Secangkir Robusta Khas Gombengsari Banyuwangi, Rahasia Rasa Kopi Asam Manis Terbaik se-Jatim
Lewat keunikan rasanya, kopi kebanggaan warga Bumi Blambangan ini resmi dinobatkan sebagai juara pertama Cupping alias uji cita rasa kategori Robusta.
BANYUWANGI - Di bawah rimbunnya hutan lereng Kecamatan Kalipuro, Kabupaten Banyuwangi, para petani kopi di Kelurahan Gombengsari sukses melahirkan sebuah mahakarya.
Perpaduan antara berkah alam dan kedisiplinan proses pengolahan mengungkap rahasia keberhasilan dalam menciptakan kopi Robusta unik bercita rasa asam-manis yang khas.
Lewat keunikan rasa itulah, kopi kebanggaan warga Bumi Blambangan ini resmi dinobatkan sebagai juara pertama Cupping alias uji cita rasa kategori Robusta.
Pengakuan sebagai yang terbaik se-Jatim itu sah mereka bawa pulang dari ajang Jambore Perhutanan Sosial Jawa Timur di Kabupaten Madiun, Sabtu (13/6/2026).
Penghargaan juara pertama kategori Cupping kopi Robusta dalam Jambore ini diserahkan langsung oleh Gubernur Jawa Timur, Khofifah Indar Parawansa, kepada Ketua Gabungan Kelompok Tani Hutan (Gapoktanhut) Gombengsari, Abdurrahman.
Dalam kompetisi ketat yang diikuti oleh puluhan perwakilan Kelompok Usaha Perhutanan Sosial (KUPS) dari dampingan Cabang Dinas Kehutanan (CDK) se-Jawa Timur.
Produk kopi Robusta dari Kelompok Tani Hutan (KTH) Kemuning Asri Gombengsari berhasil mencuri perhatian para juri.
Bagaimana tidak, karakter rasa robusta yang menonjol karena mampu menghadirkan sensasi rasa yang clean, tingkat keasaman yang pas, serta rasa manis alami aftertaste atau usia sesapan yang bertahan lama.
Stand prduk UMKM Kopi Gapoktanhut Gombengsari (FOTO: Istimewa)
Kemenangan ini bukanlah kebetulan. Ketua Gapoktanhut Gombengsari, Abdurrahman, menyebut prestasi ini sebagai buah manis dari perjuangan para petani yang konsisten menjaga kualitas pasca-panen, terutama lewat disiplin metode petik merah yang ketat.
"Kita selalu perlakukan kopi secara khusus," ungkapnya Minggu (14/6/2026).
"Dengan proses natural, mulai petik mereh, sortasi biji ceri, pencucian untuk membersihkan kotoran yang menempel pada biji kopi ceri, perambangan atau pemisahan biji kopi berkualitas dan yang cacat atau yang terserang hama," imbuh Abdurrahman.
Di balik kualitas rasanya yang juara, ada komitmen ramah lingkungan yang dijaga. Tidak sedikit petani Gombengsari kini mulai mengurangi ketergantungan pada pupuk kimiaz demi mempertahankan keaslian rasa kopi lokal.
Upaya ini berjalan mulus karena Gombengsari juga merupakan sentra peternakan kambing. Lewat kreativitas warga, limbah peternakan tersebut disulap menjadi pupuk organik mandiri yang memberi nutrisi alami bagi kebun kopi mereka.
"Karena itu kopi kami memiliki cita rasa lebih ke rasa asam belimbing dan manis karamel dan rasa coklat," jelas Abdurrahman pria yang juga menjabat sebagai Ketua Pokdarwis Gombengsari.
Melalui keberhasilan itu, Gombengsari tidak hanya membawa pulang trofi juara, tetapi juga membuktikan sebuah pesan penting, bahwa pelestarian hutan dan peningkatan kesejahteraan ekonomi warga bisa berjalan beriringan secara harmoni.
Dengan predikat sebagai Robusta terbaik se-Jawa Timur, kopi Gombengsari kini semakin mantap menancapkan taringnya dalam peta komoditas unggulan nasional.
Prestasi ini sekaligus memperkuat posisi Banyuwangi sebagai salah satu daerah penghasil kopi kualitas premium yang ramah lingkungan dan kaya akan cerita di balik setiap cangkirnya..
Di ajang jambore tersebut, Gapoktanhut Gombengsari di bawah dampingan CDK Wilayah Banyuwangi juga memamerkan produk kopi mereka yang telah dikemas apik.
Mengusung label biji kopi pilihan 100 persen natural, produk lansiran KTH Kemuning Asri ini seolah merepresentasikan dedikasi dan kesempurnaan dari seluruh rangkaian proses pengolahan dari hulu sampai hilir. (*)
Apa Reaksi Anda?