Tradisi Halal Bihalal Warga Majalengka yang Masih Bertahan, Merawat Silaturahmi Setelah Lebaran

Pasca Lebaran, warga Majalengka gelar tradisi halal bihalal di desa dan kota. Momen saling memaafkan, makan bersama, dan perkuat kerukunan yang terus lestari puluhan tahun.

Maret 15, 2026 - 09:00
Tradisi Halal Bihalal Warga Majalengka yang Masih Bertahan, Merawat Silaturahmi Setelah Lebaran

MAJALENGKA Setelah gema takbir Idul Fitri perlahan mereda, masyarakat di berbagai kampung di Majalengka masih melanjutkan satu tradisi Lebaran yang telah mengakar kuat selama puluhan tahun: halal bihalal.

Tradisi ini menjadi ruang berkumpul warga untuk saling memaafkan, mempererat silaturahmi, dan menjaga kebersamaan setelah Hari Raya.

Di sejumlah desa/kota di Majalengka, halal bihalal biasanya digelar beberapa hari setelah Lebaran. Warga berkumpul di balai desa, masjid, atau halaman rumah tokoh masyarakat. Suasana hangat terasa ketika satu per satu warga datang, saling bersalaman, dan berbincang dengan penuh keakraban.

Di tengah kehidupan modern yang semakin sibuk, tradisi halal bihalal tetap bertahan sebagai bagian penting dari budaya masyarakat.

Warga Majalengka, Yaya (47), mengatakan kegiatan halal bihalal selalu dinantikan warga setiap tahun.

"Ini bukan sekadar acara kumpul-kumpul, tapi momen untuk mempererat hubungan antarwarga setelah Lebaran," ujarnya.

Biasanya, kegiatan diawali dengan doa bersama dan tausiyah singkat. Setelah itu, warga saling bersalaman sebagai simbol saling memaafkan.

Anak-anak hingga orang tua tampak berbaur dalam suasana yang hangat dan penuh kekeluargaan.

Tak jarang, acara halal bihalal juga diisi dengan makan bersama. Hidangan sederhana seperti ketupat, opor ayam, sambal goreng, dan aneka kue Lebaran menjadi pelengkap kebersamaan.

Winda (50), warga Majalengka, mengaku tradisi halal bihalal memiliki makna yang sangat penting bagi masyarakat.

"Kadang ada tetangga yang jarang bertemu karena kesibukan. Lewat halal bihalal ini kita bisa saling menyapa lagi," katanya.

Menurutnya, tradisi ini juga menjadi cara untuk menjaga kerukunan di lingkungan masyarakat. Perselisihan kecil yang mungkin terjadi sebelumnya sering kali mencair melalui momen saling memaafkan tersebut.

Di Majalengka, halal bihalal tidak hanya dilakukan di lingkungan desa/kota. Banyak instansi, sekolah, hingga komunitas juga menggelar kegiatan serupa setelah libur Lebaran usai.

Fenomena ini menunjukkan bahwa nilai kebersamaan dan silaturahmi masih menjadi bagian penting dalam kehidupan masyarakat.

Di tengah perubahan zaman dan perkembangan teknologi, tradisi halal bihalal di Majalengka tetap bertahan sebagai simbol kuatnya hubungan sosial di tengah masyarakat.

Bagi warga, momen ini bukan sekadar acara tahunan. Ia adalah pengingat bahwa Lebaran bukan hanya tentang perayaan satu hari, tetapi tentang menjaga hubungan baik dan kebersamaan yang terus dirawat dari waktu ke waktu. (*)

Apa Reaksi Anda?

like

dislike

love

funny

angry

sad

wow