SMKN di Kabupaten Malang Raih Award Omzet Inkubator Bisnis Dindik Jatim
Kegiatan pembelajaran kewirausahaan melalui teaching factory (TeFa) bagi siswa SMK di Kabupaten Malang mendapatkan apresiasi khusus Dinas Pendidikan Provinsi Jawa Timur.
MALANG - Kegiatan pembelajaran kewirausahaan melalui teaching factory (TeFa) bagi siswa SMK di Kabupaten Malang mendapatkan apresiasi khusus Dinas Pendidikan Provinsi Jawa Timur.
Penghargaan Program Inkubator Bisnis Inklusif SMA/SMK Negeri dan Swasta Kabupaten Malang Tahun 2026. Penghargaan omzet inkubator ini berdasarkan hasil penilaian beberapa aspek yang sudah diterapkan dalam unit usaha.
Penghargaan capaian omzet Inkubator Bisnis dari Dinas Pendidikan Jawa Timur diantaranya diberikan kepada UPJ (Unit Produksi dan Jasa) SMKN 1 Ampelgading dan SMKN 1 Turen Kabupaten Malang.
Kepala SMKN 1 Ampelgading Mutia Farida saat penerima piagam penghargaan trrbaik II Program Inkubator Bisnis Inklusif dari Kepala Dinas Pendidikan Jawa Timur, Arus Agung Paewai kemarin. (Foto: dok).
Penghargaan capaian omzet Terbaik I Inkubator Bisnis 2026 diberikan kepada SMKN 1 Turen, yang diwakili Nabila Putri Mariska, siswi Kelas XI BD-2 dengan Konsentrasi Keahlian Bisnis Digital.
"Penghargaan omzet tertinggi dari kegiatan wirausaha yang dijalankan Nabila adalah produk aneka dimsum dari kedai Jajanan Nabila yang dikelolanya. Ia didampingi guru pembimbing Diyan Widiarti, S.Pd," terang Leli Qodriyah, selaku Kaprog Bisnis Digital SMKN 1 Turen.
Penghargaan perolehan omzet terbaik II juga didapatkan SMKN 1 Ampelgading, untuk kegiatan kewirausahaan UPJ APHP (Agribisnis Pengolahan Hasil Perikanan).
"Alhamdulillah, penghargaan ini diberikan sebagai apresiasi terhadap perolehan omset terbanyak TeFa APHP, yang selama ini melayani pesanan produk kue," terang Kepala SMKN 1 Ampelgading, Mutia Farida, Jum'at (15/5/2026).
Dalam profil inkubator bisnisnya, kata Mutia, Kewirausahaan TeFa SMKN 1 Ampelgading menghadirkan lini produk kuliner yang menggabungkan kebutuhan gizi harian dengan tren gaya hidup atau pola konsumsi moderen.
"Saat ini, usaha kami mencatatkan rata-rata omzet bulanan, berkisar Rp3 juta sampai Rp5 juta," terang Mutia.
Dijelaskan, kegiatan bisnis kewirausahaan yang dikelola melibatkan siswa APHP ini berfokus pada kualitas bahan dan keterjangkauan harga. Produk utamanya, adalah Roti Bun, khusus untuk Program Makan Bergizi Gratis (MBG), Roti Krumpul dan Roti Manis berbagai varian rasa. Produksi untuk Roti MBG dilakukan secara masif sebulan sekali, dengan sistem pre-order.
Sedangkan, untuk produk minuman adalah Minuman Tren berupa Kopi Susu Gula Aren, matcha, serta Thai tea dan aneka minuman kekinian lainnya, yang diracik sesuai selera pasar saat ini.
Untuk roti krumpul dengan mix varia, produksinya juga dilakukan dengan sistem pre order. Sedangkan, untuk roti manis dan minuman diproduksi secara rutin seminggu sekali. Produksinya dilakukan reguler atau rutin.
"Kami juga membuat produk kesehatan. Namanya, Bawang Hitam (Black Garlic). Proses produksinya melalui fermentasi alami selama 14 hari, untuk menghasilkan cita rasa manis-getir. Produk ini punya khasiat antioksidan tinggi bagi kesehatan," terangnya.
Erni Oktafiani, siswi SMKN 1 Ampelgading, yang mewakili menerima penghargaan Inkubator Bisnis Inklusif mengungkapkan, dalam UPJ APHP ia dan sejumlah siswa terlibat langsung dalam produksi dan pemasaran produk olahan pangan.
"Kami belajar, bahwa keberhasilan produk tidak hanya dari hasil akhirnya, tetapi juga dari kerja sama tim, kedisiplinan, dan tanggung jawab selama proses produksi. Di bagian produksi, kami belajar menjaga kebersihan, ketelitian, dan konsistensi agar produk tetap berkualitas," ungkap Erni.
Hal serupa dijalani saat pemasaran produk. Dimana, ia belajar berani berkomunikasi dengan pembeli, menawarkan produk dengan sopan, dan melayani dengan baik.
Ia menambahkan, UPJ SMKN 1 Ampelgading menerima pesanan MBG satu bulan sekali dengan sistem pre-order, dengan jumlah produksi sekitar 3-4 ribu porsi. (*)
Apa Reaksi Anda?