“Suamiku Lukaku” Jadi Suara Korban KDRT, Perempuan Diajak Berani Melawan Kekerasan

Komisi Nasional Anti Kekerasan terhadap Perempuan (Komnas Perempuan) mencatat, sepanjang 2025 terdapat lebih dari 376 ribu kasus kekerasan terhadap perempuan, naik sekitar 14 persen dibanding tahun se

Mei 17, 2026 - 12:31
“Suamiku Lukaku” Jadi Suara Korban KDRT, Perempuan Diajak Berani Melawan Kekerasan

BANDUNG - Kasus kekerasan dalam rumah tangga (KDRT) di Indonesia masih menjadi persoalan serius yang terus meningkat dari tahun ke tahun.

Komisi Nasional Anti Kekerasan terhadap Perempuan (Komnas Perempuan) mencatat, sepanjang 2025 terdapat lebih dari 376 ribu kasus kekerasan terhadap perempuan, naik sekitar 14 persen dibanding tahun sebelumnya. Mayoritas kasus terjadi di ranah personal atau rumah tangga, dengan kekerasan fisik, psikis, hingga seksual menjadi bentuk yang paling banyak dialami korban. 

Berbagai faktor disebut menjadi pemicu KDRT, mulai dari tekanan ekonomi, relasi yang tidak sehat, hingga budaya patriarki yang masih menganggap perempuan sebagai pihak yang harus selalu diam dan menerima perlakuan kasar.

Di tengah kondisi tersebut, sejumlah perempuan di Kota Bandung mencoba menyuarakan keberanian melawan kekerasan melalui kegiatan diskusi dan kampanye film Suamiku Lukaku. Film tersebut menjadi medium untuk menggambarkan luka batin para korban KDRT sekaligus mengajak perempuan agar tidak takut menyuarakan penderitaannya.

Salah satu peserta, Ade Rahmi (49), warga Rajawali Ciroyom Bandung, mengaku kisah dalam film tersebut sangat dekat dengan pengalaman hidupnya. Ia pernah menjadi korban kekerasan rumah tangga yang berlangsung bertahun-tahun.

“Dulu saya jadi istri yang pendiam. Tapi karena sering disakiti, akhirnya saya berani mengungkapkan perasaan dan memilih bercerai,” ujar Ade, Minggu (17/05/2026). 

Ia mengaku mengalami kekerasan hampir setiap hari ketika suaminya pulang bekerja. Pukulan dan perlakuan kasar yang diterimanya bahkan meninggalkan trauma mendalam hingga sekarang.

“Sampai benjol-benjol. Kesedihannya masih terasa sampai sekarang,” katanya.

Trauma tersebut membuat Ade belum siap membuka hati untuk kembali menikah. Namun di balik luka yang dialaminya, ia ingin perempuan lain memiliki keberanian untuk melindungi diri sendiri dan anak-anak mereka.

“Untuk ibu-ibu yang merasa disakiti, kita harus berani mengungkapkan perasaan. Yang penting perempuan harus kuat,” tuturnya.

Pesan serupa disampaikan Ifa, salah seorang selebgram dan juga peserta kegiatan lainnya. Ia menilai film Suamiku Lukaku menjadi gambaran nyata tentang kondisi banyak perempuan yang masih mengalami kekerasan di dalam rumah tangga.

Menurut dia, perempuan sejatinya membutuhkan pasangan yang mampu memberi rasa aman dan kasih sayang, bukan justru menghadirkan ketakutan.

“Wanita itu butuh pelindung. Menikah bukan hanya sekadar menikah, tapi perempuan juga berhak disayangi dan dicintai,” katanya.

Ia berharap semakin banyak perempuan berani menyadari bahwa kekerasan dalam rumah tangga bukan sesuatu yang harus ditoleransi.

“Kalau akhirnya hanya disakiti, perempuan juga punya hak untuk menentukan hidupnya,” ujar Ifa.

Sementara itu, Jeane, salah seorang koordinator pemerhati perempuan mengatakan kegiatan tersebut sengaja melibatkan perempuan dari berbagai komunitas dan wilayah di Bandung. Sebagian peserta merupakan penyintas KDRT, sementara lainnya datang untuk memberikan dukungan moral dan solidaritas.

“Kita ingin mengaspirasikan suara perempuan supaya berani melawan KDRT,” katanya.

Jeane menjelaskan, kegiatan serupa tidak hanya dilakukan di Bandung, tetapi juga berlangsung di Solo, Semarang, Surabaya, dan Yogyakarta sebagai bentuk kampanye bersama melawan kekerasan terhadap perempuan.

Menurut dia, masih banyak perempuan yang memilih diam karena takut, malu, atau merasa tidak memiliki dukungan ketika mengalami kekerasan dalam rumah tangga.

Karena itu, ia berharap kehadiran film dan komunitas seperti ini dapat menjadi ruang aman bagi para korban untuk mulai berbicara dan mencari pertolongan.

“Pesan paling penting sebenarnya sederhana, jangan pernah mengasari perempuan. Karena perempuan itu makhluk yang lembut dan harus dihargai,” ujarnya.

Film Suamiku Lukaku sendiri dijadwalkan tayang di bioskop seluruh Indonesia pada 27 Mei mendatang. Sebelumnya, film tersebut telah menggelar pemutaran terbatas di Bandung yang turut dihadiri sejumlah pemain film.

Bagi para penyintas, film ini bukan sekadar tontonan, melainkan cermin dari luka yang selama ini tersembunyi. Namun lebih dari itu, mereka berharap kisah yang diangkat mampu menjadi pengingat bahwa perempuan tidak boleh terus hidup dalam ketakutan dan kekerasan.

“Perempuan berhak bahagia dan hidup tanpa rasa takut,” kata Ade. (*)

Apa Reaksi Anda?

like

dislike

love

funny

angry

sad

wow