Siap untuk Selamat: Pemprov Jatim Latih Warga Lumajang Hadapi Tsunami

Melalui latihan, masyarakat tidak hanya sekadar tahu apa itu bencana, tetapi mampu mengambil langkah strategis untuk bertahan hidup (survive) sehingga dapat mengurangi dampak yang ditimbulkan.

Mei 2, 2026 - 15:01
Siap untuk Selamat: Pemprov Jatim Latih Warga Lumajang Hadapi Tsunami

LUMAJANG - Budaya sadar bencana merupakan fondasi utama dalam membangun masyarakat yang tangguh menghadapi ancaman bencana. Kesadaran ini tercermin dari pemahaman warga terhadap risiko di lingkungannya dan kesiapan bertindak saat darurat.

Sekretaris Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Provinsi Jawa Timur (Jatim) Andhika Nurrahmad Sudigda, ST., M.Si. mengatakan budaya sadar bencana semestinya melekat sebagai gaya hidup masyarakat.

“Ilmu mengenai evakuasi mandiri ini bisa ditularkan kepada keluarga dan tetangga di lingkungan sekitar,” tegas Andhika pada acara Sosialisasi dan Edukasi Masyarakat di Balai Desa Tegalrejo, Kecamatan Tempursari, Lumajang, Sabtu (26/4/2026).

Sosialisasi ini merupakan rangkaian kegiatan simulasi evakuasi mandiri tsunami yang diadakan untuk memberikan pengetahuan warga setempat tentang gempa dan tsunami. Melalui latihan, masyarakat tidak hanya sekadar tahu apa itu bencana, tetapi mampu mengambil langkah strategis untuk bertahan hidup (survive) sehingga dapat mengurangi dampak yang ditimbulkan.

Peserta simulasi evakuasi mandiri tsunami 2Peserta simulasi evakuasi mandiri tsunami berlarian menyelamatkan diri. Mereka bergerak sesuai alur skenario simulasi dengan pendampingan dari tim pelaksana BPBD Jatim ke zona aman tsunami di lereng Gunung Kursi, Minggu (26/4/2026).

Melalui kegiatan simulasi tersebut, diharapkan dapat memperkuat kerja sama antarwarga, pemerintah dan relawan. Mengingat bahwa bencana adalah urusan semua orang, sehingga dalam situasi bencana tidak ada yang bisa berdiri sendiri, semua harus saling menjaga dan melindungi.

Salah satu langkah strategis untuk memperkuat kesiapsiagaan yang menekankan pada nilai ‘saling peduli satu sama lain’ adalah penerapan buddy system. Melalui sistem ini, setiap warga memiliki pasangan atau kelompok kecil yang saling memantau dan membantu. Terutama bagi lansia, anak-anak, penyandang disabilitas, dan kelompok rentan lainnya. Dengan demikian, tidak ada warga yang tertinggal saat proses evakuasi berlangsung.

Hal ini diutarakan oleh perwakilan Konsulat-Jenderal Australia di Surabaya, Christine Bui, yang turut hadir pula dalam simulasi tsunami, menyampaikan apresiasinya kepada pemerintah provinsi terutama BPBD Provinsi Jatim dan BPBD Kabupaten Lumajang atas kegiatan yang inovatif dan kolaboratif ini.

Peserta simulasi evakuasi mandiri tsunami 3Peserta simulasi evakuasi mandiri tsunami berlarian menyelamatkan diri. Mereka bergerak sesuai alur skenario simulasi dengan pendampingan dari tim pelaksana BPBD Jatim ke zona aman tsunami di lereng Gunung Kursi, Minggu (26/4/2026).

“Dengan adanya kegiatan multipihak seperti ini, dapat menguatkan pemahaman masyarakat dalam merespon situasi gawat darurat,” kata Christine.

Mambaus Suud, Program Partnership Implementation Manager SIAP SIAGA Provinsi Jatim menambahkan, pemerintah desa perlu membuat mekanisme atau strategi evakuasi sampai di tingkat dusun.

“Setiap dusun menunjuk satu orang sebagai penanggung jawab untuk mengidentifikasi kemampuan sumber daya di lokasinya yang bisa dioptimalkan saat evakuasi,” terangnya.

Selain itu, perlu ada koordinasi jelas dan terintegrasi dari berbagai pihak, terutama pemerintah di tingkat desa, kecamatan, hingga kabupaten. Fungsi-fungsi dalam diseminasi peringatan dini dan evakuasi harus diperjelas, dan disediakan area evakuasi alternatif sehingga mengantisipasi adanya kekacauan dalam proses evakuasi itu sendiri.

Kepala Dusun Tegalbanteng, Desa Tegalrejo Yohadi Susanto mengatakan, simulasi tsunami ini bermanfaat besar bagi warga. Mereka menjadi tahu dan dapat belajar langsung dari pakarnya supaya siap menghadapi situasi darurat dan dapat melakukan evakuasi mandiri.

Skenario simulasi diawali dengan terjadinya gempa bumi berkekuatan magnitudo 9,1 di titik 10.13 LS 112.96 BT di kedalaman 10 kilometer pada pukul 09.00 WIB.

Goncangan gempa dirasakan pula di Desa Tegalrejo. Selang 26 menit kemudian, perangkat desa menerima informasi dari Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Stasiun Geofisika Malang bahwa gempa menimbulkan potensi tsunami di Desa Tegalrejo.

Perangkat desa segera mengumumkan adanya gelombang tsunami mendekati area mereka melalui pengeras suara dari musala sekitar desa. Seketika warga keluar rumah dan berlari ke arah zona aman tsunami atau blue zone yaitu di kaki Gunung Kursi.

Peserta yang terlibat dalam simulasi ini berjumlah 300 orang, melibatkan seluruh lapisan masyarakat yang mewakili berbagai jenjang usia, termasuk kelompok perempuan dan kelompok rentan yaitu lansia, penyandang disabilitas, dan anak-anak.

Posisi desa yang memiliki warga sekitar 3.690 jiwa ini dikelilingi pegunungan dan berada di pesisir Selatan Provinsi Jatim. Kondisi geografis yang demikian membuatnya menjadi kawasan paling terpencil di Kabupaten Lumajang.

Menurut Kepala BMKG Stasiun Geofisika Malang, Ricko Kardoso, letak Desa Tegalrejo berhadapan tegak lurus dengan sumber kegempaan yang biasa disebut megathrust. Berdasarkan pemodelan tsunami yang dilakukan, desa ini berpotensi mengalami gempa bumi mencapai 6 MMI (Modified Mercalli Intensity) yang akan merusak bangunan dan rendaman tsunami setinggi 15 meter sejauh kurang lebih 3 kilometer dari garis pantai.

Kondisi seperti itu tentu membutuhkan respon cepat dari masyarakat. Mereka harus mampu melakukan evakuasi mandiri sebab waktu kritis (golden time) untuk menyelamatkan diri ke tempat aman berkisar 20 menit.

Simulasi tsunami kali ini dilaksanakan bersamaan dengan peringatan Hari Kesiapsiagaan Bencana Nasional pada 26 April yang bertajuk “Siap untuk Selamat”.

Kegiatan ini turut didukung oleh Pemerintah Australia melalui Program SIAP SIAGA (Kemitraan Australia-Indonesia untuk Manajemen Risiko Bencana), Forum Koordinasi Pimpinan Kecamatan, Tim Reaksi Cepat BPBD, petugas kesehatan, dan Unit Layanan Disabilitas Penanggulangan Bencana (ULD-PB) Kabupaten Lumajang.

Pada akhirnya, diharapkan melalui inisiatif cerdas seperti ini, masyarakat Jatim akan semakin siap, tangguh, dan mampu merespon ancaman bencana secara cepat dan tepat, sehingga dapat memastikan bahwa semua bisa selamat saat bencana terjadi. (*)

Apa Reaksi Anda?

like

dislike

love

funny

angry

sad

wow