Semakin Dekat Negara-Negara Teluk Terseret Perang AS-Israel vs Iran
Semakin dekat negara-negara Teluk terseret ke dalam konflik Amerika Serikat-Israel vs Iran, dan mereka telah mengeluarkan ultimatum akan membalas serangan Iran.
JAKARTA Semakin dekat negara-negara Teluk terseret ke dalam konflik Amerika Serikat-Israel vs Iran, dan mereka telah mengeluarkan ultimatum akan membalas serangan Iran.
Bila hal itu terjadi, maka perang di kawasan Teluk yang dipicu agresi bersama Amerika Serikat-Israel terhadap Iran, akan terseret kedalam perang yang dikhawatirkan akan berkepanjangan.
Sementara ini mereka yang tergabung dalam Dewan Kerja Sama Negara-negara Arab Teluk (GCC) menyerukan Iran segera menghentikan serangannya terhadap negara-negara Teluk, karena agresinya tidak bisa dibenarkan.
Dalam sebuah deklarasi, usai pertemuan darurat, para menteri GCC meminta Iran harus segera menghentikan serangannya terhadap negara-negara Teluk.
"Meskipun negara-negara anggota Dewan telah berulang kali meyakinkan Iran bahwa wilayah mereka tidak akan digunakan sebagai landasan peluncuran serangan terhadap Republik Islam, tetapi Iran terus menyerang negara-negara Teluk dan fasilitas infrastruktur sipil. Agresi ini tidak bisa dibenarkan dan harus segera dihentikan untuk memulihkan perdamaian dan keamanan di kawasan tersebut," demikian pernyataan mereka.
Menurut deklarasi GCC itu, Negara-negara Teluk akan mengambil semua tindakan untuk memastikan keamanan mereka sendiri dan melindungi wilayah serta warga negara mereka, termasuk, di antara pilihan lain, kemungkinan tanggapan terhadap agresi Iran.
Menteri luar negeri GCC mengatakan dalam pernyataan bersama, mengingat agresi Iran yang "tidak beralasan" terhadap negara mereka, mereka akan mengambil semua langkah yang diperlukan untuk melindungi keamanan dan stabilitas mereka. Menurut mereka, negara-negara Teluk juga mempertimbangkan kemungkinan untuk membalas agresi Iran.
Sebelumnya, Iran mengatakan, negara mana pun yang digunakan AS untuk menyerang Iran “akan menjadi target yang sah bagi angkatan bersenjata kami,” demikian dilaporkan kantor berita IRNA milik pemerintah.
Namun negara-negara di Timur Tengah itu menyaksikan serangan balasan Iran juga menyasar ke beberapa fasilitas sipil, termasuk daerah pemukiman, bandara, pelabuhan, dan fasilitas layanan.
Uni Emirat Arab misalnya, menuding serangan rudal Iran itu terang-terangan terhadap wilayah Emirat karena menargetkan lokasi sipil, termasuk daerah pemukiman, bandara, pelabuhan, dan fasilitas layanan, dan dinilai merupakan eskalasi yang serius dan tidak bertanggung jawab.
"Serangan-serangan bermusuhan ini merupakan pelanggaran terang-terangan terhadap kedaulatan nasional dan pelanggaran nyata terhadap hukum internasional serta Piagam Perserikatan Bangsa-Bangsa,” demikian bunyi pernyataan tersebut.
Kementerian tersebut menambahkan bahwa langkah itu mencerminkan "sikap tegas dan tak tergoyahkan UEA terhadap setiap agresi" yang mengancam keamanan dan kedaulatannya.
UEA menuduh Iran terus melakukan tindakan bermusuhan dan provokatif yang merusak upaya de-eskalasi dan mendorong kawasan tersebut ke arah yang berbahaya, mengancam perdamaian regional dan internasional, keamanan energi, dan stabilitas ekonomi global.
Karena itu, Minggu kemarin UEA menutup kedutaan besarnya di Teheran, dan menarik staf diplomatiknya dari Iran.
Dubai dan Abu Dhabi telah menghadapi ratusan serangan rudal dan pesawat tak berawak sejak Sabtu, sebagai balasan atas serangan udara AS-Israel.
Meskipun sebagian besar proyektil dilaporkan telah berhasil dicegat, terdapat laporan mengenai korban jiwa dan kerusakan di beberapa wilayah di kedua kota tersebut.
Pangkalan Utama
Inilah fasilitas militer AS yang signifikan di Timur Tengah yang mencakup beberapa pangkalan utama Amerika Serikat:
Bahrain
Bahrain memfasilitasi Amerika Serikat markas besar Armada Kelima Angkatan Laut AS yang mengawasi operasi di Teluk dan laut sekitarnya.
Qatar
Qatar menjadi tuan rumah Pangkalan Udara Al Udeid, pangkalan AS terbesar di Timur Tengah, yang berfungsi sebagai markas besar terdepan untuk Komando Pusat AS dengan sekitar 10.000 pasukan.
Kuwait
Kuwait memfasilitasi lokasi militer penting, termasuk Camp Arifjan, markas besar Angkatan Darat Amerika Serikat Pusat, dan Pangkalan Udara Ali Al Salem, yang terletak di dekat perbatasan Irak. Camp Buehring juga ada dan membantu unit Angkatan Darat AS yang menuju Irak dan Suriah.
Uni Emirat Arab (UEA)
Uni Emirat Arab Memfasilitasi Pangkalan Udara Al Dhafra, merupakan lokasi penting bagi Angkatan Udara Amerika Serikat, membantu misi melawan ISIS dan melakukan pengintaian.
Dubai
Pelabuhan Jebel Ali di Dubai, meskipun bukan pangkalan militer resmi, adalah pelabuhan utama Angkatan Laut Amerika Serikat di wilayah tersebut.
Arab Saudi
Arab Saudi memfasilitasi lebih dari 2.300 tentara Amerika Serikat yang bekerja sama dengan pemerintah Saudi untuk menyediakan pertahanan udara dan rudal. Pangkalan Udara Pangeran Sultan adalah lokasi kunci untuk operasi Angkatan Darat Amerika Serikat.
Yordania
Yordania memfasilitasi Pangkalan Udara Muwaffaq al Salti untuk mendukung Sayap Ekspedisi Udara ke-332 Angkatan Udara Amerika Serukat Pusat untuk misi di Levant.
Amerika Serikat juga mempertahankan kehadirannya di Irak, di Pangkalan Udara Ain Al Asad untuk mendukung pasukan Irak dan misi NATO. Selain itu, Pangkalan Udara Erbil di Irak utara berperan dalam upaya pelatihan dan koordinasi AS di daerah tersebut.
Kini negara-negara Teluk semakin dekat terseret perang di kawasan itu menyusul serangan tiba-tiba yang dilakukan Amerika Serikat-Israel Sabtu lalu terhadap Iran. (*)
Apa Reaksi Anda?