Tradisi Mudik Lebaran dan Makna Spesialnya bagi Masyarakat Indonesia
Jutaan masyarakat yang merantau di kota besar memanfaatkan momen libur Lebaran untuk kembali ke kampung halaman dan berkumpul bersama keluarga.
JAKARTA Tradisi mudik Lebaran menjadi fenomena tahunan yang selalu terjadi menjelang Hari Raya Idul Fitri di Indonesia.
Jutaan masyarakat yang merantau di kota besar memanfaatkan momen libur Lebaran untuk kembali ke kampung halaman dan berkumpul bersama keluarga.
Mudik atau kembali ke kampung halaman merupakan momen yang selalu dinantikan masyarakat.
Meski membutuhkan tenaga ekstra dan biaya yang tidak sedikit, banyak orang tetap melakukan perjalanan jauh demi merayakan Idul Fitri bersama keluarga dan sanak saudara di daerah asal.
Hajatan Nasional
Dosen Universitas Islam Negeri (UIN) Sultan Maulana Hasanuddin Serang, M Ishom el-Saha menjelaskan bahwa mudik tidak hanya sekadar perjalanan pulang kampung, tetapi juga menjadi peristiwa sosial yang melibatkan partisipasi masyarakat secara luas.
Dalam artikel 'Mudik dan Memahami Makna Kembali' yang dimuat di laman Kemenag RI, Ishom menulis bahwa mudik merupakan hajat besar secara nasional yang harus disukseskan, sekalipun tidak ada panitia penyelenggaranya.
"Pemerintah sendiri hanya bertanggung jawab memberikan pelayanan umum dan bukan sebagai pelaksana penyelenggaraan mudik,” paparnya.
Ia menambahkan bahwa keberhasilan mudik pada dasarnya sangat bergantung pada komitmen masyarakat yang menjalankannya. Keamanan, kelancaran, serta kenyamanan perjalanan sangat ditentukan oleh kesadaran bersama para pemudik.
Secara psikologis, perjalanan mudik didorong oleh keinginan kuat untuk merayakan Idul Fitri bersama keluarga di kampung halaman. Semangat inilah yang membuat masyarakat rela menempuh perjalanan jauh melalui jalur darat, laut, maupun udara.
Selain itu, Ishom juga menilai mudik memiliki makna teologis yang mendalam. Dalam perspektif agama, perjalanan kembali ke kampung halaman dapat dimaknai sebagai simbol perjalanan hidup manusia yang pada akhirnya akan kembali kepada Tuhan.
“Manusia pada dasarnya ingin kembali dengan selamat. Dalam agama, manusia yang dapat kembali dengan selamat digambarkan sebagai manusia yang berjiwa tenang atau nafsul mutmainnah,” tulisnya.
Bagian dari Kearifan Lokal
Pandangan serupa juga disampaikan oleh akademisi Muslikh Amrullah yang menilai mudik sebagai bagian dari kearifan lokal masyarakat Indonesia.
Ia menyebut tradisi ini sebagai fenomena budaya yang unik dan terjadi hampir di seluruh wilayah Indonesia saat menyambut Idul Fitri.
Menurut Muslikh, mudik merupakan kebutuhan psikologis yang muncul dari kerinduan seseorang terhadap tempat asalnya, tempat yang menyimpan berbagai memori masa kecil hingga dewasa.
Ia menyampaikan bahwa mudik sebenarnya adalah bentuk kebutuhan psikologis atau kebatinan.
"Di mana timbul dorongan keinginan dan kerinduan yang kuat untuk pulang menapak tilas tempat lahir dan tempat yang menyimpan memori masa lalu,” ujar Muslikh seperti dikutip dari laman Fakultas Ilmu Tarbiyah dan Keguruan di fitk.uinjkt.ac.id.
Mudik debagai Festival Budaya
Lebih lanjut, cendekiawan Muslim Komaruddin Hidayat juga menilai mudik sebagai bagian dari ]festival budaya] yang memiliki tiga fungsi utama, yakni mengenang tradisi masa lalu, mengenalkannya kepada generasi baru, serta memperkuat nilai budaya untuk masa depan.
Selain memiliki dimensi budaya dan psikologis, tradisi mudik juga berkaitan dengan berbagai aspek kehidupan sosial masyarakat. Dalam kajian yang dimuat dalam laman dijelaskan bahwa mudik menjadi bagian penting dari perayaan Idul Fitri di Indonesia.
Pada awalnya, kata mudik dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia berarti “pergi ke hulu sungai”. Namun seiring waktu, maknanya bergeser menjadi perjalanan kembali ke kampung halaman atau daerah asal seseorang.
Fenomena mudik sendiri mulai berkembang pesat sejak sekitar tahun 1970-an, ketika banyak masyarakat dari daerah mulai merantau ke kota besar seperti Jakarta dan Bandung untuk bekerja, lalu kembali ke kampung halaman saat hari raya.
Selain dimensi spiritual dan kultural, mudik juga memiliki dimensi psikologis bagi masyarakat perantau. Kepulangan ke kampung halaman sering kali menjadi sarana untuk melepas penat akibat tekanan pekerjaan serta kehidupan perkotaan yang padat.
Melalui pertemuan dengan keluarga dan kerabat di kampung halaman, para pemudik dapat merasakan kembali suasana kebersamaan yang menjadi bagian penting dalam kehidupan sosial masyarakat Indonesia.
Karena itu, tradisi mudik tidak hanya sekadar perjalanan pulang kampung menjelang Lebaran, tetapi juga menjadi simbol kuat dari nilai kekeluargaan, kebersamaan, serta identitas budaya masyarakat Indonesia. (*)
Apa Reaksi Anda?