Trump Menyerah, Iran Kemungkinan Dibolehkan Melanjutkan Pengayaan Uraniumnya
Sabtu kemarin, Iran mengatakan memang telah menerima konsep proposal baru dari Amerika Serikat.
JAKARTA - Donald Trump "menyerah" menghadapi kegigihan Iran dan sedang mempertimbangkan kesepakatan yang akan memungkinkan negara itu untuk melanjutkan pengayaan uranium dalam satu dekade.
Keputusasaan Trump yang mengejutkan dari program nuklir Iran itu terjadi setelah ia berteriak-teriak kepada para jenderal tingginya dalam kekacauan yang berlangsung berjam-jam.
Dilansir Daily Mail, Donald Trump sedang mempertimbangkan kesepakatan yang akan memungkinkan Iran untuk melanjutkan pengayaan uranium dalam satu dekade, dan sudah pernah ia teriakkan kepada para jenderal utamanya setelah Iran menembak jatuh dua pilot Amerika Serikat beberapa hari lalu itu.
Menurut New York Times, konsep terbaru yang disusun AS mengharuskan Iran untuk menangguhkan pengayaan uranium selama sepuluh tahun, kemudian mengizinkannya memproduksi sejumlah kecil uranium yang diperkaya rendah selama satu dekade berikutnya .
Trump meminta penangguhannya selama 20 tahun karena ia khawatir jika kurang dari itu, kesepakatannya akan terlihat terlalu mirip dengan perjanjian nuklir tahun 2015 yang akhirnya ia batalkan.
Kesepakatan nuklir yang ditandatangani oleh Barack Obama melarang Iran untuk memperkaya uranium di atas tingkat sipil selama 15 tahun.
Namun, tampaknya kini Teump menunjukkan fleksibilitas baru dalam masalah ini seiring upayanya untuk mengakhiri perang, ditambah pula setelah ia membuat perselisihan pribadi dengan para penasihat militer utamanya.
Menurut laporan terbaru yang dirilis oleh Wall Street Journal, Trump 'berteriak kepada para ajudannya selama berjam-jam' setelah jatuhnya sebuah jet Amerika awal bulan lalu.
Presiden Donald Trump sempat 'dijauhkan dari ruangan' berkumpulnya para jenderalnya saat mengadakan pertemuan, dan timnya kemudian diberi informasi setiap menitnya.
Pada tanggal 3 April, sebuah pesawat F-15E Strike Eagle dengan dua awak ditembak jatuh oleh pasukan Iran dalam sebuah keberhasilan dramatis dalam perang tersebut.
Pesawat itu diyakini sebagai pesawat AS pertama yang ditembak jatuh oleh tembakan Iran selama konflik tersebut, karena gambar puing-puingnya beredar luas di media sosial.
Menurut laporan tersebut, setelah mendengar berita itu, gambaran krisis sandera Iran tahun 1979 sangat membekas di benak Trump.
Trump dilaporkan menuntut agar militer segera mengevakuasi para pilot, tetapi pasukan AS belum berada di Iran sejak pembunuhan yang dilakukan AS bersama Israel terhadap Pemimpin Tinggi Republik Revolusi Islam Iran, Sayed Ali Khamenei beserta sejumlah jendralnya yang kemudian menyebabkan krisis sandera tersebut.
"Para ajudan hanya memberikan informasi terbaru kepada Trump pada momen-momen penting," kata seorang pejabat senior pemerintahan kepada media tersebut.
Meskipun satu pilot berhasil diselamatkan tujuh jam kemudian, pilot lainnya tetap hilang hingga Sabtu malam, ketika akhirnya ia diselamatkan dalam operasi evakuasi yang penuh risiko. Trump dikabarkan baru tidur setelah pukul 2 pagi.
Senin pagi kemarin, Trump mengeluarkan pernyataan pada yang mengklaim Israel tidak pernah membujuknya untuk memerangi Iran.
"Hasil pemilu 7 Oktober, ditambah dengan pendapat saya seumur hidup bahwa IRAN TIDAK AKAN PERNAH MEMILIKI SENJATA NUKLIR sebagai alasannya," tambah Trump.
"Saya menonton dan membaca berita palsu dari para pakar dan jajak pendapat dengan rasa tidak percaya. 90% dari apa yang mereka katakan adalah kebohongan dan cerita yang dibuat-buat, dan jajak pendapat itu dimanipulasi, sama seperti Pemilu Presiden 2020 yang dimanipulasi," kata Trump.
"Sama seperti hasil di Venezuela, yang tidak suka dibicarakan oleh media, hasil di Iran akan luar biasa," lanjutnya. "Dan jika ada perubahan rezim di Iran yang cerdas, maka Iran akan bisa memiliki masa depan yang hebat dan makmur!," katanya lagi.
Laporan ini muncul di tengah ketidakpastian perundingan perdamaian, dengan kantor berita pemerintah Iran mengklaim rezim tersebut 'tidak memiliki rencana' untuk perundingan perdamaian mendatang dengan AS.
Sementara itu Iran memang telah menarik diri dari perundingan perdamaian Islamabad setelah AS menyita kapal kargo.
Iran menyatakan tidak akan mengirimkan delegasi untuk berpartisipasi dalam putaran kedua perundingan perdamaian penting dengan Amerika Serikat di ibu kota Pakistan, Islamabad, yang dijadwalkan berlangsung pada hari Senin kemarin.
Beberapa menit setelah pengumuman penyitaan kapal, media pemerintah Iran melaporkan percakapan telepon Presiden Iran Masoud Pezeshkian dengan Perdana Menteri Pakistan, Shehbaz Sharif pada hari Minggu.
Tindakan AS, termasuk intimidasi dan perilaku tidak masuk akal, telah menyebabkan meningkatnya kecurigaan bahwa Washington akan mengulangi pola sebelumnya dan "mengkhianati diplomasi," demikian laporan tersebut mengutip pernyataan Pezeshkian.
Dan Iran bersumpah akan memberikan melakukan pembalasan setelah AS menyita kapal berbendera Iran di dekat Selat Hormuz.
Keputusan Iran itu diambil setelah Angkatan Laut AS menghentikan sebuah kapal kargo berbendera Iran di dekat Selat Hormuz pada hari Minggu, dan itu merupakan pencegatan pertama sejak Amerika Serikat memberlakukan blokade angkatan laut terhadap pelabuhan-pelabuhan Iran.
Sementara Amerika Serikat mengatakan pihaknya mengerahkan tim negosiasi yang dipimpin oleh Wakil Presiden, JD Vance, ke Islamabad.
Dalam percakapan telepon lainnya, Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi mengatakan kepada mitranya dari Pakistan, Ishaq Dar, bahwa tindakan, retorika, dan kontradiksi AS baru-baru ini merupakan tanda-tanda "niat buruk dan kurangnya keseriusan dalam diplomasi," demikian menurut stasiun televisi pemerintah Iran.
Pakistan tidak mengkonfirmasi putaran kedua pembicaraan, tetapi pihak berwenang telah mulai memperketat keamanan di Islamabad. Seorang pejabat regional yang terlibat dalam upaya tersebut mengatakan bahwa para mediator sedang menyelesaikan persiapan dan tim keamanan AS telah berada di lapangan.
Sabtu kemarin, Iran mengatakan memang telah menerima konsep proposal baru dari Amerika Serikat. Tetapi kepala negosiator Iran yang juga Ketua Parlemen Mohammed Bagher Ghalibaf mengatakan "tidak akan ada kemunduran di bidang diplomasi," ia mengakui masih ada kesenjangan yang lebar antara kedua pihak.
Konsep proposal baru itu diantaranya pertimbangan Donald Trump berupa kesepakatan yang akan memungkinkan Iran melanjutkan pengayaan uranium dalam satu dekade. (*)
Apa Reaksi Anda?