Setelah Hancurkan Gaza dan Genosida Warga Palestina, Israel Kini Menginvasi Suriah

Rabu (25/2/2026) malam, lebih dari 30 kendaraan militer memasuki provinsi Quneitra, Suriah barat daya - pelanggaran baru terhadap kedaulatan negara Suriah.

Februari 26, 2026 - 10:30
Setelah Hancurkan Gaza dan Genosida Warga Palestina, Israel Kini Menginvasi Suriah

JAKARTA Selain menduduki dan menghancurkan Gaza, Israel kini juga menginvasi Suriah.

Rabu (25/2/2026) malam, lebih dari 30 kendaraan militer memasuki provinsi Quneitra, Suriah barat daya -  pelanggaran baru terhadap kedaulatan negara Suriah.

Media lokal melaporkan bahwa konvoi militer Israel yang terdiri lebih dari 30 kendaraan memasuki wilayah Tel al-Ahmar timur dekat desa Ain Ziwan di pedesaan Quneitra selatan.

Media juga mencatat bahwa pasukan tersebut menembakkan suar ke langit di daerah tersebut, tanpa mengklarifikasi apakah mereka kemudian mundur atau masih berada di lokasi tersebut.

Tidak ada komentar langsung dari pemerintah Suriah mengenai serangan tersebut, dan Israel tidak mengumumkan motifnya di balik operasi tersebut.

Pasukan Israel telah melakukan operasi rutin di Suriah sejak jatuhnya rezim Assad, berpatroli di wilayah barat daya dan melancarkan serangan udara terhadap infrastruktur militer Suriah.

Perkembangan ini, seperti dilansir Al jazeera terjadi beberapa jam setelah serangan serupa oleh pasukan Israel yang terdiri dari tiga kendaraan ke pedesaan Quneitra.

Saluran resmi tersebut juga melaporkan bahwa sambil menjajah  pasukan Israel juga melakukan penangkapan terhadap seorang penggembala dan menyita sejumlah ternaknya.

Menurut sumber-sumber lokal , wilayah Suriah selatan – khususnya daerah pedesaan Quneitra dan Daraa baru-baru ini melihat peningkatan pelanggaran Israel.

Pelanggaran itu termasuk serangan darat, penembakan artileri, penangkapan, pendirian pos pemeriksaan, interogasi terhadap orang yang lewat, dan penghancuran tanaman.

Damaskus berulang kali menegaskan komitmennya terhadap Perjanjian Penarikan Pasukan tahun 1974, sementara Israel menyatakan perjanjian tersebut batal setelah jatuhnya rezim Bashar al-Assad pada 8 Desember 2023.

Perkembangan ini terjadi meskipun pada tanggal 6 Januari lalu diumumkan pembentukan mekanisme komunikasi antara Suriah dan Israel di bawah pengawasan Amerika, dengan tujuan mengoordinasikan pertukaran informasi, mengurangi eskalasi militer, dan keterlibatan diplomatik.

Warga Suriah mengatakan bahwa berlanjutnya pelanggaran-pelanggaran yang dilakukan Israel ini telah menghambat upaya memulihkan stabilitas. Juga membatasi kemampuan pemerintah Suriah untuk menarik investasi serta memperbaiki kondisi ekonomi negara. (*)

Apa Reaksi Anda?

like

dislike

love

funny

angry

sad

wow