Ratusan Siswa SLB se-Bandung Raya Khatamkan Al-Qur’an Braille dalam Kegiatan Ramadan Inklusif

Ratusan siswa SLB se-Bandung Raya berhasil mengkhatamkan Al-Qur’an Braille dalam kegiatan Ramadan inklusif di Bandung. Acara ini menjadi bukti komitmen pendidikan Islam yang ramah disabilitas.

Maret 14, 2026 - 15:00
Ratusan Siswa SLB se-Bandung Raya Khatamkan Al-Qur’an Braille dalam Kegiatan Ramadan Inklusif

JAKARTA Suasana haru dan penuh semangat Ramadan terasa di Masjid Ibnu Umi Maktum, SLB Negeri A Pajajaran, Kota Bandung. Ratusan siswa Sekolah Luar Biasa (SLB) se-Bandung Raya bersama guru Pendidikan Agama Islam (PAI) serta anggota Persatuan Tunanetra Indonesia (PERTUNI) Kota Bandung mengikuti kegiatan khotmul Qur’an, tausiyah, dan buka puasa bersama, Jumat (13/3/2026).

Kegiatan tersebut menjadi momentum spiritual yang istimewa karena para peserta tunanetra berhasil menuntaskan khataman Al-Qur’an menggunakan huruf Braille.

Direktur Pendidikan Islam, M. Munir, menjelaskan bahwa Direktorat Pendidikan Agama Islam memiliki tugas melakukan pembinaan di bidang pendidikan agama Islam pada berbagai jenjang sekolah, mulai dari PAUD, TK, SD, SMP, SMA hingga SMK, termasuk di Sekolah Luar Biasa (SLB).

“Kegiatan ini melibatkan 300 siswa-siswi sekolah luar biasa, 200 guru PAI dari SLB se-Bandung Raya, serta 200 anggota PERTUNI. Siswa-siswi SLB adalah anak-anak yang diberi keistimewaan oleh Allah SWT sehingga perlu mendapatkan perhatian khusus,” ujar M. Munir dalam keterangan persnya, Sabtu (14/3/2026).

Ia juga menyampaikan bahwa para guru PAI di SLB memiliki dedikasi luar biasa dalam mendampingi siswa berkebutuhan khusus. Sebagian dari mereka bahkan juga merupakan penyandang disabilitas.

“Guru-guru PAI pada SLB ada yang difabel dan ada pula yang tidak. Mereka sangat istimewa karena memiliki kesabaran, kekuatan, dan kapabilitas ekstra dalam mendampingi serta mendidik siswa-siswi SLB,” tambahnya.

Sementara itu, Direktur Jenderal Pendidikan Islam, Amien Suyitno, memberikan apresiasi kepada para siswa tunanetra, guru, serta pembina dari PERTUNI yang telah membimbing hingga para siswa mampu membaca dan mengkhatamkan Al-Qur’an Braille.

“Kita boleh saja tidak melihat dengan mata, tetapi kita tidak boleh buta dalam hati dan semangat,” ujar Amien saat memberikan motivasi kepada para siswa.

Menurutnya, membaca Al-Qur’an dengan huruf Braille bukanlah hal mudah. Bahkan bagi mereka yang dapat melihat pun, membaca Al-Qur’an dengan baik membutuhkan latihan dan ketekunan.

Karena itu, keberhasilan para siswa tunanetra mengkhatamkan Al-Qur’an menjadi prestasi spiritual sekaligus bukti ketekunan dan kesungguhan dalam belajar.

Amien juga menegaskan bahwa tidak boleh ada perbedaan layanan pendidikan antara anak berkebutuhan khusus dan anak pada umumnya.

“Sebagaimana arahan Bapak Menteri, seluruh anak Indonesia harus mendapatkan layanan pendidikan yang setara tanpa diskriminasi,” tegasnya.

Ia menambahkan bahwa Kementerian Agama terus mengembangkan program madrasah inklusi sebagai bagian dari upaya memperluas akses pendidikan bagi anak berkebutuhan khusus.

Pada kesempatan yang sama, Penasihat Dharma Wanita Persatuan (DWP) Kementerian Agama, Helmy Halimatul Udhma, menegaskan bahwa khataman Al-Qur’an oleh siswa tunanetra bukan sekadar kegiatan seremonial.

“Ini bukan hanya capaian spiritual, tetapi juga bukti bahwa cahaya Al-Qur’an dapat diakses oleh siapa pun tanpa batas. Inklusi bukan sekadar konsep, melainkan komitmen nyata agar setiap anak bangsa memiliki kesempatan yang sama dalam pendidikan dan pengembangan diri,” ujarnya.

Ia juga menyampaikan apresiasi kepada para guru SLB, guru PAI, serta anggota PERTUNI Kota Bandung yang terus memberikan layanan pendidikan dengan penuh dedikasi.

Menurutnya, pendidikan inklusif membutuhkan kolaborasi kuat antara keluarga, guru, dan masyarakat. Dukungan tersebut akan membantu anak berkebutuhan khusus tumbuh menjadi pribadi yang percaya diri, mandiri, dan bermanfaat bagi sesama.

Sebagai bentuk komitmen menghadirkan layanan keagamaan yang inklusif, Kementerian Agama terus mengembangkan berbagai program strategis. Di antaranya penguatan kompetensi guru PAI di SLB, penyediaan Al-Qur’an Braille, pengembangan media pembelajaran audio dan digital, serta pelatihan penyuluh agama agar mampu memberikan layanan keagamaan yang ramah disabilitas.

Kegiatan tersebut ditutup dengan tausiyah Ramadan oleh Staf Khusus Menteri Agama, Farid Saenong, serta dilanjutkan dengan buka puasa bersama yang diikuti para siswa SLB, guru, dan para undangan.(*)

Apa Reaksi Anda?

like

dislike

love

funny

angry

sad

wow