Sampah Organik Jadi Hambatan, Pakar UGM Ungkap Tantangan Besar PSEL di Indonesia

Dominasi sampah organik basah jadi tantangan PSEL di Universitas Gadjah Mada. Ahli tekankan pentingnya pemilahan agar efisiensi listrik meningkat dan biaya tak membengkak.

April 27, 2026 - 23:06
Sampah Organik Jadi Hambatan, Pakar UGM Ungkap Tantangan Besar PSEL di Indonesia
YOGYAKARTA -

Ambisi pemerintah mengembangkan pembangkit listrik dari sampah (PSEL) menghadapi tantangan serius. Dominasi sampah organik basah di Indonesia dinilai menjadi penghambat utama efisiensi produksi energi listrik.

Pemerintah melalui Kementerian Lingkungan Hidup terus mendorong pembangunan Proyek Pengolahan Sampah menjadi Energi Listrik (PSEL) sebagai solusi strategis pengelolaan sampah nasional. Namun, implementasinya di Indonesia tidak semudah yang dibayangkan.

Guru Besar Departemen Teknik Kimia, Fakultas Teknik Universitas Gadjah Mada, Prof. Wiratni, S.T., M.T., Ph.D., IPM, mengungkapkan bahwa karakteristik sampah domestik di Indonesia yang didominasi sampah organik basah menjadi kendala utama.

Menurutnya, teknologi insinerasi yang digunakan dalam PSEL sangat bergantung pada tingkat kekeringan sampah. Kandungan air yang tinggi membuat proses pembakaran tidak optimal dan menurunkan efisiensi energi.

“Semakin tinggi kadar air dalam sampah, semakin rendah energi listrik yang dihasilkan per ton,” ujarnya, Senin (27/4/2026).

Ia menjelaskan, jika sampah yang masuk ke fasilitas PSEL belum terpilah dan masih mengandung banyak air, maka diperlukan proses tambahan seperti pengeringan. Hal ini berdampak pada meningkatnya biaya investasi dan operasional.

“Proses pengeringan, baik secara mekanis maupun termal, akan menambah kebutuhan energi dan memperbesar biaya pengolahan,” tegasnya.

Terkait kekhawatiran berkurangnya pasokan sampah akibat meningkatnya kesadaran masyarakat dalam pengelolaan limbah, Wiratni menilai hal tersebut tidak menjadi masalah jika sistem pemilahan berjalan baik.

Menurutnya, sampah yang sudah terpilah dan lebih kering justru memiliki nilai kalor lebih tinggi, sehingga mampu menghasilkan energi listrik lebih efisien meski dalam jumlah lebih sedikit.

Ia juga menekankan pentingnya peran pengolahan sampah berbasis komunitas, seperti Tempat Pengolahan Sampah Reduce, Reuse, Recycle (TPS3R), sebagai garda depan dalam proses pemilahan.

Sampah organik, lanjutnya, dapat diolah menjadi kompos atau maggot di tingkat komunitas, sementara sampah anorganik yang memiliki nilai kalor tinggi dapat dimanfaatkan sebagai bahan bakar PSEL.

“Pendekatan ini tidak hanya meningkatkan efisiensi PSEL, tetapi juga memberikan nilai ekonomi tambahan bagi masyarakat,” jelasnya.

Lebih jauh, Wiratni mengingatkan bahwa keberhasilan PSEL tidak hanya bergantung pada teknologi, tetapi juga perubahan perilaku masyarakat.

“Tanpa keterlibatan aktif masyarakat dan rasa memiliki terhadap sistem pengelolaan sampah, teknologi apa pun tidak akan berjalan optimal dalam jangka panjang,” paparnya. (*)

Apa Reaksi Anda?

like

dislike

love

funny

angry

sad

wow