Lebaran dan Media Sosial di Majalengka: Dari Silaturahmi ke Konten
Di Majalengka, tradisi Lebaran kini berpadu dengan media sosial. Warga abadikan momen keluarga untuk diunggah. Namun esensi silaturahmi dan kebersamaan tetap jadi yang utama.
MAJALENGKA Hari Raya Idul Fitri selalu identik dengan momen silaturahmi, saling memaafkan, dan berkumpul bersama keluarga. Namun seiring perkembangan teknologi, cara masyarakat merayakan Lebaran perlahan berubah.
Di Majalengka, momen kebersamaan yang dulu hanya tersimpan dalam ingatan kini banyak diabadikan dan dibagikan di media sosial. Sejak pagi hari setelah salat Idul Fitri, suasana rumah-rumah di berbagai desa di Majalengka dipenuhi aktivitas keluarga.
Anak-anak mengenakan baju baru, orang tua menyiapkan hidangan Lebaran, sementara para anggota keluarga saling bersalaman.
Namun di sela-sela momen itu, ponsel pintar hampir selalu hadir di tangan.
Banyak warga yang merekam momen kebersamaan tersebut untuk kemudian diunggah ke berbagai platform media sosial.
Mulai dari foto keluarga, video bersalaman dengan orang tua, hingga suasana makan bersama di meja Lebaran, semuanya menjadi bagian dari cerita yang dibagikan kepada teman dan kerabat di dunia digital.
Bagi sebagian generasi muda di Majalengka, Lebaran bukan hanya tentang silaturahmi, tetapi juga menjadi kesempatan untuk membuat konten yang penuh makna.
Aulia Rahma (22), seorang mahasiswa asal Majalengka, mengaku selalu mengabadikan momen Lebaran bersama keluarganya.
“Setiap Lebaran pasti foto keluarga dulu. Kadang juga bikin video singkat untuk diunggah ke Instagram atau TikTok,” ujarnya.
Menurutnya, media sosial menjadi cara untuk berbagi kebahagiaan Lebaran dengan teman-teman yang tidak bisa hadir secara langsung.
Fenomena ini juga terlihat di berbagai tempat wisata di Majalengka yang ramai dikunjungi saat libur Lebaran. Banyak keluarga memanfaatkan keindahan alam sebagai latar foto atau video yang kemudian dibagikan di media sosial.
Meski demikian, bagi sebagian warga, perubahan ini menghadirkan dua sisi yang berbeda. Di satu sisi, media sosial membantu mengabadikan momen berharga. Namun di sisi lain, ada kekhawatiran bahwa makna silaturahmi bisa bergeser jika terlalu fokus pada pembuatan konten.
Dedi Setiawan (41), warga Majalengka, mengatakan bahwa yang terpenting adalah tetap menjaga esensi Lebaran itu sendiri.
“Tidak masalah kalau difoto atau direkam. Tapi yang paling penting tetap silaturahmi dan berkumpul dengan keluarga,” katanya.
Di tengah perkembangan zaman, Lebaran di Majalengka terus menemukan cara baru untuk dirayakan. Media sosial kini menjadi bagian dari cerita Idul Fitri, menghubungkan keluarga, teman, dan kerabat yang berada di tempat berbeda.
Namun di balik semua foto dan video yang beredar di layar ponsel, makna Lebaran tetap sama: tentang kebersamaan, saling memaafkan, dan menjaga hubungan yang hangat dengan orang-orang terdekat. (*)
Apa Reaksi Anda?