Meriah dan Penuh Makna! Pawai Takbir Kotagede 2026 Jadi Ajang Syiar Islam Sekaligus Kampanye Lingkungan
Pawai takbir adalah simbol kemenangan. Ini bukan hanya tentang gema takbir, tetapi juga wujud syukur dan refleksi atas perjalanan spiritual selama Ramadan.
YOGYAKARTA Suasana malam takbiran Idulfitri 1447 Hijriah di kawasan Kotagede berlangsung semarak dan penuh makna. Wali Kota Yogyakarta, Hasto Wardoyo, secara resmi membuka Pawai Takbir yang digelar oleh Angkatan Muda Muhammadiyah (AMM) Kotagede, Kamis (19/3/2026) malam.
Pembukaan ditandai dengan pemukulan gong oleh Hasto, disambut antusias ratusan peserta dan masyarakat yang memadati lokasi acara. Kegiatan tahunan ini kembali menjadi simbol kegembiraan sekaligus momentum refleksi spiritual setelah menjalani bulan suci Ramadan.
Dalam sambutannya, Hasto menegaskan bahwa pawai takbir bukan hanya seremoni perayaan semata. Lebih dari itu, kegiatan ini merupakan bentuk rasa syukur atas keberkahan Ramadan serta penguatan nilai-nilai keimanan.
“Pawai takbir adalah simbol kemenangan. Ini bukan hanya tentang gema takbir, tetapi juga wujud syukur dan refleksi atas perjalanan spiritual selama Ramadan,” ujarnya.
Menurutnya, lantunan takbir yang menggema memiliki makna mendalam sebagai pengingat untuk terus mengagungkan Allah SWT dalam kehidupan sehari-hari. Selain itu, pawai ini juga menjadi sarana mempererat ukhuwah Islamiyah dan solidaritas sosial di tengah masyarakat.
Harmoni Tradisi dan Nilai Religius
Kota Yogyakarta, lanjut Hasto, dikenal sebagai daerah yang menjunjung tinggi nilai religiusitas, budaya, dan tradisi luhur. Pawai Takbir AMM Kotagede menjadi bukti nyata harmonisasi antara syiar Islam dan kearifan lokal yang telah terjaga secara turun-temurun.
“Momen seperti ini juga menjadi refleksi dalam pembangunan kota. Kami berkomitmen menjadikan Yogyakarta sebagai kota yang semakin maju, nyaman, dan berdaya saing,” tambahnya.
Tak hanya soal perayaan, Hasto juga memberikan perhatian khusus terhadap isu kebersihan lingkungan. Ia mengajak seluruh peserta dan masyarakat untuk menjaga kebersihan selama dan setelah kegiatan berlangsung.
“Kebersihan adalah bagian dari iman. Kami berharap setelah acara ini, lokasi tetap bersih tanpa sampah yang tertinggal,” tegasnya.
Ajakan tersebut menjadi pesan penting, sejalan dengan nilai-nilai Ramadan yang menekankan kedisiplinan dan kepedulian terhadap lingkungan.
Kreativitas Peserta Jadi Daya Tarik
Pawai Takbir AMM Kotagede tahun ini tampil lebih kreatif dengan mengusung konsep seni, budaya, dan musik yang menarik. Para peserta menampilkan beragam kostum unik serta maskot bertema alam.
Beberapa di antaranya adalah replika Bunga Cempaka, Burung Cempala Kuneng khas Aceh, bunga Rafflesia, hingga simbol pohon tumbang sebagai kritik terhadap kerusakan lingkungan akibat ulah manusia. Tak ketinggalan, logo Muhammadiyah juga ditampilkan dengan nuansa alam yang kental.
Penampilan tersebut tidak hanya menghibur, tetapi juga menyampaikan pesan moral tentang pentingnya menjaga kelestarian lingkungan.
Ketua Pimpinan Cabang Muhammadiyah Kotagede, Muhammad Hatta, menjelaskan bahwa tahun ini pawai mengangkat tema “Seruan Takbir Alam Pertiwi.”
Tema ini dipilih untuk meningkatkan kesadaran masyarakat terhadap pentingnya menjaga lingkungan, mulai dari pepohonan, tanah, air, hingga ekosistem hewan.
“Kami berharap masyarakat bisa lebih peduli terhadap lingkungan. Ini juga menjadi pengingat atas pesan dalam Al-Qur’an, bahwa kerusakan di bumi terjadi akibat ulah manusia,” ujarnya.
Diikuti Puluhan Kelompok, Tradisi Terjaga
Pawai Takbir tahun ini diikuti oleh 25 kelompok pengajian anak-anak di wilayah Kotagede. Kegiatan ini telah menjadi tradisi tahunan yang konsisten digelar lebih dari 25 kali setiap Idulfitri.
Antusiasme peserta dan masyarakat menunjukkan bahwa tradisi ini tidak hanya bertahan, tetapi juga terus berkembang dengan sentuhan kreativitas dan pesan sosial yang relevan.
Pawai Takbir AMM Kotagede 2026 menjadi bukti bahwa perayaan Idulfitri dapat dikemas secara edukatif, inspiratif, dan tetap menghibur. Selain memperkuat nilai spiritual, kegiatan ini juga menjadi media kampanye sosial untuk menjaga lingkungan.
Dengan semangat kebersamaan dan kepedulian, malam takbiran di Kotagede tahun ini tak hanya meriah, tetapi juga meninggalkan pesan mendalam bagi seluruh masyarakat. (*)
Apa Reaksi Anda?