Teror Monyet Ekor Panjang Meluas, Tujuh Desa di Donorojo Pacitan Terdampak
Sebelum meluas ke sejumlah desa, fenomena ini lebih dulu mencuat di Desa Widoro. Ratusan monyet ekor panjang dilaporkan menyerbu lahan pertanian dan permukiman warga.
PACITAN - Serangan monyet ekor panjang di Kecamatan Donorojo, Kabupaten Pacitan, Jawa Timur tidak lagi sporadis.
Dalam beberapa waktu terakhir, gangguan itu berubah menjadi ekspansi yang meluas, menjangkau sedikitnya tujuh desa dan meluluhlantakkan siklus tanam petani.
Camat Donorojo, Bagus Nur Cahyadi, Senin (13/4/2026), memastikan dampaknya sudah terasa pada musim tanam pertama. “Musim tanam pertama petani di wilayah ini gagal. Serangan monyet datang dari berbagai sisi,” ujarnya.
Inventarisasi lapangan menunjukkan sebaran serangan mencakup Desa Gendaran (Dusun Duwet), Donorojo (Jaten, Ngamban), Kalak (Klepu, Bolo, Krajan Kulon) sampai Sendang (Kaliaren, Krajan, Gedangan, Guworejo, Sambi).
Kemudian Desa Belah (Jatisari, Tunggul, Belah, Lemahbang, Bonrejo, Gunungsari, Ngelo), Cemeng (Krajan, Tumpang, Sempu, Teken, Pojok, Jelok, Petung), hingga Sawahan (Krajan, Bentis).
Pola serangan tidak terpusat. Kawanan datang dari berbagai arah, memperlihatkan adanya tekanan habitat yang lebih luas.
Jejak Habitat yang Tergeser
Dari sisi utara, pergerakan monyet diduga berasal dari kawasan hutan perbatasan dengan Wonogiri, Jawa Tengah, tepatnya sekitar Dusun Glonggong, Desa Belah.
Wilayah ini menjadi salah satu pintu masuk utama pergerakan satwa ke lahan pertanian warga.
Gangguan terhadap habitat disebut tidak berdiri sendiri. Salah satu faktor yang disorot yaitu perubahan bentang alam sejak beroperasinya Bendungan Pidekso Wonogiri, yang diresmikan Presiden Joko Widodo pada 28 Desember 2021.
Perubahan tersebut diduga menggeser ruang hidup satwa liar, memaksa mereka mencari sumber pakan baru di luar habitat aslinya.
Pemerintah kecamatan telah melaporkan kondisi ini ke Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA). Namun hingga kini, penanganan komprehensif masih ditunggu.
Widoro Jadi Episentrum Awal
Sebelum meluas ke sejumlah desa, fenomena ini lebih dulu mencuat di Desa Widoro. Ratusan monyet ekor panjang (Macaca fascicularis) dilaporkan menyerbu lahan pertanian dan permukiman warga.
Tanaman pangan seperti jagung, kacang tanah, hingga kelapa menjadi sasaran utama. Skala kerusakan tidak lagi kecil, melainkan sistematis dan berulang.
Kaur Pemerintahan Desa Widoro, Eniati, menggambarkan pola serangan yang nyaris tak terputus. “Banyak yang gagal panen setelah tanamannya dirusak kawanan monyet. Dua sore datang, dua sore pergi lagi. Apapun dirusak,” ujarnya.
Dalam setahun terakhir, intensitas serangan bukan mereda, melainkan meluas ke desa-desa lain seperti Sendang, Sawahan, Kalak, hingga Dersono di Kecamatan Pringkuku.
Perilaku Satwa Kian Agresif
Perubahan tidak hanya terjadi pada sebaran, tetapi juga perilaku. Monyet kini lebih berani mendekati manusia dan permukiman.
Kerusakan tidak berhenti pada tanaman. Gubuk-gubuk petani di tegalan ikut disasar. “Gubuk petani juga dirusak. Gentingnya dilempar-lempar. Kalau yang punya gubuk itu pernah menghardik kawanan, pasti diincar,” kata Eniati.
Upaya pengusiran konvensional tidak lagi efektif. Petasan, bunyi-bunyian, hingga jebakan hanya memberi efek sementara. Bahkan tindakan menembak justru memicu respons agresif.
“Misalnya ditembak, malah seperti dendam. Datang lagi dengan jumlah lebih banyak,” ujarnya.
Tekanan dari Pesisir Selatan
Selain dari utara, tekanan habitat juga diduga berasal dari kawasan pesisir selatan. Desa Widoro yang berbatasan langsung dengan Samudra Hindia mengalami perubahan fungsi ruang dalam beberapa tahun terakhir.
Aktivitas wisata berkembang di sejumlah titik seperti Pantai Nyawiji, Kijingan, Banyu Tibo, dan Buyutan. Intensitas kunjungan yang meningkat disebut berkontribusi terhadap terganggunya habitat satwa.
“Kami menduga yang tadinya di tebing laut selatan terusik karena ramai wisata. Dulu tidak pernah terjadi. Baru setahun terakhir ini,” ujar Eniati.
Saat ini, monyet hanya bertahan di sisa vegetasi seperti akasia, walikukun, dan jati berukuran kecil. Fragmentasi hutan membuat ketersediaan pakan alami semakin terbatas.
Skala Serangan dan Kerugian Petani
Petani Dusun Widoro, Parmo (51), menyebut serangan terjadi hampir setiap hari dengan jumlah besar. “Kalau sudah rombongan seratusan, itu beberapa rombongan. Kelapa dirusak sebelum jadi degan,” katanya.
Ia bahkan menghentikan aktivitas menderes karena alatnya dirusak kawanan monyet.
Petani lain, Mukadi (75), menggambarkan tingkat ancaman yang meningkat. “Ada yang seukuran manusia. Sudah berani sama manusia. Jagung tidak berani tanam,” ujarnya.
Skala kerugian tidak hanya ekonomi, tetapi juga psikologis. Warga menghadapi ketidakpastian setiap kali musim tanam dimulai.
Dilema Konservasi dan Konflik
Di tengah kerusakan yang meluas, penanganan dihadapkan pada dilema. Monyet ekor panjang berstatus endangered (terancam punah) secara global, sehingga tidak bisa ditangani dengan pendekatan represif oleh warga.
Di satu sisi, petani membutuhkan perlindungan atas sumber penghidupan. Di sisi lain, regulasi konservasi membatasi tindakan langsung terhadap satwa.
Tanpa intervensi terukur dari otoritas konservasi, konflik manusia dan satwa liar di Donorojo berpotensi semakin kompleks dan meluas secara geografis sekaligus membesar dampaknya bagi warga. (*)
Apa Reaksi Anda?