Sespimti Polri Belajar ke Jatim, Khofifah Paparkan Model Ketahanan Pangan
Gubernur Khofifah memaparkan strategi Jawa Timur menjadi lumbung pangan nasional di hadapan peserta Sespimti Polri, mulai dari sinergi lintas sektor hingga penguatan peternakan dan logistik.
SURABAYA - Gubernur Jawa Timur Khofifah Indar Parawansa memaparkan strategi yang membawa Jawa Timur menjadi lumbung pangan nasional saat menerima kunjungan peserta Sekolah Staf dan Pimpinan Tinggi (Sespimti) Polri Dikreg ke-35 Tahun Anggaran 2026 di Gedung Negara Grahadi, Surabaya, Selasa (14/4/2026).
Dalam forum Praktik Kerja Dalam Negeri (PKDN) tersebut, Khofifah menegaskan bahwa kunci keberhasilan Jawa Timur terletak pada sinergi dan kolaborasi lintas sektor, termasuk dukungan TNI-Polri dalam program ketahanan pangan.
“Apa yang kami lakukan adalah sinergi dan kolaborasi antar elemen. Dalam ketahanan pangan, ada kontribusi TNI-Polri, mulai dari pemetaan luas tambah tanam hingga penguatan irigasi tersier agar distribusi air tepat sasaran,” ujar Khofifah.
Kunjungan ini diikuti para perwira menengah (Kombes) dan perwira tinggi (Brigjen) Polri sebagai bagian dari pembelajaran kepemimpinan dan tata kelola pemerintahan berbasis praktik lapangan.
Khofifah juga menekankan posisi strategis Jawa Timur sebagai “Gerbang Baru Nusantara” yang menopang distribusi logistik nasional, khususnya ke kawasan Indonesia Timur.
“Hampir 80 persen logistik Indonesia Timur disuplai dari Jawa Timur. Karena itu, kami membutuhkan masukan untuk memperkuat sinergi agar semakin produktif,” katanya.
Secara kinerja, Jawa Timur tercatat sebagai produsen padi dan beras terbesar nasional sejak 2020. Selain itu, kontribusi produksi jagung mencapai hampir 30 persen secara nasional.
Menurut Khofifah, capaian tersebut merupakan hasil kerja kolektif lintas sektor. Ia menyebut Jawa Timur sebagai ruang bertumbuh yang mendorong dedikasi bagi masyarakat dan negara.
Diseminasi praktik baik (best practice) ini juga dilakukan melalui program misi dagang antar daerah. Pemprov Jawa Timur mendorong pertumbuhan ekonomi yang inklusif melalui kerja sama lintas wilayah.
Di sektor peternakan, Khofifah menyebut potensi swasembada daging dalam beberapa tahun ke depan, didukung keberadaan Balai Besar Inseminasi Buatan (BBIB) Kementerian Pertanian di Singosari, Malang.
“Melalui BBIB, kami mendapat banyak pelatihan, mulai dari pengawasan kebuntingan hingga inseminasi buatan. Bahkan, kami pernah meminta sembilan gubernur mengirim tim untuk belajar di sini,” ujarnya.
Ia menambahkan, produktivitas peternakan di Jawa Timur juga cukup tinggi, dengan sapi perah di Malang dan Blitar yang mampu menghasilkan hingga 50 liter susu per ekor per hari.
“Jika ini menjadi bagian dari rencana aksi, hasil inseminasi bisa terlihat dalam sembilan bulan, dan dalam dua tahun bobot sapi bisa mencapai 600 kilogram,” jelasnya.
Selain itu, Jawa Timur juga menyumbang sekitar 51–52 persen produksi gula nasional. Khofifah menilai, jika program swasembada gula nasional berjalan optimal, Indonesia berpotensi mencapai kemandirian di sektor tersebut.
Di luar sektor pangan, Pemerintah Provinsi Jawa Timur juga terus meningkatkan indeks pembangunan manusia. Dalam tujuh tahun terakhir, siswa SMA/SMK Jawa Timur tercatat sebagai yang terbanyak diterima di perguruan tinggi negeri tanpa tes, termasuk melalui jalur reguler dan KIP Kuliah.
“Masyarakat Jawa Timur memiliki karakter inovatif, partisipatif, modern, dan toleran. Ini penting untuk menjaga keutuhan NKRI,” ujarnya.
Sementara itu, Ketua Rombongan PKDN Sespimti Polri, Irjen Pol. Jawari, menyebut Jawa Timur sebagai lokasi pembelajaran yang relevan bagi calon pimpinan tinggi Polri, terutama dalam memahami implementasi kepemimpinan transformatif di lapangan.
“Jawa Timur layak menjadi rujukan. Peserta didorong untuk melihat langsung implementasi kepemimpinan dalam menjawab tantangan tugas ke depan,” kata Jawari. (*)
Apa Reaksi Anda?