Resistensi Albendazole pada Cacing Domba, Sinyal Waspada Peternakan Indonesia

Albendazole selama bertahun-tahun menjadi salah satu obat cacing yang akrab digunakan peternak domba di Indonesia.

Juni 12, 2026 - 19:00
Resistensi Albendazole pada Cacing Domba, Sinyal Waspada Peternakan Indonesia

MALANG - Albendazole selama bertahun-tahun menjadi salah satu obat cacing yang akrab digunakan peternak domba di Indonesia. Obat dari golongan benzimidazole ini dikenal praktis, relatif mudah diperoleh, dan banyak dipakai untuk mengendalikan infeksi cacing saluran pencernaan. Namun, sejumlah temuan ilmiah menunjukkan bahwa parasit cacing pada domba mulai tidak selalu merespons pengobatan tersebut sebagaimana yang diharapkan.

Secara ilmiah, persoalan ini disebut resistensi antelmintik. Artinya, parasit cacing memiliki kemampuan bertahan hidup setelah diberikan obat yang sebelumnya efektif. World Organisation for Animal Health menjelaskan bahwa resistensi antelmintik merupakan kemampuan genetik parasit untuk bertahan dari pengobatan, lalu tetap menginfeksi kembali kawanan ternak apabila populasi parasit resisten makin banyak.

Isu ini penting karena infeksi nematoda gastrointestinal pada domba bukan sekadar persoalan kesehatan hewan. Cacing seperti Haemonchus contortus, Trichostrongylus spp., dan Oesophagostomum spp. dapat menurunkan bobot badan, menghambat produktivitas, dan meningkatkan risiko kematian, terutama pada ternak muda. Dalam literatur veteriner Indonesia, Haemonchus contortus bahkan disebut sebagai salah satu cacing paling penting pada domba dan kambing karena dampaknya terhadap penurunan bobot badan dan mortalitas.

Kewaspadaan terhadap resistensi albendazole di Indonesia bukan hal yang sepenuhnya baru. Laporan Balai Penelitian Veteriner menyebut resistensi terhadap albendazole pernah dilaporkan pada peternakan domba di Bogor. Publikasi tersebut juga menekankan pentingnya deteksi dini menggunakan metode seperti Fecal Egg Count Reduction Test atau FECRT, Egg Hatch Assay atau EHA, serta Larval Development Assay atau LDA agar strategi pengendalian dapat dilakukan lebih tepat.

Sejumlah riset berikutnya memperkuat sinyal tersebut. Kajian di Jurnal Ilmu Pertanian Indonesia terhadap anakan domba di Bogor yang terinfeksi Ostertagia menunjukkan bahwa albendazole, baik setengah dosis maupun dosis penuh, tidak efektif melawan parasit tersebut dalam uji yang dilakukan. Studi itu menggunakan pengamatan penurunan jumlah telur cacing pada feses setelah pemberian obat.

Temuan serupa muncul dalam penelitian IPB University mengenai efektivitas ivermectin dan albendazole pada domba dengan sistem pemeliharaan berbeda. Penelitian tersebut melaporkan bahwa nematoda gastrointestinal menunjukkan resistensi terhadap albendazole dosis penuh, baik pada domba yang dikandangkan maupun yang digembalakan. Kombinasi obat disebut lebih efektif dibanding pemberian albendazole tunggal, meskipun penggunaannya tetap harus berada dalam pertimbangan dokter hewan dan prinsip kehati-hatian.

Data yang lebih baru juga memperlihatkan masalah ini belum selesai. Sebuah penelitian pada 220 domba dari tujuh bangsa yang dipelihara intensif di Kabupaten Bogor dan rutin menerima antelmintik golongan benzimidazole menemukan bahwa seluruh kelompok bangsa domba yang diuji menunjukkan resistensi terhadap albendazole berdasarkan FECRT. Dalam penelitian itu, larva Haemonchus spp. menjadi kelompok larva strongyle yang paling banyak tumbuh dari sampel feses sebelum dan sesudah perlakuan.

Fenomena ini tidak berarti albendazole sepenuhnya “tidak berguna”. Namun, ia menjadi tanda bahwa penggunaan obat cacing tidak bisa lagi dilakukan secara seragam, berulang, dan tanpa pemeriksaan. Resistensi biasanya tumbuh perlahan melalui tekanan seleksi: cacing yang peka mati setelah pengobatan, sedangkan cacing yang memiliki kemampuan bertahan akan tetap hidup dan meneruskan sifat tersebut pada generasi berikutnya. Jika pola pemberian obat tidak berubah, populasi cacing resisten dapat semakin dominan di kandang maupun padang penggembalaan.

Dalam praktik peternakan rakyat, risiko resistensi dapat meningkat ketika obat diberikan tanpa menimbang bobot badan, dosis dikurangi agar lebih hemat, pengobatan dilakukan terlalu sering, atau jenis obat yang sama dipakai terus-menerus. Faktor lain yang kerap diabaikan adalah tidak adanya pemeriksaan feses sebelum dan sesudah pengobatan, sehingga peternak tidak mengetahui apakah obat benar-benar bekerja atau hanya memberi kesan sementara.

Karena itu, pengendalian kecacingan pada domba perlu bergeser dari pola “obati semua ternak secara rutin” menuju pendekatan berbasis diagnosis. FECRT menjadi salah satu metode penting untuk menilai efektivitas obat di lapangan dengan membandingkan jumlah telur cacing dalam feses sebelum dan sesudah pengobatan. Pedoman World Association for the Advancement of Veterinary Parasitology menyebut FECRT tetap menjadi metode utama untuk menilai efikasi antelmintik di lapangan, termasuk untuk diagnosis resistensi.

Langkah pencegahan juga tidak hanya bertumpu pada obat. Peternak perlu memperbaiki manajemen kandang, menjaga kebersihan alas dan tempat pakan, mengelola kepadatan ternak, memutus siklus hidup cacing melalui rotasi penggembalaan, serta melakukan pencatatan obat yang digunakan. World Organisation for Animal Health menekankan bahwa penggunaan antelmintik yang bijak perlu dikombinasikan dengan pendekatan non-kimia untuk mengurangi tekanan seleksi resistensi dan mempertahankan efektivitas obat yang masih tersedia.

Bagi peternakan domba di Indonesia, isu resistensi albendazole adalah peringatan dini. Pengobatan kecacingan tidak cukup hanya mengandalkan kebiasaan lama atau rekomendasi dari mulut ke mulut. Diperlukan kolaborasi antara peternak, dokter hewan, penyuluh, laboratorium, perguruan tinggi, dan pemerintah daerah agar deteksi resistensi dapat dilakukan lebih luas.

Jika tidak ditangani, resistensi cacing terhadap obat cacing berpotensi menjadi beban ekonomi yang diam-diam membesar: domba tetap kurus meski sudah diobati, biaya pengobatan meningkat, produktivitas turun, dan risiko kematian ternak muda bertambah. Sebaliknya, bila penggunaan obat dilakukan secara tepat, berbasis pemeriksaan, dan disertai perbaikan manajemen pemeliharaan, peternak masih memiliki peluang besar untuk menjaga kesehatan domba sekaligus mempertahankan keberlanjutan usaha ternaknya. (*)

Apa Reaksi Anda?

like

dislike

love

funny

angry

sad

wow