SPPG Lowokwaru Tulusrejo 2 Pastikan Menu MBG Ramadan Sesuai Standar Gizi dan Regulasi
PPG Lowokwaru Tulusrejo 2 Kota Malang memastikan menu MBG selama Ramadan telah sesuai standar gizi dan regulasi, dengan komposisi seimbang serta jaminan kebersihan dapur bersertifikat.
MALANG Polemik menu Makan Bergizi Gratis (MBG) berupa makanan kering selama Ramadan memunculkan beragam tanggapan dari orang tua siswa. Menjawab hal tersebut, Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) Lowokwaru Tulusrejo 2 di Jalan Cengger Ayam, Kota Malang, memastikan seluruh menu yang didistribusikan telah melalui perhitungan standar gizi serta menyesuaikan regulasi yang berlaku.
Kepala SPPG Lowokwaru Tulusrejo 2, Juffa Hannan, menegaskan penyusunan menu MBG tidak dilakukan secara sembarangan. Pihaknya berpedoman pada Peraturan Menteri Kesehatan Nomor 28 Tahun 2019 serta Petunjuk Teknis (Juknis) Kepala BGN tentang Program MBG Perubahan Ketiga.
Dalam juknis tersebut, pagu anggaran harian ditetapkan sebesar Rp8 ribu untuk jenjang PAUD, TK hingga SD kelas 3, serta Rp10 ribu untuk siswa kelas 4 SD sampai SMA. Menurut Juffa, batasan anggaran tersebut menjadi dasar dalam menentukan komposisi menu tanpa mengurangi nilai gizi yang dibutuhkan siswa.
“Dengan pagu itu, kami memaksimalkan komposisi karbohidrat, protein, serta vitamin dan serat agar tetap seimbang,” ujar Juffa, Jumat (27/2/2026).
Untuk menu makanan kering selama Ramadan, paket yang dibagikan ke 13 sekolah di wilayah Lowokwaru umumnya berisi roti isi abon atau cokelat sebagai sumber karbohidrat, telur sebagai protein, serta buah seperti pir atau apel untuk memenuhi kebutuhan serat dan vitamin. Penyusunan menu tersebut, kata dia, selalu dikonsultasikan dengan ahli gizi.
Selain memperhatikan komposisi gizi, dapur penyedia MBG di SPPG tersebut juga telah mengantongi Sertifikat Laik Hygiene Sanitasi (SLHS) sebagai jaminan standar kebersihan dan keamanan pangan.
“Kami ingin memastikan kualitas tetap terjaga. Orang tua tidak perlu khawatir,” ungkapnya.
Dari sisi distribusi, SPPG Lowokwaru Tulusrejo 2 membuka kanal komunikasi langsung dengan sekolah. Setiap sekolah memiliki penanggung jawab MBG dan akses langsung kepada kepala SPPG untuk menyampaikan evaluasi.
Menurut Juffa, keluhan yang masuk umumnya berkaitan dengan porsi yang dinilai kurang atau justru berlebih.
“Kalau ada masukan, langsung kami tindak lanjuti. Evaluasi selalu kami lakukan,” tandasnya.(*)
Apa Reaksi Anda?