Suhu Dingin Ekstrem Ancam Sayuran dan Bunga Hias Kota Batu
Kepala Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan (DPKP) Kota Batu, Hendry Suseno, menyatakan penggunaan greenhouse menjadi salah satu langkah strategis dalam menjaga produktivitas pertanian.
BATU - Ancaman fenomena bediding yang kerap muncul saat musim kemarau mulai menjadi perhatian serius Pemkot Batu. Untuk mengurangi risiko kerusakan tanaman akibat suhu dingin ekstrem, petani didorong memanfaatkan fasilitas greenhouse atau rumah kaca yang telah tersedia di berbagai wilayah pertanian.
Kepala Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan (DPKP) Kota Batu, Hendry Suseno, mengatakan penggunaan greenhouse menjadi salah satu langkah strategis dalam menjaga produktivitas pertanian, terutama komoditas hortikultura dan bunga hias yang menjadi unggulan daerah.
"Greenhouse yang sudah kami fasilitasi kepada kelompok tani harus dimanfaatkan secara maksimal. Di dalam greenhouse, kondisi tanaman lebih terjaga karena suhu dan lingkungannya dapat dikontrol sehingga risiko kerusakan akibat cuaca dingin dapat ditekan," kata dia, Rabu (10/6/2026).
Langkah antisipasi tersebut dilakukan setelah adanya informasi dari Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) terkait potensi fenomena bediding di kawasan dataran tinggi Jawa Timur.
"Kondisi ini dapat memicu terbentuknya embun es yang berisiko merusak tanaman sayuran maupun tanaman hias," urainya.
Saat ini, Kota Batu memiliki 42 unit greenhouse yang dibangun untuk mendukung kegiatan pertanian. Sebanyak 38 unit telah digunakan oleh kelompok tani, sedangkan empat unit lainnya masih belum dimanfaatkan secara optimal.
Hendry menilai keberadaan rumah kaca semakin penting karena sektor pertanian masih menjadi salah satu penopang utama perekonomian masyarakat Kota Batu.
"Berbagai komoditas sayuran hingga tanaman florikultura masih menunjukkan produktivitas yang cukup tinggi sepanjang tahun ini. Berdasarkan data triwulan pertama 2026, produksi sawi atau petsai menjadi yang tertinggi dengan capaian 28.790,73 kuintal," ungkapnya.
Selanjutnya, wortel mencapai 22.705,39 kuintal, kentang 21.427,56 kuintal, bawang daun 16.015,17 kuintal, kembang kol 15.554,52 kuintal, kubis 11.569,95 kuintal, serta bawang merah 6.391,30 kuintal.
Sementara dari sektor florikultura, bunga mawar mencatat produksi sebesar 10.065,50 kuintal, diikuti bunga krisan sebanyak 2.348,75 kuintal dan anggrek pot mencapai 155,50 kuintal.
"Selain memaksimalkan penggunaan greenhouse, kami juga memperkuat sistem peringatan dini kepada petani melalui koordinasi bersama penyuluh pertanian dan tenaga pendamping di lapangan," tegasnya.
Sejauh ini, informasi mengenai perkembangan cuaca, potensi bediding, hingga langkah mitigasi terus disampaikan kepada sekitar 290 kelompok tani yang tersebar di desa dan kelurahan.
"Kami terus berkoordinasi dengan para penyuluh dan pendamping pertanian agar setiap informasi terkait cuaca bisa segera diterima petani. Dengan kesiapan yang lebih baik, dampak yang ditimbulkan dapat diminimalkan," ujarnya.
Ia menambahkan, perubahan musim tidak hanya memunculkan ancaman suhu dingin, tetapi juga meningkatkan risiko serangan organisme pengganggu tanaman.
"Kondisi lembap yang disertai kabut sering kali menjadi pemicu berkembangnya penyakit yang disebabkan virus maupun bakteri," jelasnya.
Karena itu, pemerintah daerah tetap berupaya memberikan dukungan melalui penyediaan sarana produksi pertanian, termasuk bantuan pestisida dan kebutuhan pendukung lainnya.
"Program yang berkaitan langsung dengan kebutuhan petani tetap menjadi prioritas. Meski ada efisiensi anggaran, dukungan terhadap sektor pertanian akan terus kami optimalkan karena manfaatnya dirasakan langsung oleh masyarakat," tutupnya.
Apa Reaksi Anda?