SPPG Tulusrejo 2 Kota Malang Pasrah Jika Terima Sanksi Tegas Usai Temuan Belatung di Dua Menu MBG

SPPG Tulusrejo 2 Malang siap terima sanksi usai temuan ulat di menu MBG. Pihaknya perketat pengawasan, investigasi bersama BGN, dan akan terapkan berita acara penerimaan makanan di sekolah.

Maret 7, 2026 - 17:00
SPPG Tulusrejo 2 Kota Malang Pasrah Jika Terima Sanksi Tegas Usai Temuan Belatung di Dua Menu MBG

MALANG TIMES INDONESIA, MALANG – Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) Tulusrejo 2 Kota Malang menyatakan siap menerima sanksi tegas apabila Satgas dan Badan Gizi Nasional (BGN) memutuskan adanya pelanggaran dalam pelaksanaan program Makan Bergizi Gratis (MBG), menyusul temuan belatung pada dua menu makanan berbeda, yakni Puding Stroberi dan Macaroni Schotel yang sempat memicu kekhawatiran Wali Murid.

Kepala SPPG Tulusrejo 2 Kota Malang, Julfa Hanan, menegaskan pihaknya akan mengikuti seluruh prosedur dan keputusan yang diambil oleh pemerintah maupun BGN terkait evaluasi yang sedang dilakukan.

“Kalau itu memang kebijakannya, ya mau tidak mau kita harus mengikuti prosedur yang sudah ada,” ujar Julfa, Sabtu (7/3/2026).

Sebelumnya, Satuan Tugas (Satgas) MBG Pemkot Malang menyatakan akan melakukan evaluasi total terhadap penyedia layanan makanan MBG, termasuk kemungkinan mengeluarkan rekomendasi kepada BGN untuk penjatuhan sanksi.

Menanggapi dua kejadian yang telah terjadi, Julfa mengaku pihaknya langsung meningkatkan pengawasan dan kontrol kualitas di dapur produksi makanan. Ia bahkan mengaku hampir tidak meninggalkan dapur sejak kasus tersebut mencuat.

“Jujur, setelah kejadian saya 24 jam tidak pulang di dapur. Saya melakukan pengawasan sendiri, quality control ditingkatkan, pengawasan di sekolah juga ditingkatkan karena semua kemungkinan bisa terjadi,” ungkapnya.

Julfa menjelaskan, pihaknya juga tengah melakukan investigasi internal bersama BGN untuk memastikan sumber temuan ulat tersebut. Menurutnya, hingga saat ini belum dapat dipastikan apakah temuan tersebut berasal dari proses produksi di dapur SPPG atau dari faktor lain di luar kendali mereka.

“Makanya kita bekerja sama dengan BGN pusat untuk melakukan investigasi. Dari para koordinator wilayah juga ikut membantu proses investigasi,” jelasnya.

Ia juga menegaskan bahwa temuan yang ramai dibicarakan tersebut bukanlah belatung, melainkan ulat buah. Hal itu, menurutnya, juga serupa dengan temuan sebelumnya pada menu puding yang sempat menjadi sorotan.

“Itu bukan belatung, itu ulat buah. Sama seperti di puding kemarin, itu ulat buah, bukan belatung,” katanya.

Julfa menyebutkan ulat tersebut ditemukan berada di luar makaroni yang menjadi bagian dari menu MBG. Selain itu, temuan itu disebut hanya satu dari total 2.319 porsi makanan yang disiapkan pada hari tersebut.

“Dan itu beradanya di luar makaroni, jadi kami perlu investigasi lebih lanjut itu berasalnya dari mana. Ditemukannya juga hanya satu dari 2.319 porsi yang disediakan,” tuturnya.

Ia menambahkan bahwa laporan tersebut diterima setelah makanan dibawa pulang oleh siswa. Padahal, menurutnya, makanan seharusnya sudah diperiksa terlebih dahulu di sekolah sebelum dibawa pulang.

“Ditemukannya juga di rumah. Pada saat di sekolah seharusnya dicek dahulu sebelum dibawa pulang,” katanya.

Meski demikian, pihak SPPG tetap membuka ruang penggantian menu apabila benar ditemukan makanan yang bermasalah. Namun, ia mengaku kesulitan melakukan verifikasi karena tidak ada informasi lengkap dari pelapor.

“Kita juga mengajukan penggantian di hari selanjutnya kalau memang benar-benar ditemukan. Tapi dari pihak PIC tidak memberikan informasi terkait murid beserta kelasnya,” jelasnya.

Setelah dua kejadian tersebut, SPPG Tulusrejo 2 berencana memperketat mekanisme pengawasan, terutama pada saat makanan diterima oleh siswa di sekolah. Sistem berita acara penerimaan makanan juga akan diterapkan untuk memastikan kondisi makanan sebelum dibawa pulang.

“Kita bakal memperketat pada saat siswa menerima paket makanan. Jadi dibuat berita acara penerimaannya, sebelum mereka pulang makanan dipastikan aman,” paparnya.

Selain itu, guru penanggung jawab di sekolah juga akan dilibatkan dalam proses pengecekan kondisi makanan sebelum siswa meninggalkan sekolah.

“Guru-guru penanggung jawab juga harus memastikan kondisi makanan aman atau tidak,” imbuhnya.

Julfa berharap setiap temuan dapat disampaikan melalui mekanisme pelaporan resmi agar dapat segera ditindaklanjuti, bukan langsung disebarkan di media sosial.

“Bukan malah kalau sudah di rumah baru divideo lalu diviralkan. Lebih baik disampaikan supaya bisa langsung kita cek dan evaluasi,” pungkasnya. (*)

Apa Reaksi Anda?

like

dislike

love

funny

angry

sad

wow