pada hal-hal yang dapat dikendalikan daripada terjebak pada berbagai hambatan.

Pendekatan tersebut dinilai penting bagi Generasi Z yang saat ini hidup di tengah tekanan sosial, persaingan global, serta derasnya arus informasi digital.

 Bekal Praktis Membangun Social Venture

Dari sisi bisnis, Dr. Mohamad Hazeem bin Mohmad Sidik memberikan panduan sederhana mengenai penyusunan model usaha melalui konsep Business Canvas yang disederhanakan menjadi Simple Map.

Model tersebut membantu peserta memahami empat aspek penting dalam membangun usaha, yakni menentukan target pasar (Who the Destination), solusi yang ditawarkan (What the Route/Solution), nilai keunikan produk atau layanan (Uniqueness), serta sumber daya yang dimiliki (Resources/The Fuel).

Melalui pendekatan praktis tersebut, peserta didorong mampu menyusun bisnis sosial yang tidak hanya menghasilkan keuntungan ekonomi, tetapi juga memberikan dampak positif bagi masyarakat.

Salah satu contoh social venture yang dibahas adalah program pemberdayaan masyarakat berpenghasilan rendah melalui pelatihan keterampilan, pendampingan usaha mikro, hingga bantuan pemasaran produk.

Model bisnis seperti ini dinilai mampu meningkatkan kemandirian ekonomi masyarakat sekaligus menciptakan manfaat sosial yang berkelanjutan.

Peserta Langsung Terdorong Memulai Usaha

Antusiasme peserta terlihat sepanjang sesi diskusi yang dipandu Rani Rengganis. Berbagai pertanyaan mengenai cara memulai usaha, membangun kepercayaan diri, hingga strategi mengembangkan bisnis sosial menjadi pembahasan yang menarik.

Salah satu peserta, Yasvi Mardiana, mengaku memperoleh inspirasi yang langsung dapat diterapkan setelah mengikuti webinar tersebut.

Ia bahkan telah menyusun rencana bisnis sederhana yang akan segera direalisasikan.

"Saya semakin mantap menyusun ide yang saya miliki dalam 24 jam ke depan, yaitu menyediakan makanan dan minuman untuk mahasiswa yang berkuliah hari Sabtu di saat kantin tutup. Harganya bersahabat, dan pengantaran bisa COD langsung ke kelas," ungkap Yasvi.

Menurutnya, webinar tersebut membuka cara pandangnya bahwa peluang usaha bisa dimulai dari kebutuhan sederhana di lingkungan sekitar.

Menutup kegiatan, Rani Rengganis menegaskan bahwa tantangan terbesar Generasi Z saat ini bukan lagi mencari ide, melainkan berani mengubah ide tersebut menjadi tindakan nyata.

Ia mengajak seluruh peserta membiasakan diri melakukan langkah konkret, sekecil apa pun, dalam waktu 24 jam setelah mendapatkan inspirasi.

"Yang paling penting adalah membingkai ulang pola pikir dari negatif menjadi positif. Ubah perspektif terhadap tantangan menjadi peluang, lalu wujudkan ide melalui tindakan kecil yang bisa dilakukan mulai hari ini," jelasnya.

Persiapkan Generasi Muda Hadapi Perubahan Global

Melalui kolaborasi internasional ini, UMBY dan Universiti Malaysia Kelantan berharap semakin banyak generasi muda yang memiliki mental tangguh, berpikir kreatif, serta mampu menciptakan usaha yang memberi manfaat ekonomi sekaligus dampak sosial bagi masyarakat.

Lebih dari sekadar berbagi ilmu, webinar ini menjadi ruang kolaborasi lintas negara untuk melahirkan calon-calon sociopreneur yang siap menghadapi perubahan global dengan karakter adaptif, resilien, dan inovatif.

Dengan semangat tersebut, UMBY dan UMK optimistis Generasi Z tidak hanya menjadi pencari kerja, tetapi juga mampu tampil sebagai pencipta lapangan kerja sekaligus agen perubahan sosial di masa depan. (*)

Apa Reaksi Anda?

like

dislike

love

funny

angry

sad

wow