Terkuak, AS dan Israel Berusaha Menjadikan Mahmoud Ahmadinejad Pengganti Ayatollah Ali Khamenei

Amerika Serikat dan Zionis Israel berambisi menempatkan mantan presiden Iran, Mahmoud Ahmadinejad dijadikan sebagai untuk pengganti Ayatollah Seyyed Ali Khamenei.

Mei 21, 2026 - 11:01
Terkuak, AS dan Israel Berusaha Menjadikan Mahmoud Ahmadinejad Pengganti Ayatollah Ali Khamenei

JAKARTA - Terkuak bahwa ternyata sejak memerangi Iran secara besar-besaran pada 28 Februari 2026 lalu, Amerika Serikat dan Zionis Israel berambisi menempatkan mantan presiden Iran, Mahmoud Ahmadinejad dijadikan sebagai untuk pengganti Ayatollah Seyyed Ali Khamenei.

Karena itu dalam serangan besar-besaran tanpa provokasi itu, Amerika Serikat dan Israel membunuh Pemimpin Revolusi Islam, Ayatollah Seyyed Ali Khamenei selain menyerang fasilitas nuklir, sekolah, dan rumah sakit.

Skenario itu seperti dilansir Daily Mail terkuak saat Presiden Amerika Serikat, Donald Trump dan Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu berselisih dalam percakapan telepon rahasia yang 'dramatis' terkait serangan terhadap Iran, setelau rencana mereka gagal dalam menggulingkan rezim Iran.

Bahkan digambarkan Channel 12 Israel, bahwa percakapan telepon itu  'panjang dan dramatis' .

Media Israel tersebut mencatat bahwa Netanyahu semakin meragukan negosiasi lebih lanjut dengan Iran akan menghasilkan kesepakatan perdamaian, dan Netanyahu yang harus darah itu memilih ingin melanjutkan serangan militer. 

Sementara itu, Donald Trump ingin mendorong lebih keras untuk mencapai kesepakatan dimana Iran meninggalkan program senjata nuklirnya sebelum kembali berperang.

Diskusi tersebut berlangsung beberapa jam setelah New York Times mengungkapkan bahwa Israel, atas persetujuan Donald Trump memasuki perang itu dengan rencana 'berani', yakni ingin menempatkan mantan presiden Iran garis keras,  Mahmoud Ahmadinejad sebagai pemimpin baru Iran menggantikan  Ayatollah Ali Khamenei yang dibunuhnya lebih dulu itu. 

Namun rencana itu gagal pada hari pertama ketika Ahmadinejad sendiri ternyata terluka akibat serangan Israel terhadap propertinya di Teheran. 

Maksud serangan Israel waktu itu  ingin membebaskan Ahmadinejad dari tahanan rumah. 

Serangan Israel itu menghancurkan pos keamanan di rumah Ahmadinejad. Beberapa hari kemudian, media melaporkan bahwa mantan presiden Iran itu selamat dari pemboman itu, tetapi 'pengawalnya' tewas. 

Para pengawal itu adalah anggota Korps Garda Revolusi Islam Iran rezim yang bertugas melindungi Ahmadinejad,  tetapi sekaligus sebagai pengawas dibawah tahanan rumah. Sejak itu Ahmadinejad tidak terlihat lagi.

Setelah kematian para pengawalnya itu akibat serangan Israel, Ahmadinejad menjadi 'kecewa' dengan rencana perubahan rezim dan memutus komunikasi dengan intelijen Barat.

Ahmadinejad, yang berselisih dengan Ayatollah, dikenal selama masa kepresidenannya dari tahun 2005 hingga 2013 karena menyerukan untuk 'menghapus Israel dari peta'. 

Ia juga mendukung program nuklir Iran, dan dengan kekerasan juga menindas perbedaan pendapat sipil.

Seorang rekan dekat Ahmadinejad mengatakan kepada New York Times bahwa AS menginginkan mantan presiden Iran itu untuk 'memainkan peran yang sangat penting' dalam kepemimpinan negara tersebut. 

AS memandangnya sebagai sosok yang berpotensi setara dengan Delcy Rodriguez, yang merebut kekuasaan di Venezuela setelah pasukan AS menangkap Nicolas Maduro dan sejak itu bekerja sama erat dengan pemerintahan Trump.

Menurut rekannya, Ahmadinejad percaya bahwa serangan itu adalah upaya untuk membebaskannya, dan bahwa Washington memandangnya sebagai sosok yang mampu memimpin Iran.

Pada serangan Israel di hari pertama mereka langsung menghujani rumah Pemimpin Tertinggi Iran, Ayatollah Ali Khamenei  di Teheran yang menyebabkannya meninggal dunia serta menghancurkan pertemuan para pejabat senior Iran. 

Beberapa pejabat Iran yang ikut tewas dalam serangan Israel itu bahkan diidentifikasi oleh Gedung Putih adalah mereka-mereka yang lebih bersedia bernegosiasi dengan AS daripada rezim garis keras saat ini.

Masih belum jelas bagaimana tepatnya Israel dan AS yang  berencana menempatkan Ahmadinejad kembali berkuasa setelah membebaskannya dari tahanan rumah.

Trump mengklaim tujuan memerangi Iran itu difokuskan secara sempit, yakni penghapusan kemampuan nuklir Iran, penyitaan persediaan pengayaan uraniumnya, dan pembongkaran rudal balistik rezim tersebut.

Namun, terungkapnya rencana AS-Israel untuk menempatkan Ahmadinejad telah melemahkan argumen tersebut. Karena ternyata Trump dan Netanyahu juga berusaha menempatkan kepemimpinan Iran yang lebih mudah dikendalikan 

Sebelumnya, New York Times melaporkan bahwa sesaat sebelum melancarkan perang, kabinet Trump memperingatkan Presiden bahwa membunuh Ayatollah Ali Khamenei tidak akan memicu perubahan rezim. 

Direktur CIA, John Ratcliffe menyebut gagasan itu 'konyol', namun Menteri Luar Negeri Marco Rubio membelanya dengan menyebut ungkapan John Ratcliffe itu 'omong kosong'. 

Netanyahu telah meyakinkan Trump dalam sebuah pengarahan pribadi pada 11 Februari 2026 bahwa perang tersebut bisa menggulingkan kepemimpinan Iran, sebuah penilaian yang kemudian disampaikan oleh Ketua Kepala Staf Gabungan, Jenderal Dan Caine kepada Presiden Trump bahwa Israel telah 'melebih-lebihkan'.

Kondisi perang saat ini menunjukkan bahwa Garda Revolusi Islam Iran garis keras justru telah memperketat cengkeramannya di Iran sementara perundingan perdamaian dengan AS tetap buntu. 

Selat Hormuz, yang mengangkut seperlima minyak dunia juga telah ditutup selama berbulan-bulan, menyebabkan kenaikan harga konsumen dan harga bensin di AS.

Penuh Gejolak

Kini muncul pertanyaan baru mengenai upaya Amerila Serikat dan Israel untuk menggulingkan rezim Iran setelah diklaim bahwa Israel ingin menempatkan tokoh populis Mahmoud Ahmadinejad berkuasa.

Masa kepresidenan Ahmadinejad yang penuh gejolak, dari tahun 2005 hingga 2013, ditandai dengan serangan-serangan provokatif terhadap Israel , tetapi ia mengubah citranya menjadi kritikus rezim dan pembela kaum miskin setelah berselisih dengan pemimpin tertinggi Ayatollah Ali Khamenei.

Ada klaim bahwa Israel mengebom sebuah gedung keamanan di dekat rumahnya di Teheran untuk membantunya melarikan diri dari tahanan rumah, tetapi ia merasa tidak nyaman dengan operasi tersebut.

Rencana-rencana tersebut , yang dilaporkan oleh New York Times , secara luas dianggap tidak masuk akal atau sebagai disinformasi yang disebarkan oleh pendukung Ahmadinejad atau dinas intelijen Israel. (*)

Apa Reaksi Anda?

like

dislike

love

funny

angry

sad

wow