Tulip Psikologi Bekali Guru Banyuwangi Tangani Siswa Tantrum dan Wujudkan Kelas Inklusif

Menghadapi ragam karakter siswa di kelas bukan perkara mudah. Apalagi ketika guru harus berhadapan dengan anak berkebutuhan khusus hingga situasi tantrum yang bisa muncul tiba-tiba.

Juni 22, 2026 - 15:29
Tulip Psikologi Bekali Guru Banyuwangi Tangani Siswa Tantrum dan Wujudkan Kelas Inklusif

BANYUWANGI - Menghadapi ragam karakter siswa di kelas bukan perkara mudah. Apalagi ketika guru harus berhadapan dengan anak berkebutuhan khusus hingga situasi tantrum yang bisa muncul tiba-tiba.

Ya, kondisi inilah yang kemudian mendorong Biro Tulip Psikologi menghadirkan strategi khusus melalui Workshop Manajemen Kelas Inklusi bagi para guru di Banyuwangi agar proses pembelajaran di kelas bisa berjalan lebih ramah, adaptif, sekaligus tepat sasaran.

Tak sekadar teori, kegiatan yang digeber di Luminor Hotel Banyuwangi, pada Senin (22/6/2026) ini juga menghadirkan praktik langsung agar guru lebih siap menghadapi dinamika di kelas.

Tulip Psikologi Bekali Guru Banyuwangi Tangani Siswa Tantrum - 2Direktur Biro Tulip Psikologi, Dhea Dana Mariska, M.Psi, Psikolog., saat memberikan materi. (FOTO: Ikromil Aufa/TIMES Indonesia)

Direktur Biro Tulip Psikologi, Dhea Dana Mariska, M.Psi., Psikolog., menjelaskan bahwa kegiatan ini digelar sebagai upaya untuk memperkuat pemahaman guru dalam menghadapi keberagaman kebutuhan siswa di sekolah.

Menurutnya, guru tidak hanya dituntut mengajar secara akademik, tetapi juga mampu memahami kondisi kognitif maupun emosional peserta didik, terutama dalam konteks pendidikan inklusif.

“Materi yang disampaikan cukup lengkap, mulai dari asesmen inklusi, manajemen kelas inklusi, penanganan perilaku siswa di kelas, hingga studi kasus yang dibedah bersama serta latihan praktik,” kata Dhea yang juga narasumber dalam acara tersebut.

Dalam kegiatan yang berlangsung interaktif tersebut, para peserta juga mendapat pendampingan langsung dari sejumlah narasumber, termasuk Founder Katalion, Andhika Chandra Ajie, M.Psi., Psikolog.

Di bawah panduan para pemateri, guru-guru dibekali keterampilan praktis untuk menghadapi berbagai situasi di kelas, termasuk ketika siswa mengalami tantrum atau ledakan emosi yang tidak terkendali. 

Pendekatan yang diberikan menekankan pada respons yang tepat, tenang, serta tetap berpihak pada kebutuhan perkembangan anak, sehingga proses belajar tetap dapat berjalan kondusif di lingkungan kelas inklusif.

“Harapannya, guru-guru bisa menerapkan pembelajaran inklusif ini di sekolah masing-masing, sehingga semua anak, termasuk yang berkebutuhan khusus, bisa mendapatkan hak belajar yang sama sesuai kemampuannya,” tutur Pengurus HIMPSI se-Karesidenan Besuki dan Lumajang itu.

Ketua Umum HIMPSI, Andik Matulessy, M.Si., Psikolog., mengapresiasi atas pelaksanaan workhsop yang digelar Biro Tulip Psikologi tersebut.

Andik menyebut, pendidikan inklusi tidak sekadar menempatkan anak dengan kebutuhan beragam dalam satu ruang kelas, melainkan merupakan upaya menghadirkan keadilan pendidikan bagi seluruh peserta didik.

Tulip Psikologi Bekali Guru Banyuwangi Tangani Siswa Tantrum - 1Suasana Workshop Manajemen Kelas Inklusi. (FOTO: Ikromil Aufa/TIMES Indonesia)

“Pendidikan inklusi adalah memastikan setiap anak memiliki kesempatan yang sama untuk tumbuh, belajar, dan berkembang sesuai potensi terbaiknya,” ujarnya.

Namun demikian, Andik juga menyoroti tantangan besar yang dihadapi guru di lapangan. Guru, kata dia, kerap dituntut untuk mengelola beragam kebutuhan akademik, emosi, dan perilaku siswa dalam waktu yang bersamaan, sehingga tidak jarang mengalami kelelahan.

“Tantangan terbesar bukan pada anak-anak yang beragam, tetapi pada bagaimana sistem pendidikan mampu mendukung guru agar tidak bekerja sendirian,” tegasnya.

Sementara itu, salah satu peserta workshop dari Azzahra Daycare, Kurnia Azizah, S.Pd., mengaku kegiatan tersebut sangat membantu dalam meningkatkan pemahaman dan keterampilan pendidik dalam menghadapi anak dengan berbagai karakter.

Dia mengungkapkan, selama ini pihaknya memang kerap menjumpai peserta didik dengan kebutuhan perhatian khusus, sehingga diperlukan pendekatan yang lebih tepat dalam proses pendampingan.

“Harapannya setelah ini tentu bisa memberikan layanan yang lebih baik lagi untuk semua anak, baik yang reguler maupun yang berkebutuhan khusus, agar mereka tetap mendapatkan hak belajar yang sama dan merasa nyaman di lingkungan belajar,” harapnya.

Di tengah tantangan yang masih dihadapi guru dalam mengelola keberagaman siswa, kegiatan ini menjadi pengingat bahwa dukungan, keterampilan, dan kolaborasi adalah kunci utama mewujudkan pendidikan inklusif yang sesungguhnya, bukan sekadar wacana.

Lebih dari sekadar pelatihan, kegiatan ini meninggalkan pesan bahwa setiap anak berhak dipahami, bukan hanya diajar. Dari ruang workshop, harapan itu dibawa pulang oleh para guru untuk diwujudkan di ruang-ruang kelas mereka masing-masing. (*)

Apa Reaksi Anda?

like

dislike

love

funny

angry

sad

wow