Serangan Roket Iran di Kuwait Melukai Lebih dari 60 Orang

Lebih dari 60 orang terluka di Kuwait akibat serangan roket dan drone Iran yang menyasar target militer AS. Kemenkes Kuwait mobilisasi layanan medis.

Juni 3, 2026 - 22:01
Serangan Roket Iran di Kuwait Melukai Lebih dari 60 Orang

JAKARTA - Serangan roket dan pesawat nirawak (drone) yang diluncurkan Iran ke wilayah Kuwait mengakibatkan lebih dari 60 orang terluka, termasuk para penumpang dan staf bandara. Informasi tersebut disampaikan oleh Juru Bicara Kementerian Kesehatan Kuwait, Abdullah Al-Sanad, pada Rabu (3/6/2026).

"Sejak jam-jam pertama serangan Iran terhadap Kuwait, sistem pelayanan kesehatan telah dimobilisasi sepenuhnya. Sebanyak 63 korban luka telah dilarikan ke rumah sakit dan tujuh operasi darurat telah dilakukan," kata Al-Sanad.

Al-Sanad menambahkan bahwa para korban luka terdiri atas penumpang serta kru bandara. Mereka mengalami cedera dengan tingkat keparahan yang bervariasi, mulai dari patah tulang, trauma kepala, hingga luka bakar.

Sebelumnya, Korps Garda Revolusi Islam Iran (IRGC) menyatakan telah meluncurkan serangan balasan yang membidik sejumlah target militer Amerika Serikat (AS) di kawasan Timur Tengah.

Kementerian Luar Negeri Iran kemudian mengeklaim bahwa serangan terhadap Pulau Qeshm diluncurkan dari negara-negara tetangga di kawasan tersebut. Pihak Teheran pun menunjuk Kuwait sebagai salah satu pihak yang harus bertanggung jawab.

Merespons agresi tersebut, Kementerian Pertahanan Kuwait menyatakan bahwa sistem pertahanan udara mereka telah berhasil menghalau serangan drone dan rudal yang masuk.

Di sisi lain, Komando Pusat Amerika Serikat (CENTCOM) mengonfirmasi bahwa rudal-rudal Iran memang diluncurkan ke arah Kuwait dan Bahrain. Namun, proyektil-proyektil tersebut berhasil dicegat atau jatuh sebelum mencapai target sasaran.

CENTCOM juga menambahkan bahwa militer AS berhasil menembak jatuh beberapa drone. Tindakan pencegahan ini memastikan tidak ada korban jiwa maupun kerusakan pada personel dan fasilitas militer milik AS.

Eskalasi konflik ini merupakan kelanjutan dari peristiwa pada 28 Februari lalu, saat Amerika Serikat dan Israel meluncurkan serangan udara ke sejumlah target di Iran, termasuk ibu kota Teheran, yang menimbulkan kerusakan serta korban jiwa dari kalangan sipil. Iran kemudian membalas lewat serangan ke wilayah Israel dan fasilitas militer AS di Timur Tengah.

Meski Washington dan Teheran sempat mengumumkan gencatan senjata pada 7 April, pembicaraan tingkat lanjut yang digelar di Islamabad, Pakistan, berakhir buntu tanpa membuahkan kesepakatan. (*)

Apa Reaksi Anda?

like

dislike

love

funny

angry

sad

wow