Ribuan Warga Padati Pawai Lampion Imlek 2577 Singkawang

Kota Singkawang kembali memukau dengan Pawai Lampion Imlek 2577 Kongzili. Di tengah suasana Ramadhan, festival ini menjadi simbol toleransi dan harapan baru yang berdampak positif pada ekonomi UMKM se

Maret 2, 2026 - 20:30
Ribuan Warga Padati Pawai Lampion Imlek 2577 Singkawang

PONTIANAK Gemerlap cahaya lampion menyulap ruas-ruas jalan utama Kota Singkawang, Kalimantan Barat, menjadi lautan warna pada Senin malam. Ribuan warga tumpah ruah menyaksikan Pawai Lampion Imlek 2577 Kongzili yang menampilkan ratusan mobil hias, atraksi naga, barongsai, tarian kelabang, hingga kemegahan marching band.

Kemeriahan ini dibuka langsung secara simbolis melalui prosesi pemukulan Loku di panggung utama depan Kantor Wali Kota Singkawang oleh Wali Kota Tjhai Chui Mie bersama Wakil Wali Kota Muhammadin.

"Festival lampion ini bukan sekadar arak-arakan dan hiasan penerang kota, tetapi simbol harapan baru, semangat dan doa kami warga Tionghoa agar menjadi lebih baik di tahun baru ini," ujar Tjhai Chui Mie di sela-sela prosesi pembukaan.

Rute Kemegahan dan Antusiasme Warga

Iring-iringan pawai yang ikonik ini mengambil rute mulai dari Jalan Firdaus, melintasi Jalan Diponegoro, Jalan Niaga, Jalan Budi Utomo, hingga berakhir di Happy Building. Sepanjang jalur tersebut, masyarakat tampak antusias mengabadikan momen estetis kendaraan hias yang memancarkan cahaya merah khas Imlek.

Bagi Wali Kota Tjhai Chui Mie, lampion memiliki makna filosofis yang mendalam bagi masyarakat Tionghoa, yakni sebagai representasi doa dan optimisme. Ia berharap perayaan ini menjadi pemantik semangat bagi seluruh elemen masyarakat untuk membangun Singkawang yang lebih maju dan harmonis.

Harmoni Imlek dan Ramadhan

Ada yang istimewa pada perayaan tahun ini, di mana momentum Imlek dan Cap Go Meh bertepatan dengan suasana bulan suci Ramadhan. Tjhai Chui Mie menilai fenomena ini sebagai potret nyata toleransi yang sudah mendarah daging di Singkawang.

"Imlek mengajarkan harapan baru dan Ramadhan mengajarkan kesabaran, ketulusan, serta kepedulian. Semoga dua momentum ini berpadu menjadi cahaya kekuatan bagi Singkawang yang semakin kuat bersatu dalam keberagaman dan menjunjung tinggi toleransi," ungkapnya penuh harap.

Dongkrak Ekonomi dan UMKM

Selain nilai budaya, perpaduan Festival Imlek, Cap Go Meh, dan Ramadhan Fair tahun ini memberikan dampak signifikan pada sektor ekonomi kreatif. Lonjakan pengunjung yang datang dari berbagai daerah maupun mancanegara menjadi berkah tersendiri bagi para pelaku UMKM lokal.

"Kita lihat sejak dibuka, Festival Imlek dan Cap Go Meh serta Ramadhan Fair benar-benar dipadati pengunjung. Tentu ini meningkatkan ekonomi dan pariwisata kita, khususnya bagi pelaku UMKM," pungkas Tjhai Chui Mie.

Pawai ini sekaligus mempertegas posisi Singkawang sebagai destinasi wisata budaya Tionghoa terbesar di Indonesia yang mampu menyatukan kemeriahan festival dengan kekhidmatan religi. (*)

Apa Reaksi Anda?

like

dislike

love

funny

angry

sad

wow