Ribuan Warga Ikuti Mubeng Beteng 2026, Tradisi Sakral Keraton Yogyakarta Sambut 1 Suro
Ribuan warga mengikuti Lampah Budaya Mubeng Beteng 2026 di Keraton Yogyakarta, ritual tapa bisu mengelilingi benteng menyambut Tahun Baru Jawa 1 Suro dengan khidmat.
Suasana penuh khidmat menyelimuti kawasan Keraton Ngayogyakarta Hadiningrat pada Selasa (16/6/2026) malam. Ribuan peserta mulai memadati area Kagungan Dalem Kamandungan Lor (Keben) untuk mengikuti rangkaian tradisi budaya Lampah Budaya Mubeng Beteng 2026, sebuah ritual tahunan masyarakat Yogyakarta dalam menyambut pergantian Tahun Baru Jawa 1 Suro 1960 Ba’.
Tradisi yang sarat makna spiritual dan budaya ini menjadi momentum bagi masyarakat untuk melakukan perenungan diri, memanjatkan doa, sekaligus menjaga warisan budaya Jawa yang telah berlangsung secara turun-temurun.
Pembukaan acara dimulai tepat pukul 23.00 WIB di Kagungan Dalem Kamandungan Lor. Sebelum prosesi utama dimulai, masyarakat yang hadir terlebih dahulu mengikuti rangkaian kegiatan budaya yang berlangsung sejak malam hari.
Mulai pukul 21.00 hingga 23.00 WIB, lantunan tembang Macapat menggema di kawasan Keraton Yogyakarta. Kidung-kidung Jawa tersebut berisi doa dan harapan agar perjalanan tahun yang baru membawa keberkahan, kebahagiaan, keselamatan, serta kehidupan yang lebih baik bagi masyarakat.
Selain itu, sejak pukul 19.00 WIB hingga 23.00 WIB, Keraton juga menghadirkan pertunjukan seni tradisional Wayang Gedhog di Kagungan Dalem Bangsal Kamandungan Kidul.
Pementasan tersebut membawakan lakon “Jaya Berdangga” dengan dalang MB. Cermo Wignyoutomo. Cerita yang diangkat mengisahkan perjalanan Raden Panji dalam mencari “Sari Swara Renggani Jagad”, sebuah kisah klasik yang menggambarkan nilai perjuangan dan pencarian makna kehidupan.
Ribuan Peserta Bersiap Jalani Prosesi Tapa Bisu
Usai pembukaan, peserta mulai melakukan persiapan pemberangkatan pada pukul 23.30 hingga 23.50 WIB.
Masyarakat dari berbagai daerah, abdi dalem Keraton, hingga wisatawan tampak antusias mengikuti tradisi yang menjadi salah satu ikon budaya Yogyakarta tersebut.
Puncak prosesi dimulai tepat pukul 00.00 WIB dini hari. Ditandai dengan bunyi lonceng sebanyak 12 kali, peserta mulai berjalan mengelilingi benteng Keraton dengan menjalankan tradisi tapa bisu.
YOGYAKARTA -
Dalam prosesi tersebut, peserta tidak diperkenankan berbicara. Keheningan menjadi bagian penting dari ritual sebagai simbol introspeksi, pengendalian diri, doa, dan refleksi perjalanan hidup selama satu tahun sebelumnya.
Mereka berjalan perlahan mengelilingi kawasan benteng Keraton dengan suasana tenang dan penuh penghormatan.
Rute Mubeng Beteng 2026
Prosesi Mubeng Beteng 2026 dimulai dari Kagungan Dalem Kamandungan Lor, kemudian peserta melewati sejumlah ruas jalan di sekitar kawasan Keraton Yogyakarta.
Rute yang dilalui yakni Jalan Rotowijayan - Jalan Kauman - Jalan H Agus Salim - Jalan KH Wahid Hasyim - Jalan Suryowijayan - Jalan MT Haryono - Jalan Mayjend Sutoyo - Jalan Brigjen Katamso - Jalan Ibu Ruswa - Jalan Pekapalan Alun-Alun Utara.
Setelah melewati jalur tersebut, peserta kembali menuju Jalan Rotowijayan dan mengakhiri perjalanan di titik awal, Kagungan Dalem Kamandungan Lor.
Salah satu peserta, Gabriel Maria Ana (25), warga Kulon Progo, mengaku terkesan bisa mengikuti Mubeng Beteng untuk pertama kalinya.
Menurutnya, tradisi tersebut menjadi pengalaman berharga untuk mengenal lebih dekat budaya Jawa sekaligus ikut menjaga kelestariannya.
“Ini baru pertama kali saya ikut Mubeng Beteng. Kebetulan saya orang Jogja, jadi ingin nguri-uri budaya Jawa sendiri. Suasananya sangat khidmat dan tenang, jadi bisa lebih fokus berdoa dan merenung,” ujarnya.
Ia mengaku datang bersama teman-teman kuliahnya dan merasa pengalaman tersebut sangat berkesan meskipun harus menunggu hingga tengah malam.
“Walaupun harus menunggu sampai tengah malam, rasanya puas bisa ikut serta dalam tradisi yang begitu sakral ini,” tambahnya.
Panitia Dorong Tradisi Mubeng Beteng Tetap Lestari
Ketua Paguyuban Abdi Dalem Keraton Yogyakarta sekaligus panitia penyelenggara, KRT Kusumanegara, menyampaikan rasa syukur atas terselenggaranya kegiatan tersebut.
Menurutnya, Mubeng Beteng bukan hanya sekadar acara budaya, tetapi juga menjadi ruang bagi masyarakat untuk melakukan refleksi pribadi dan mempererat kebersamaan.
“Kami sangat bersyukur dan berterima kasih atas dukungan semua pihak, terutama izin penggunaan tempat dan fasilitas dari Keraton Yogyakarta. Mubeng Beteng ini menjadi momentum seluruh elemen masyarakat untuk melakukan refleksi personal dan menyatukan rasa menyambut tahun baru yang lebih baik,” jelas KRT Kusumanegara.
Ia berharap tradisi tersebut dapat terus dijaga dan diwariskan kepada generasi berikutnya sebagai bagian dari identitas budaya Yogyakarta.
Peserta Diminta Jaga Ketertiban dan Kekhidmatan
Panitia mengimbau seluruh peserta agar menjaga suasana tertib, hening, dan penuh penghormatan selama prosesi berlangsung.
Masyarakat yang mengikuti kegiatan juga diminta mengenakan pakaian yang sopan dan rapi. Panitia mengingatkan agar peserta tidak menggunakan celana pendek maupun membawa atribut organisasi atau komunitas tertentu.
Tradisi Mubeng Beteng 2026 sendiri terbuka untuk masyarakat umum dan tidak dipungut biaya. Siapa pun dapat mengikuti prosesi ini untuk merasakan langsung atmosfer budaya Jawa yang penuh makna di lingkungan Keraton Yogyakarta.
Melalui tradisi ini, Yogyakarta kembali menunjukkan bahwa warisan budaya bukan hanya peninggalan masa lalu, tetapi juga menjadi ruang pertemuan antara sejarah, spiritualitas, dan kebersamaan masyarakat masa kini. (*)
Apa Reaksi Anda?