Teror Monyet Ekor Panjang di Pacitan Kian Menggila, Penanganannya Belum Jelas

Serangan monyet ekor panjang di Donorojo, Pacitan, rusak puluhan hektare lahan dan ganggu warga. Pemkab desak BKSDA Jatim ambil langkah cepat, namun penanganan belum jelas.

April 22, 2026 - 15:30
Teror Monyet Ekor Panjang di Pacitan Kian Menggila, Penanganannya Belum Jelas

PACITAN - Serangan monyet liar di Kecamatan Donorojo, Kabupaten Pacitan, kian tak terkendali. Lahan pertanian rusak di banyak titik, namun hingga kini penanganan konkret belum juga jelas.

Pemerintah kecamatan akhirnya melayangkan surat resmi ke BKSDA Jawa Timur pada 9 April 2026. Isinya mendesak penanganan cepat atas gangguan monyet ekor panjang (Macaca fascicularis) yang semakin agresif dan meluas.

“Keberadaan monyet jenis Macaca fascicularis telah menimbulkan dampak,” kata Camat Donorojo, Bagus Nurcahyadi Saputro, Rabu (22/4/2026).

Ia merinci, dampak itu meliputi kerusakan tanaman padi, jagung, hingga hortikultura, gangguan aktivitas warga, serta ancaman keselamatan, terutama bagi petani dan anak-anak.

Kondisi di lapangan menunjukkan situasi tak bisa lagi dianggap biasa. Serangan terjadi berulang dan menyebar. Sedikitnya tujuh desa terdampak, dengan pola serangan yang makin luas dan terorganisir. Akibatnya, musim tanam pertama di sejumlah wilayah berujung gagal panen.

Serangan monyet ekor panjang menggila 2

Tanaman yang diserang merupakan komoditas utama warga. Jagung, singkong, kacang tanah, kedelai, padi, pisang, pepaya, hingga kelapa tak luput dari sasaran. Bahkan, nira kelapa yang baru ditampung ikut diminum, sementara alat penderes dirusak.

Di Desa Kalak, misalnya, kerusakan terjadi di beberapa dusun. Di Dusun Klepu, sekitar 25 hektare lahan jagung, ketela, dan palawija rusak. Di Krajan Kulon, sekitar 20 hektare kedelai, kacang, jagung, dan pisang terdampak. Sementara di Dusun Bolo, sekitar 17 hektare lahan kacang tanah, jagung, dan ketela juga rusak.

Kondisi lebih parah terjadi di Desa Sawahan. Di Dusun Puluhan dan Pindul, populasi monyet diperkirakan mencapai 200 hingga 300 ekor. Dengan jumlah sebesar itu, tanaman singkong, jagung, kacang tanah, sorgum, hingga kelapa nyaris habis sebelum panen.

Di Desa Widoro, sekitar 25 hektare lahan di Dusun Serenan dan Talunrejo ikut terdampak. Tanaman kedelai, kacang, jagung, ketela, hingga pisang diserbu. Fasilitas penderes kelapa kembali menjadi sasaran.

BKSDA JatimBKSDA Jatim usai meninjau lokasi serangan monyet ekor panjang 14 April 2026 lalu. (FOTO: Yusuf Arifai/TIMES Indonesia)

Sementara di desa lain seperti Gendaran, Donorojo, Sendang, dan Cemeng, kerusakan merata di kisaran 4 hingga 10 hektare per lokasi. Polanya sama: tanaman habis saat lahan ditinggal pemiliknya.

Kerugian secara nominal memang belum dihitung rinci. Namun dampaknya sudah nyata. Siklus tanam terganggu dan potensi panen hilang di banyak titik.

Lima hari setelah surat dikirim, tim BKSDA Jawa Timur sempat turun ke lapangan. Pada 14 April 2026, mereka melakukan survei awal di Desa Belah.

Namun setelah itu, belum ada langkah lanjutan yang terlihat.

“Pihak BKSDA masih menunggu arahan dari pimpinan,” ujar Bagus.

Padahal, dalam surat tersebut, pihak kecamatan telah meminta tiga hal sekaligus: peninjauan menyeluruh, langkah penanganan atau relokasi satwa, serta edukasi kepada masyarakat terkait konflik manusia dengan satwa liar.

Hingga berita ini ditulis, pihak BKSDA Jawa Timur belum memberikan respons saat dihubungi melalui sambungan telepon. (*)

Apa Reaksi Anda?

like

dislike

love

funny

angry

sad

wow