Tembus 50 Ton, TPS3R Baru Banyuwangi Siap Gebrak Tata Kelola Sampah Perkotaan
Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Banyuwangi bersama pihak swasta memulai pembangunan Tempat Pengelolaan Sampah Reduce, Reuse, Recycle (TPS3R) Kertosari.
Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Banyuwangi bersama PT Systemiq Lestari Indonesia memulai pembangunan Tempat Pengelolaan Sampah Reduce, Reuse, Recycle (TPS3R) Kertosari. Fasilitas modern berkapasitas 50 ton per hari itu diproyeksikan menjadi penguat sistem pengelolaan sampah kawasan perkotaan Banyuwangi.
TPS3R yang akan dibangun di sekitar Lingkungan Keramat, Kelurahan Kertosari, Kecamatan Banyuwangi. Komitmen itu ditandai dengan kegiatan Ground Breaking TPS3R Kertosari dalam program Banyuwangi Hijau Fase 3, Jumat (3/7/2026).
Prosesi peletakan batu pertama dipimpin langsung Bupati Banyuwangi Ipuk Fiestiandani bersama Wakil Bupati Ir. H. Mujiono, M.Si., didampingi Sekretaris Daerah Dr. Suyanto Waspo Tondo Wicaksono, M.Si., serta jajaran perangkat daerah.
Dalam sambutannya, Bupati Ipuk mengatakan kawasan yang kini dibangun TPS3R sebelumnya hanya menjadi lokasi penumpukan sampah. Kini, tempat tersebut disiapkan menjadi pusat pengelolaan sampah modern yang lebih ramah lingkungan.
"Dulu di sini hanya tempat sampah yang ditumpuk. Hari ini kita melakukan groundbreaking TPS3R Kertosari sebagai bagian dari Banyuwangi Hijau Fase III," ujarnya.
Ipuk menegaskan, keberhasilan pengelolaan sampah tidak hanya ditentukan oleh megahnya bangunan TPS3R. Faktor paling penting justru terletak pada perubahan perilaku masyarakat dalam mengelola sampah sejak dari rumah.
"Boleh kita membangun TPS3R yang megah, tetapi yang paling penting adalah kesadaran masyarakat. Fisik hanya menjadi sarana agar masyarakat mau mengelola sampah dari rumah," tegasnya.
Orang nomor satu di Bumi Blambangan ini juga mengajak masyarakat mulai memilah sampah organik dan anorganik. Menurutnya, keduanya memiliki nilai ekonomi apabila dikelola dengan baik.
"Mari kita kelola sampah dari rumah. Insyaallah sampah non organik bisa menghasilkan nilai ekonomi, sementara sampah organik juga dapat memberi manfaat apabila diolah," ungkap Ipuk.
Lebih lanjut, Ipuk mengingatkan bahwa persoalan sampah bukan hanya menjadi tanggung jawab pemerintah daerah. Seluruh elemen masyarakat memiliki peran yang sama dalam menjaga kebersihan lingkungan.
Bupati Ipuk juga meminta aparatur sipil negara (ASN) menjadi teladan dalam budaya memilah sampah. Dia menilai contoh nyata dari ASN akan mempercepat perubahan perilaku masyarakat.
"Kalau kita meminta masyarakat memulai dari rumah, saya berharap ASN sudah lebih dulu melakukan itu. Pak Sekda, seluruh ASN harus melakukan aksi nyata," tegasnya.
Selama proses pembangunan berlangsung, Ipuk meminta masyarakat memberikan dukungan penuh. Dia menyadari aktivitas konstruksi kemungkinan akan menimbulkan sedikit gangguan, namun seluruh proses dilakukan demi kepentingan jangka panjang masyarakat.
"Saya mohon dukungan masyarakat. Mungkin selama pembangunan ada sedikit gangguan aktivitas warga, tapi mohon dimaklumi karena ini untuk kepentingan kita bersama," ujarnya.
Sementara itu, Pelaksana Tugas Kepala Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Banyuwangi, Ir. Bayu Hadiyanto, ST., M.Si., menyampaikan bahwa pengelolaan sampah di Banyuwangi saat ini telah berjalan sesuai dengan roadmap yang telah disusun pemerintah daerah.
“TPS3R Kertosari dirancang memiliki kapasitas pengolahan hingga 50 ton sampah setiap hari. Kapasitas tersebut diperkirakan mampu melayani kebutuhan pengelolaan sampah di Kecamatan Banyuwangi, Giri, Glagah, hingga Kabat,” kata Bayu. (*)
Editor :
Apa Reaksi Anda?