Tekanan AS Tak Digubris, Uni Eropa Pilih Tak Terlibat di Selat Hormuz
Uni Eropa menolak tekanan Presiden AS Donald Trump untuk mengirim kapal perang ke Selat Hormuz di tengah konflik Iran, memilih tidak terlibat langsung dalam eskalasi militer.
JAKARTA Uni Eropa menegaskan tidak akan tunduk pada tekanan Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, terkait permintaan pengiriman kapal perang ke Selat Hormuz yang saat ini ditutup Iran.
Pernyataan tersebut mengemuka dalam pertemuan 27 menteri luar negeri Uni Eropa di Brussels, menyusul desakan Trump yang mengancam masa depan NATO akan “sangat buruk” jika negara-negara anggotanya tidak membantu mengamankan jalur strategis tersebut.
Selat Hormuz merupakan jalur vital yang dilalui sekitar 20 persen distribusi minyak dunia. Penutupan oleh Iran terjadi setelah eskalasi konflik dengan Amerika Serikat dan Israel sejak 28 Februari 2026, yang memicu serangan besar-besaran dan menewaskan Pemimpin Tertinggi Iran, Ayatollah Ali Khamenei.
Situasi ini berdampak signifikan terhadap pasokan energi global. Sejumlah analis menyebut gangguan tersebut sebagai salah satu yang terbesar dalam sejarah, dengan harga minyak dunia melonjak melampaui 100 dolar AS per barel.
Kepala kebijakan luar negeri Uni Eropa, Kaja Kallas, menyatakan bahwa negara-negara anggota tidak memiliki keinginan untuk memperluas mandat misi angkatan laut Uni Eropa, Aspides, hingga mencakup Selat Hormuz.
“Diskusi yang berkembang adalah memperkuat Aspides karena keterbatasan aset angkatan laut. Namun tidak ada keinginan dari negara anggota untuk memperluas mandat ke Selat Hormuz,” ujar Kallas dalam konferensi pers usai pertemuan di Brussels.
Ia menegaskan, tidak ada negara Uni Eropa yang ingin terlibat aktif dalam konflik tersebut.
Misi Aspides sendiri dibentuk pada Februari 2024 sebagai operasi pertahanan untuk melindungi pelayaran internasional dari serangan kelompok Houthi di Laut Merah dan sekitarnya. Operasi ini mencakup pengamanan kapal, menjaga kebebasan navigasi, serta pemantauan situasi maritim di sejumlah kawasan, termasuk Teluk Aden, Laut Arab, Teluk Oman, hingga Teluk Persia.
Namun, dalam pertemuan terbaru, usulan untuk memperluas cakupan operasi tersebut tidak mendapatkan dukungan.
Sejumlah negara anggota secara terbuka menyatakan penolakan. Menteri Luar Negeri Jerman, Johann Wadephul, menegaskan negaranya tidak akan berpartisipasi. Sementara itu, Menteri Luar Negeri Rumania, Oana-Silvia Toiu, menyatakan fokus negaranya tetap pada penguatan pertahanan laut di kawasan Laut Hitam.
Menteri Luar Negeri Luksemburg, Xavier Bettel, juga menegaskan bahwa Uni Eropa tidak terlibat langsung dalam konflik yang dipicu oleh Amerika Serikat dan Israel.
“Kami dapat berkontribusi melalui satelit dan komunikasi, tetapi bukan dalam bentuk pengerahan pasukan atau peralatan militer,” ujarnya.
Sebelumnya, Jepang dan Australia juga telah menolak permintaan serupa dari Amerika Serikat. Sikap tersebut kini diikuti Uni Eropa yang memilih menahan diri dari keterlibatan militer langsung di Selat Hormuz, meskipun tekanan dari Washington terus menguat. (*)
Apa Reaksi Anda?